0
PROTEIN
P R O T E I N
LOGO
BAGIAN BIOKIMIA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
PENDAHULUAN
Protein adalah salah satu
bio-makromolekul yang penting perananya dalam makhluk hidup. Fungsi dari
protein itu sendiri secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kelompok
besar, yaitu sebagai bahan struktural
dan sebagai mesin yang bekerja pada
tingkat molekular. Apabila tulang dan kitin adalah beton, maka protein struktural
adalah dinding batu-batanya. Beberapa protein struktural, fibrous protein, berfungsi sebagai pelindung, sebagai contoh
α- dan β-keratin yang terdapat pada kulit, rambut, dan kuku. Sedangkan
protein struktural lain ada juga yang berfungsi sebagai perekat, seperti kolagen.
Protein dapat memerankan fungsi sebagai bahan
structural karena seperti halnya polimer lain, protein memiliki rantai yang
panjang dan juga dapat mengalami cross-linking
dan lain-lain. Selain itu protein juga dapat berperan sebagai biokatalis untuk reaksi-reaksi kimia dalam sistem makhluk hidup. Makromolekul ini
mengendalikan jalur dan waktu metabolisme yang kompleks untuk menjaga
kelangsungan hidup suatu organisma. Suatu sistem metabolisme akan terganggu
apabila biokatalis yang berperan di dalamnya mengalami kerusakan.
DEFENISI DAN CIRI-CIRI
Istilah protein diperkenalkan pada
tahun 1830-an oleh pakar kimia
Belanda bernama Mulder, yang
merupakan salah satu dari orang-orang pertama yang mempelajari kimia dalam
protein secara sistematik. Ia secara tepat menyimpulkan peranan inti dari
protein dalam sistem hidup dengan menurunkan nama dari bahasa Yunani proteios, yang berarti “bertingkat pertama”. Protein merupakan makromolekul
yang menyusun lebih dari separuh bagian dari sel. Protein menentukan ukuran dan struktur sel, komponen utama dari sistem
komunikasi antar sel serta sebagai katalis berbagai reaksi biokimia di dalam
sel. Karena itulah sebagian besar
aktivitas penelitian biokimia tertuju pada protein khususnya hormon, antibodi dan enzim. Semua jenis
protein terdiri dari rangkaian dan kombinasi dari 20 asam amino. Setiap jenis
protein mempunyai jumlah dan urutan asam amino yang khas. Di dalam sel, protein
terdapat baik pada membrane plasma maupun membran internal yang menyusun
organel sel seperti mitokondria, retikulum endoplasma, nukleus dan badan golgi dengan fungsi
yang berbeda-beda tergantung pada tempatnya. Protein-protein yang terlibat
dalam reaksi biokimia sebagian besar berupa enzim banyak terdapat di dalam sitoplasma
dan sebagian terdapat pada kompartemen dari organel sel. Protein merupakan
kelompok biomakromolekul yang sangat heterogen. Ketika berada di luar makhluk
hidup atau sel, protein sangat tidak stabil. Protein merupakan komponen utama
bagi semua benda hidup termasuk mikroorganisme, hewan dan tumbuhan. Protein
merupakan rantaian gabungan 22 jenis
asam amino. Protein ini memainkan berbagai
peranan dalam benda hidup dan bertanggungjawab untuk fungsi dan ciri-ciri benda
hidup
Keistimewaan lain dari protein ini
adalah strukturnya yang mengandung N
(15,30-18%), C (52,40%), H
(6,90-7,30%), O (21-23,50%), S (0,8-2%), disamping C, H, O (seperti juga
karbohidrat dan lemak), dan S kadang-kadang P, Fe dan Cu (sebagai senyawa kompleks
dengan protein). Dengan demikian maka salah satu cara terpenting yang cukup
spesifik untuk menentukan jumlah protein secara kuantitatif adalah dengan penentuan kandungan N yang ada dalam bahan
makanan atau bahan lain.
Ciri-ciri Protein
Protein diperkenalkan sebagai
molekul makro pemberi keterangan, karena urutan asam amino dari protein
tertentu mencerminkan keterangan genetik yang terkandung dalam urutan basa dari
bagian yang bersangkutan dalam DNA yang mengarahkan biosintesis protein. Tiap
jenis protein ditandai ciri-cirinya oleh:
1.
Susunan kimia yang khas
Setiap
protein individual merupakan senyawa murni
2.
Bobot molekular yang khas
Semua
molekul dalam suatu contoh tertentu dari protein murni mempunyai bobot molekular
yang sama. Karena molekulnya yang besar maka protein mudah sekali mengalami
perubahan fisik ataupun aktivitas biologisnya.
3.
Urutan asam amino yang khas
Urutan
asam amino dari protein tertentu adalah terinci secara genetik. Akan tetapi,
perubahan-perubahan kecil dalam urutan asam amino dari protein tertentu (Page,
D.S. 1997)
FUNGSI DAN PERANAN PROTEIN
Protein memegang peranan penting
dalam berbagai proses biologi. Peran-peran tersebut antara lain:
1. Katalisis enzimatik
Hampir semua reaksi kimia dalam
sistem biologi dikatalisis oleh
enzim dan hampir semua enzim adalah
protein.
2. Transportasi dan penyimpanan
Berbagai molekul kecil dan ion-ion
ditansport oleh protein spesifik.
Misalnya transportasi oksigen di
dalam eritrosit oleh hemoglobin
dan transportasi oksigen di dalam
otot oleh mioglobin.
3. Koordinasi gerak
Kontraksi otot dapat terjadi karena
pergeseran dua filamen protein.
Contoh lainnya adalah pergerakan
kromosom saat proses mitosis
dan pergerakan sperma oleh flagela.
4. Penunjang mekanis
Ketegangan kulit dan tulang
disebabkan oleh kolagen yang
merupakan protein fibrosa.
5. Proteksi imun
Antibodi merupakan protein yang sangat
spesifik dan dapat
mengenal serta berkombinasi dengan
benda asing seperti virus,
bakteri dan sel dari organisma lain.
6. Membangkitkan dan menghantarkan impuls saraf
Respon sel saraf terhadap rangsang
spesifik diperantarai oleh oleh
protein reseptor. Misalnya rodopsin
adalah protein yang sensitif
terhadap cahaya ditemukan pada sel
batang retina. Contoh lainnya
adalah protein reseptor pada
sinapsis.
7. Pengaturan pertumbuhan dan diferensiasi
Pada organisme tingkat tinggi,
pertumbuhan dan diferensiasi diatur
oleh protein faktor pertumbuhan.
Misalnya faktor pertumbuhan
saraf mengendalikan pertumbuhan
jaringan saraf. Selain itu,
banyak hormon merupakan protein
(Santoso, H. 2008)
1.3. Jenis-jenis Protein
a. Kolagen, protein struktur yang
diperlukan untuk membentuk
kulit, tulang dan ikatan tisu.
b Antibodi, protein sistem pertahanan yang melindungi badan
daripada serangan penyakit.
c Dismutase superoxide, protein yang membersihkan darah
kita.
d Ovulbumin, protein simpanan yang memelihara badan.
e Hemoglobin, protein yang berfungsi
sebagai pembawa
oksigen
f Toksin, protein racun yang digunakan untuk membunuh
kuman.
g Insulin, protein hormon yang mengawal
aras glukosa dalam
darah.
h Tripsin, protein yang mencernakan makanan protein.
1.4. Sumber Protein
Protein lengkap yang mengandung semua
jenis asam amino
esensial, ditemukan dalam daging, ikan, unggas, keju, telur, susu,
produk sejenis Quark, tumbuhan
berbiji, suku polong-polongan, dan
kentang.
Protein tidak lengkap ditemukan dalam sayuran, padi-padian,
dan polong-polongan.
Sloane, E. 2004. Anatomi dan
Fisiologi untuk Pemula. Penerbit
Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Studi dari Biokimiawan USA Thomas
Osborne Lafayete Mendel,
Profesor untuk biokimia di Yale,
1914, mengujicobakan protein
konsumsi dari daging dan tumbuhan
kepada kelinci. Satu grup kelincikelinci
tersebut diberikan makanan protein
hewani, sedangkan grup
yang lain diberikan protein nabati.
Dari eksperimennya didapati bahwa
kelinci yang memperoleh protein
hewani lebih cepat bertambah
beratnya dari kelinci yang
memperoleh protein nabati. Kemudian studi
selanjutnya, oleh McCay dari Universitas
Berkeley menunjukkan
bahwa kelinci yang memperoleh
protein nabati, lebih sehat dan hidup
dua kali lebih lama (Anonim. 2008.
Protein. (http://www.wikipedia.com)
diakses tanggal 12 Oktober 2008).
Kualitas protein didasarkan pada
kemampuannya untuk
menyediakan nitrogen dan asam amino
bagi pertumbuhan, pertahanan
dan memperbaiki jaringan tubuh.
Secara umum kualitas protein
tergantung pada dua karakteristik
berikut:
1. Digestibilitas protein (untuk dapat digunakan oleh tubuh, asam
amino harus dilepaskan dari komponen
lain makanan dan dibuat
agar dapat diabsorpsi. Jika komponen
yang tidak dapat dicerna
mencegah proses ini asam amino yang
penting hilang bersama
feses).
2. Komposisi asam amino seluruh asam amino yang digunakan dalam
sintesis protein tubuh harus
tersedia pada saat yang sama agar
jaringan yang baru dapat
terbentuk.dengan demikian makanan
harus menyediakan setiap asam amino
dalam jumlah yang
mencukupi untuk membentuk as.amino
lain yang dibutuhkan.
Faktor yang mempengaruhi kebutuhan
protein:
a. Perkembang jaringan
Periode dimana perkembangn terjadi
dengan cepat seperti pada
masa janin dan kehamilan membutuhkan
lebih banyak protein.
b. Kualitas protein
Kebutuhan protein dipengaruhi oleh
kualitas protein makanan pola
as.aminonya. Tidak ada rekomendasi
khusus untuk orang-orang
yang mengonsumsi protein hewani
bersama protein nabati. Bagi
mereka yang tidak mengonsumsi
protein hewani dianjurkan untuk
memperbanyak konsumsi pangan
nabatinya untuk kebutuhan asam
amino.
c. Digestibilitas protein
Ketersediaan as.amino dipengaruhi
oleh persiapan makanan.
Panas menyebabkan ikatan kimia
antara gula dan as.amino yang
membentuk ikatan yang tidak dapat
dicerna. Digestibitas dan
absorpsi dipengaruhi oleh jarak
antara waktu makan, dengan
interval yang lebih panjang akan
menurunkan persaingan dari
enzim yang tersedia dan tempat
absorpsi.
d. Kandungan energi dari makanan
Jumlah yang mencukupi dari
karbohidrat harus tersedia untuk
mencukupi kebutuhan energi sehingga
protein dapat digunakan
hanya untuk pembagunan jaringn.
Karbohidrat juga mendukung
sintesis protein dengan merangsang
pelepasan insulin.
e. Status kesehatan
Dapat meningkatkan kebutuhan energi
karena meningkatnya
katabolisme. Setelah trauma atau
operasi asam amino dibutuhkan
untuk pembentukan jaringan,
penyembuhan luka dan produksi
faktor imunitas untuk melawan
infeksi (Anonim. 2007).
B. Penggolongan Protein
Protein adalah molekul yang sangat
vital untuk organisme dan
terdapat di semua sel. Protein merupakan polimer yang disusun oleh
20
macam asam amino standar. Rantai asam amino dihubungkan dengan
ikatan kovalen yang spesifik.
Struktur & fungsi ditentukan oleh kombinasi,
jumlah dan urutan asam amino
sedangkan sifat fisik dan kimiawi
dipengaruhi oleh asam amino
penyusunnya.
Penggolongan protein dibedakan
menjadi beberapa macam, antara
lain:
1. Berdasarkan struktur molekulnya
Struktur protein terdiri dari empat macam :
1. Struktur primer (struktur utama)
Struktur ini terdiri dari asam-asam
amino yang dihubungkan satu
sama lain secara kovalen melalui
ikatan peptida.
2. Struktur sekunder
Protein sudah mengalami interaksi
intermolekul, melalui rantai
samping asam amino. Ikatan yang
membentuk struktur ini, didominasi
oleh ikatan hidrogen antar rantai
samping yang membentuk pola
tertentu bergantung pada orientasi
ikatan hidrogennya. Ada
dua jenis
struktur sekunder, yaitu: -heliks
dan -sheet.
3. Struktur Tersier
Terbentuk karena adanya pelipatan
membentuk struktur yang
kompleks. Pelipatan distabilkan oleh
ikatan hidrogen, ikatan disulfida,
interaksi ionik, ikatan hidrofobik,
ikatan hidrofilik.
4. Struktur Kuartener
Terbentuk dari beberapa bentuk
tersier, dengan kata lain multi sub
unit. Interaksi intermolekul antar
sub unit protein ini membentuk
struktur keempat/kuartener
2. Berdasarkan Bentuk dan Sifat Fisik
1. Protein globular
Terdiri dari polipeptida yang
bergabung satu sama lain (berlipat
rapat) membentuk bulat padat.
Misalnya enzim, albumin, globulin,
protamin. Protein ini larut dalam
air, asam, basa, dan etanol.
2. Protein serabut (fibrous protein)
Terdiri dari peptida berantai
panjang dan berupa serat-serat yang
tersusun memanjang, dan memberikan
peran struktural atau
pelindung. Misalnya fibroin pada
sutera dan keratin pada rambut
dan bulu domba. Protein ini tidak
larut dalam air, asam, basa,
maupun etanol.
3. Berdasarkan Fungsi Biologi
Pembagian protein didasarkan pada
fungsinya di dalam tubuh, antara
lain:
1. Enzim (ribonukease, tripsin)
2. Protein transport (hemoglobin, mioglobin, serum, albumin)
3. Protein nutrien dan penyimpan (gliadin/gandum, ovalbumin/telur,
kasein/susu, feritin/jaringan hewan)
4. Protein kontraktil (aktin dan tubulin)
5. Protein Struktural (kolagen, keratin, fibrion)
6. Protein Pertahanan (antibodi, fibrinogen dan trombin, bisa ular)
7. Protein Pengatur (hormon insulin dan hormon paratiroid)
4. Berdasarkan Daya Larutnya
1. Albumin
Larut air, mengendap dengan garam
konsentrasi tinggi. Misalnya
albumin telur dan albumin serum
2. Globulin Glutelin
Tidak larut dalam larutan netral,
larut asam dan basa encer.
Glutenin (gandum), orizenin (padi).
3. Gliadin (prolamin)
Larut etanol 70-80%, tidak larut air
dan etanol 100%.
Gliadin/gandum, zein/jagung
4. Histon
Bersifat basa, cenderung berikatan
dengan asam nukleat di dalam
sel. Globin bereaksi dengan heme
(senyawa asam menjadi
hemoglobin). Tidak larut air, garam
encer dan pekat (jenuh 30-
50%). Misalnya globulin serum dan
globulin telur.
5. Protamin
Larut dalam air dan bersifat basa,
dapat berikatan dengan asam
nukleat menjadi nukleoprotamin
(sperma ikan). Contohnya salmin
5. Protein Majemuk
Adalah protein yang mengandung senyawa bukan hanya protein
1. Fosfoprotein
Protein yang mengandung fosfor,
misalnya kasein pada susu,
vitelin pada kuning telur
2. Kromoprotein
Protein berpigmen, misalnya asam
askorbat oksidase mengandung
Cu
3. Fosfoprotein
Protein yang mengandung fosfor,
misalnya kasein pada susu,
vitelin pada kuning telur
4. Kromoprotein
Protein berpigmen, misalnya asam
askorbat oksidase mengandung
Cu
5. Protein Koenzim
Misalnya NAD+, FMN, FAD dan NADP+
6. Protein Koenzim
Misalnya NAD+, FMN, FAD dan NADP+
7. Lipoprotein
Mengandung asam lemak, lesitin
8. Metaloprotein
Mengandung unsur-unsur anorganik
(Fe, Co, Mn, Zn, Cu, Mg dsb)
9. Glikoprotein
Gugus prostetik karbohidrat, misalnya
musin (pada air liur),
oskomukoid (pada tulang)
10.Nukleoprotein
Protein dan asam nukleat berhubungan
(berikatan valensi
sekunder) misalnya pada jasad renik
C. Analisa Protein
Analisis protein dapat dilakukan
dengan dua metode, yaitu ;
Secara kualitatif terdiri atas ;
reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole,
reaksi Millon, reaksi Nitroprusida,
dan reaksi Sakaguchi.
Secara kuantitatif terdiri dari ;
metode Kjeldahl, metode titrasi formol,
metode Lowry, metode
spektrofotometri visible (Biuret), dan metode
spektrofotometri UV.
Analisa Kualitatif
1. Reaksi Xantoprotein
Larutan asam nitrat pekat
ditambahkan dengan hati-hati ke dalam
larutan protein. Setelah dicampur
terjadi endapan putih yang dapat
berubah menjadi kuning apabila
dipanaskan. Reaksi yang terjadi ialah
nitrasi pada inti benzena yang
terdapat pada molekul protein. Reaksi
ini positif untuk protein yang
mengandung tirosin, fenilalanin dan
triptofan.
2. Reaksi Hopkins-Cole
Larutan protein yang mengandung
triptofan dapat direaksikan dengan
pereaksi Hopkins-Cole yang
mengandung asam glioksilat. Pereaksi ini
dibuat dari asam oksalat dengan
serbuk magnesium dalam air. Setelah
dicampur dengan pereaksi
Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan
perlahan-lahan sehingga membentuk
lapisan di bawah larutan protein.
Beberapa saat kemudian akan terjadi
cincin ungu pada batas antara
kedua lapisan tersebut.
3. Reaksi Millon
Pereaksi Millon adalah larutan
merkuro dan merkuri nitrat dalam asam
nitrat. Apabila pereaksi ini
ditambahkan pada larutan protein, akan
menghasilkan endapan putih yang
dapat berubah menjadi merah oleh
pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini
positif untuk fenol-fenol, karena
terbentuknya senyawa merkuri dengan
gugus hidroksifenil yang
berwarna.
4. Reaksi Natriumnitroprusida
Natriumnitroprusida dalam larutan
amoniak akan menghasilkan warna
merah dengan protein yang mempunyai
gugus –SH bebas. Jadi
protein yang mengandung sistein
dapat memberikan hasil positif.
5. Reaksi Sakaguchi
Pereaksi yang digunakan ialah naftol
dan natriumhipobromit. Pada
dasarnya reaksi ini memberikan hasil
positif apabila ada gugus
guanidin. Jadi arginin atau protein
yang mengandung arginin dapat
menghasilkan warna merah.
6. Metode Biuret
Larutan protein dibuat alkalis
dengan NaOH kemudian ditambahkan
larutan CuSO4 encer. Uji ini untuk
menunjukkan adanya senyawasenyawa
yang mengandung gugus amida asam
yang berada bersama
gugus amida yang lain. Uji ini
memberikan reaksi positif yaitu ditandai
dengan timbulnya warna merah violet
atau biru violet.
Analisa Kuantitatif
Analisis protein dapat digolongkan
menjadi dua metode, yaitu: Metode
konvensional, yaitu metode Kjeldahl (terdiri dari destruksi,
destilasi, titrasi),
titrasi formol. Digunakan untuk
protein tidak terlarut.
Metode modern, yaitu metode Lowry, metode spektrofotometri
visible,
metode spektrofotometri UV.
Digunakan untuk protein terlarut.
1. Metode Kjeldahl
Metode ini merupakan metode yang
sederhana untuk penetapan
nitrogen total pada asam amino,
protein, dan senyawa yang
mengandung nitrogen. Sampel
didestruksi dengan asam sulfat dan
dikatalisis dengan katalisator yang
sesuai sehingga akan
menghasilkan amonium sulfat. Setelah
pembebasan alkali dengan
kuat, amonia yang terbentuk disuling
uap secara kuantitatif ke dalam
larutan penyerap dan ditetapkan
secara titrasi.
Penetapan Kadar
Prosedur :
a. Timbang 1 g bahan yang telah
dihaluskan, masukkan dalam labu
Kjeldahl (kalau kandungan protein
tinggi, misal kedelai gunakan
bahan kurang dari 1 g).
b. Kemudian ditambahkan 7,5 g kalium
sulfat dan 0,35 g raksa (II)
oksida dan 15 ml asam sulfat pekat.
c. Panaskan semua bahan dalam labu
Kjeldahl dalam lemari asam
sampai berhenti berasap dan teruskan
pemanasan sampai
mendidih dan cairan sudah menjadi
jernih. Tambahkan pemanasan
kurang lebih 30 menit, matikan
pemanasan dan biarkan sampai
dingin.
d. Selanjutnya tambahkan 100 ml aquadest
dalam labu Kjeldahl yang
didinginkan dalam air es dan
beberapa lempeng Zn, tambahkan 15
ml larutan kalium sulfat 4% (dalam
air) dan akhirnya tambahkan
perlahan-lahan larutan natrium
hidroksida 50% sebanyak 50 ml
yang telah didinginkan dalam lemari
es.
e. Pasanglah labu Kjeldahl dengan segera
pada alat destilasi.
Panaskan labu Kjeldahl
perlahan-lahan sampai dua lapis cairan
tercampur, kemudian panaskan dengan
cepat sampai mendidih.
f. Destilasi ditampung dalam Erlenmeyer
yang telah diisi dengan
larutan baku asam klorida 0,1N sebanyak 50 ml dan
indikator
merah metil 0,1% b/v (dalam etanol
95%) sebanyak 5 tetes, ujung
pipa kaca destilator dipastikan
masuk ke dalam larutan asam
klorida 0,1N.
g. Proses destilasi selesai jika
destilat yang ditampung lebih kurang
75 ml. Sisa larutan asam klorida
0,1N yang tidak bereaksi dengan
destilat dititrasi dengan larutan baku natrium hidroksida
0,1N. Titik
akhir titrasi tercapai jika terjadi
perubahan warna larutan dari merah
menjadi kuning. Lakukan titrasi
blanko.
Kadar Protein
1 Kadar protein dihitung dengan persamaan berikut :
Kadar = V NaOH blanko – V NaOH
sampel x N NaOH x 14,008 x 100% x Fk
berat sampel (mg)
Keterangan :
Fk : faktor koreksi
Fk N : 16
2. Metode Titrasi Formol
Larutan protein dinetralkan dengan
basa (NaOH) lalu ditambahkan
formalin akan membentuk dimethilol.
Dengan terbentuknya dimethilol
ini berarti gugus aminonya sudah
terikat dan tidak akan mempengaruhi
reaksi antara asam dengan basa NaOH
sehingga akhir titrasi dapat
diakhiri dengan tepat. Indikator
yang digunakan adalah p.p., akhir
titrasi bila tepat terjadi perubahan
warna menjadi merah muda yang
tidak hilang dalam 30 detik.
3. Metode Lowry
Prosedur :
Pembuatan reagen Lowry A :
Merupakan larutan asam
fosfotungstat-asam fosfomolibdat dengan
perbandingan (1 : 1)
Pembuatan reagen Lowry B :
Campurkan 2% natrium karbonat dalam
100 ml natrium hidroksida
0,1N. Tambahkan ke dalam larutan
tersebut 1 ml tembaga (II) sulfat
1% dan 1 ml kalium natrium tartrat
2%.
Penetapan Kadar
a. Pembuatan kurva baku
Siapkan larutan bovin serum albumin
dengan konsentrasi 300
μg/ml (Li). Buat seri konsentrasi
dalam tabung reaksi, misal dengan
komposisi berikut :
Tambahkan ke dalam masing-masing
tabung 8 ml reagen Lowry B
dan biarkan selama 10 menit,
kemudian tambahkan 1 ml reagen Lowry
A. Kocok dan biarkan selama 20
menit. Baca absorbansinya pada
panjang gelombang 600 nm tehadap
blanko. (Sebagai blanko adalah
tabung reaksi no.1 pada tabel di
atas)
b. Penyiapan Sampel
Ambil sejumlah tertentu sampel
protein yang terlarut misal albumin,
endapkan dahulu dengan penambahan
amonium sulfat kristal
(jumlahnya tergantung dari jenis
proteinnya, kalau perlu sampai
mendekati kejenuhan amonium sulfat
dalam larutan). Pisahkan protein
yang mengendap dengan sentrifus
11.000 rpm selama 10 menit,
pisahkan supernatannya. Presipitat
yang merupakan proteinnya
kemudian dilarutkan kembali dengan
dapar asam asetat pH 5 misal
sampai 10,0 ml. Ambil volume
tertentu dan lakukan penetapan
selanjutnya seperti pada kurva baku mulai dari
penambahan 8 ml
reagen Lowry A sampai seterusnya.
4. Metode Spektrofotometri Visible
(Biuret)
Prosedur :
Pembuatan reagen Biuret :
Larutkan 150 mg tembaga (II) sulfat
(CuSO4. 5H2O) dan kalium
natrium tartrat (KNaC4H4O6. 4H2O)
dalam 50 ml aquades dalam labu
takar 100 ml. Kemudian tambahkan 30
ml natrium hidroksida 10%
sambil dikocok-kocok, selanjutnya
tambahkan aquades sampai garis
tanda.
Pembuatan larutan induk bovin serum albumin (BSA):
Ditimbang 500 mg bovin serum albumin
dilarutkan dalam aquades
sampai 10,0 ml sehingga kadar
larutan induk 5,0% (Li).
Penetapan kadar (Metode Biuret) :
Pembuatan kurva baku :
Dalam kuvet dimasukkan larutan
induk, reagen Biuret dan aquades
misal dengan komposisi sebagai
berikut:
Setelah tepat 10 menit serapan
dibaca pada λ 550 nm terhadap
blanko yang terdiri dari 800 μL
reagen Biuret dan 200 μL aquades.
Cara mempersiapkan sampel :
Ambil sejumlah tertentu sampel
protein yang terlarut misal albumin,
endapkan dahulu dengan penambahan
amonium sulfat kristal
(jumlahnya tergantung dari jenis
proteinnya, kalau perlu sampai
mendekati kejenuhan amonium sulfat
dalam larutan). Pisahkan protein
yang mengendap dengan sentrifus
11.000 rpm selama 10 menit,
pisahkan supernatannya. Presipitat
yang merupakan proteinnya
kemudian dilarutkan kembali dengan
dapar asam asetat pH 5 misal
sampai 10,0 ml. Ambil sejumlah μL
larutan tersebut secara kuantitatif
kemudian tambahkan reagen Biuret dan
jika perlu tambah dengan
dapar asetat pH 5 untuk pengukuran
kuantitatif.
Setelah 10 menit dari penambahan
reagen Biuret, baca
absorbansinya pada panjang gelombang
550 nm terhadap blanko yang
berisi reagen Biuret dan dapar
asetat pH 5. Perhatikan adanya faktor
pengenceran dan absorban sampel
sedapat mungkin harus masuk
dalam kisaran absorban kurva baku.
5. Metode Spektrofotometri UV
Asam amino penyusun protein
diantaranya adalah triptofan, tirosin dan
fenilalanin yang mempunyai gugus
aromatik. Triptofan mempunyai
absorbsi maksimum pada 280 nm,
sedang untuk tirosin mempunyai
absorbsi maksimum pada 278 nm.
Fenilalanin menyerap sinar kurang
kuat dan pada panjang gelombang
lebih pendek. Absorpsi sinar pada
280 nm dapat digunakan untuk
estimasi konsentrasi protein dalam
larutan. Supaya hasilnya lebih
teliti perlu dikoreksi kemungkinan
adanya asam nukleat dengan
pengukuran absorpsi pada 260 nm.
Pengukuran pada 260 nm untuk melihat
kemungkinan kontaminasi
oleh asam nukleat. Rasio absorpsi
280/260 menentukan faktor koreksi
yang ada dalam suatu tabel.
Kadar protein mg/ml = A280 x faktor
koreksi x pengenceran
Alat Spektrofotometer
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. 2008. Protein.
(http://www.wikipedia.com) diakses tanggal 12
Oktober 2008.
2. Sudarmaji, S, dkk. 1989. Analisa
Bahan Makanan dan Pertanian.
Penerbit Liberty: Yogyakarta.
3. Page, D.S. 1997. Prinsip-prinsip
Biokimia. Erlangga: Jakarta.
4. Santoso, H. 2008. Protein dan
Enzim. (http://www.heruswn.teachnology.
com) diakses tanggal 12 Oktober
2008.
5. Sloane, E. 2004. Anatomi dan
Fisiologi untuk Pemula. Penerbit Buku
Kedokteran EGC: Jakarta.
6. Anonim. 2007. Manfaat Protein
dalam Kehidupan Sehari-hari.
(http://www.blogger.com) diakses
tanggal 12 Oktober 2008
7. Sudjadi, A. dan Rohman. 2004. Analisis
Obat dan Makanan cetakan I.
Yogyakarta: Yayasan Farmasi Indonesia.
8. Apriyantono, A. dkk. 1989. Analisis
Pangan. Bogor:
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi
Psat Antar Universitas Pangan dan
Gizi IPB.
9. Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar
Biokimia. Jakarta:
Penerbit UI-Press.
10.Kamal, M. 1991. Nutrisi Ternak
Dasar. Laboratorium Makanan Ternak,
Yogyakarta:
UGM-Press
Posting Komentar
GOOD MEDICAL STUDENT NOW
GOOD MEDICAL DOCTOR TOMORROW