0
Penuntun Praktikum Biokimia
Penuntun Praktikum
Biokimia

N A M A :
N I M :
SEMESTER/KEL. :
BAGIAN
BIOKIMIA
Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran
Universitas Muslim Indonesia
KATA
PENGANTAR
Syukur
Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmatNya
sehubungan dengan terbitnya penuntun praktikum Biokimia untuk matakuliah
Biomedik I.
Dengan
perkembangan metode pendidikan dalam ilmu kedokteran umumnya dan Biokimia
pada khususnya, maka penuntun praktikum yang diterbitkan kali ini
merupakan penuntun yang sebagian besar sama dengan penuntun
praktikum sebelumnya hanya saja ada beberapa perbaikan yang disesuaikan
dengan matakuliah
Biomedik I.
Setiap
kegiatan praktikum dalam penuntun praktikum ini diusahakan sedapat
mungkin berhubungan dengan teori yang diberikan pada kuliah Biokimia
Kedokteran, sehingga akan bermanfaat dalam memahami kuliah yang diberikan.
Kami
menyadari bahwa penuntun praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu petunjuk, saran dan kritik dari para pembaca sangat kami
harapkan demi perbaikan pada penerbitan berikutnya. Mudah-mudahan
penuntun ini memberikan manfaat yang sebaik-baiknya dalam peningkatan
ilmu pengetahuan mahasiswa kedokteran.
Makassar, 1
November 2010
Penyusun,
Staf
Pengajar Bagian Biokimia
Fakultas
Kedokteran UNHAS
TATA TERTIB
PRAKTIKUM BIOKIMIA
- Mahasiswa dibagi atas dua kelompok yaitu kelompok A dan kelompok B yang masing-masing terdiri atas beberapa regu. Setiap regu secara bersama-sama melakukan jenis percobaan yang sama pada tempatnya masing-masing dan tiap regu mahasiswa tidak dibenarkan mengambil pekerjaan regu mahasiswa lainnya.
- Mahasiswa yang berhak mengikuti praktikum adalah mereka yang memenuhi persyaratan administrasi dan kelengkapan peralatan praktikum.
- Mahasiswa sudah harus berada di laboratorium paling lambat 10 menit sebelum praktikum dimulai, bagi yang terlambat diperbolehkan mengikuti praktikum atas persetujuan koordinator praktikum.
- Mahasiswa wajib mengisi absen praktikum yang disediakan dan tidak diperbolehkan keluar masuk laboratorium tanpa seizin asisten yang bertugas pada saat itu.
- Mahasiswa diwajibkan berpakaian rapi dan menggunakan jas praktikum putih berlogo unhas yang dilengkapi dengan papan nama dan membawa penuntun praktikum serta lembar kerja masing-masing.
- Ketua regu beserta wakilnya menyiapkan alat-alat serta bahan dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk percobaan yang akan dilaksanakan dengan menghubungi asisten pembimbing yang bertugas pada saat itu.
- Mahasiswa tidak dibenarkan membicarakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan praktikum selama dalam laboratorium demi efisiensi waktu.
- Setiap mahasiswa harus memahami tujuan percobaan, cara kerja serta teori yang berhubungan dengan percobaan yang akan dilaksanakan. Asisten berhak menunda jalannya percobaan untuk sementara dan menganjurkan untuk memahami kembali hal-hal yang disebutkan diatas sebelum praktikum dilanjutkan kembali. Jika ternyata hal ini tetap tidak dipenuhi, maka praktikum dapat ditunda atau dibatalkan.
- Percobaan yang tidak berhasil dengan baik atau gagal atas kesalahan regu atau anggota regu yang bersangkutan, diluar tanggung jawab asisten pembimbing dan tidak diberikan kesempatan untuk mengadakan pengulangan
10. Setiap
anggota regu bertanggung jawab atas keselamatan dan kebersihan alat-alat
yang digunakan dan pada akhir percobaan alat diserahkan
kembali dalam keadaan lengkap dan bersih.
11. Setiap
mahasiswa wajib melaksanakan seluruh percobaan sesuai yang dijadwalkan
oleh laboratorium biokimia. Mahasiswa yang berhalangan dengan alasan yang
tepat (surat keterangan dokter harus disampaikan paling lambat satu hari
sesudahnya) harus segera melaporkan hal tersebut kepada koordinator
asisten.
12. Laporan
sementara hasil percobaan diselesaikan dalam Laboratorium selama
praktikum berlangsung dan menjadi bahan penilaian dasar dari asisten
untuk setiap praktikan.
13. Buku
lembar kerja hasil percobaan diselesaikan setelah praktikum selesai dan
dikumpulkan selambat-lambatnya 3 x 24 jam setelah praktikum selesai. Bagi
yang tidak mengumpulkan buku lembar kerja hasil percobaan tidak berhak
untuk mendaptkan nilai praktikum biokimia system MDP.
14. Buku
lembar kerja hasil percobaan praktikum tidak boleh hilang dan akan
digunakan pada percobaan biokimia praktikum biokimia selanjutnya
15. Setiap
mahasiswa wajib mengikuti diskusi praktikum dengan asisten pembimbing
masing-masing
16. Peraturan
yang tidak tercantum diatas dan dianggap perlu akan diberitahukan selanjutnya.
SPEKTROFOTOMETER
A.
PENDAHULUAN
Bila seberkas sinar putih melewati suatu
larutan berwarna, maka pada beberapa panjang gelombang tertentu dari
spektrum warna akan terjadi penyerapan cahaya. Contohnya, bila suatu larutan
berwarna MERAH, maka ia akan menyerap cahaya pada daerah panjang gelombang
warna KUNING-BIRU. Sebaliknya, cahaya pada daerah panjang gelombang warna
MERAH akan diteruskan sehingga dengan mata akan tampak berwarna MERAH.
Dengan kata lain, warna suatu larutan disebabkan oleh warna spektrum
cahaya yang tidak ditahan/diserapnya, tetapi yang diteruskan.
Dalam keadaan sehari-hari, sebenarnya
diketahui bahwa jumlah zat yang terlarut dapat diperkirakan dengan mata
dari kepekaan/intensitas warna. Misalnya, dua sendok makan sirup merah dilarutkan
dalam segelas air warnanya tampak lebih pekat dibandingkan dengan satu
sendok makan sirup merah dalam segelas air.
Pada pengukuran dengan teknik spektrofotometri,
cahaya polikromatis yang berasal dari sumber cahaya diuraikan dengan
menggunakan prisma sehingga diperoleh cahaya monokromatis yang diserap oleh
zat yang akan diperiksa tersebut. Hubungan antara konsentrasi dengan jumlah
cahaya yang diserap dinyatakan dalam hukum Beer-Lambert.
Hukum Beer-Lambert
Bila cahaya monokromatis melalui satu
larutan berwarna maka jumlah cahaya yang diserap menurun secara eksponensial,
sebanding dengan :
a. Panjang lintasan/kolom cahaya yang melalui
larutan
b. Kadar Zat terlarut dalam larutan yang
menyerap cahaya
Secara matematis, hukum Beer-Lambert dapat dirumuskan sebagai berikut :
A = k x c x l
A = serapan/densitas optic, yaitu
jumlah cahaya yang diserap
k =
koefisien ekstingsi yaitu suatu senyawa dengan kadar 1 M pada
panjang
gelombang tertentu dengan diameter kuvet/panjang larutan
yang
dilalui cahaya 1 cm.
c = kadar sampel yang
diperiksa
l = diameter
kuvet/panjang larutan yang dilalui cahaya (1cm)
karena
k dan l merupakan bilangan tetap, maka A sebanding dengan c.
Pada setiap pengukuran/penetapan selalu
:
1.
Diperlukan larutan blanko
Larutan blanko mengandung semua pereaksi
kecuali bahan yang diperiksa. Blanko dimaksudkan
untuk menghilangkan interfensi yang dapat disebabkan oleh zat lain yang
terdapat dalam larutan yang menyerap cahaya pada panjang gelombang sama
2. Digunakan
larutan standar sebagai pembanding
3. Dilakukan
penetapan secara duplo
Penetapan larutan uji dan standar dilakukan
dengan minimal ulangan dua kali (duplo) dengan maksud untuk memperkecil
kesalahan.
Petunjuk penggunaan alat Spektrofotometer
1. Putar tombol (1) ke kanan untuk mengaktifkan
alat. Biarkan 15 menit untuk memanaskan alat. Atur tombol sampai
menunjukkan angka 0 pada petunjuk % T.
2. Putar tombol (2) untuk memilih panjang
gelombang sesuai dengan yang diinginkan
3. Masukkan kuvet yang berisi paling seditkit 5
ml akuades ke dalam tempat sample (sebelum memasukkan kuvet, pastikan
bahwa dinding kuvet bagian luar dalam keadaan kering). Kemudian tutup
penutup tempat sample.
4. Putar tombol (3) sehingga %T
menunjuk angka 100 atau sampai A menunjuk angka 0
5. Angkat kuvet yang berisi akuades dari tempat
sample. Kemudian ganti isi kuvet dengan larutan, baca hasilnya.
6. Ganti larutan blanko dalam kuvet dengan
larutan standar atau uji, kemudian baca serapannya.
Catatan :
1.
Setiap memasukkan kuvet kedalam tempat
sample, bagian luar kuvet
harus bersih & kering (gunakan
kertas tisu untuk membersihkan)
2.
Jangan sampai ada cairan yang tumpah
kedalam alat.
3.
Untuk setiap penetapan pada panjang
gelombang yang berbeda, pada
setiap alat harus ditera dengan akuades
(A harus menunjukkan angka 0 atau 100%T)
B.
TUJUAN UMUM PRAKTIKUM
1. Menentukan panjang gelombang dengan
serapan maksimum
2. Membuktikan hukum Beer-Lambert
3. Penentuan kadar larutan yang tidak
diketahui
C.
PERCOBAAN
1. Penentuan Panjang
Gelombang dengan Serapan Maksimum
Tujuan:
Menentukan panjang gelombang dengan serapan maksimum
Dasar: Suatu zat berwarna menyerap cahaya pada
panjang gelombang tertentu
Alat dan
Pereaksi:
1. Spektrofotometer dan Kuvet
2. Larutan hematin alkalis (1 ml darah
diencerkan dengan amonia sampai
mencapai
volume 500 ml)
Cara Kerja:
1. Sediakan 2 tabung kuvet, pada tabung 1
masukkan 5 ml akuades (sebagai
blanko)
dan pada tabung 2 masukkan 5 ml larutan hematin alkalis
2. Baca serapan larutan itu pada panjang
gelombang antara 500 dan 600 nm
dengan
interval 10 nm. Perhatikan bahwa setiap pembacaan pada suatu
panjang
gelombang. Alat ditera dengan blanko yang berisi akuades (A = 0
atau
T = 100%)
3. Buatlah kurva dengan panjang gelombang
sebagai sumbu X dan
absorban sebagai sumbu Y
Hasil
percobaan :
Panjang gelombang Serapan
Panjang gelombang
Serapan
(nm) (abs) (nm) (abs)
500
560
510
570
520
580
530
590
540
600
550
Tugas: Buatlah kurvanya pada kertas
grafik (Kurva hubungan panjang gelombang (λ) – serapan (A))
Hasil:
...............................................................................................................................................................................................................................
...............................................................................................................................................................................................................................
...............................................................................................................................................................................................................................
2. Hubungan Serapan
dengan Kadar Zat dalam Larutan
Tujuan:
Membuktikan hukum Beer-Lambert
Dasar:
Jumlah cahaya yang diserap suatu larutan pada panjang gelombang
tertentu sebanding dengan kadar zat dalam
larutan. Bila hukum Beer-Lambert ini diikuti oleh larutan tersebut, maka kurva
hubungan serapan (A) dengan kadar zat akan merupakan garis lurus.
Alat dan
pereaksi:
1. Spektrofotometer dan kuvet
2. Darah oksalat
3. Pipet 1 ml
4. Labu Volumetrik 1000 ml
5. Tabung reaksi
6. Kertas grafik
Cara kerja:
1. Encerkan 1 ml darah oksalat dalam labu
volumetric menjadi 500 ml
dengan larutan amonium encer (4 ml amonia pekat dalam 1 L akuades)
Kocok dengan membolak-balikkannya (sudah dibuat/tersedia)
2. Pipetkan ke dalam 6 tabung reaksi masing-masing:
0ml; 2ml; 4ml; 6ml; 8ml
dan 10ml darah amonia tersebut. Kemudian
tambahkan amonia encer
pada keenam tabung berturut-turut: 10ml; 8ml; 6ml; 4ml; 2ml dan 0
ml
3. Kemudian baca serapan masing-masing tabung
dengan menggunakan
tabung 1 sebagai blanko pada panjang gelombang maksimum yang
didapat
pada percobaan 1.
4. Buatlah kurva pada selembar kertas grafik
dengan A (serapan) sebagai
sumbu
Y & pengenceran sebagai sumbu X.
Hasil
percobaan :
Darah Amonia/konsentrasi Amonia encer Serapan pada λmaks
hematin
alkali (%)
0 ml
10 ml …..
2 ml
8 ml …..
4 ml
6 ml …..
6 ml
4 ml …..
8 ml
2 ml …..
10 ml 0 ml …..
Tugas : Buatlah kurvanya pada kertas
grafik
Pertanyaan :
1. Apakah anda mendapatkan garis lurus pada
kurva yang anda buat?
Bagaimana
bentuk kurvanya bila yang anda gunakan pada sumbu Y adalah
Transmittance
(T) ?
Jawab:
2. Apa yang harus anda lakukan bila serapan suatu
tabung reaksi berisi larutan
yang
sama berada diluar batas-batas kurva yang anda buat ?
Jawab:
3. Penentuan Kadar
suatu Larutan
Tujuan:
Menentukan kadar sutau larutan yang belum diketahui
Dasar:
Kadar suatu zat dapat diketahui dengan membandingkannya dengan kadar larutan
standar
Alat dan
pereaksi:
- Spektrofotometer
- Larutan
hematin alkalis (U1, U2, U3)
- Kuvet
- Kertas grafik
- 3 buah tabung reaksi
- Pipet Mohr 10 ml
Cara kerja :
1. Siapkan 3 tabung reaksi yang bersih
dan kering. Isilah tabung pertama
dengan
5 ml larutan U1
2. Isilah tabung kedua dengan 5
ml larutan U2
3. Isilah tabung ketiga dengan 5
ml larutan U3
4. Baca serapan dan hitung kadar
larutan U1, U2 dan U3 berdasarkan kurva
standar
yang saudara buat pada percobaan 2
Hasil
percobaan :
Larutan Serapan
(Abs) Kadar (%)
U1
U2
U3
D. KESIMPULAN
Buatlah kesimpulan dari seluruh praktikum
yang telah diselesaikan.
PRAKTIKUM
ENZIM
PENDAHULUAN
Enzim adalah sekelompok protein yang
berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem
biologis. Hampir setiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis
oleh enzim. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim
dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya.
KEPENTINGAN
MEDIS ENZIM
Enzim terdistribusi di tempat-tempat
tertentu di dalam sel, kurang lebih sesuai dengan golongan dan fungsinya.
Sebagai contoh, enzim-enzim yang berperan dalam sintesis dan reparasi DNA
terletak di dalam inti sel. Enzim mengkatalisis berbagai reaksi yang
menghasilkan energi secara aerob terletak di dalam mitokondria. Enzim
yang berhubungan dengan biosintesis protein berada bersama ribosom. Dengan
demikian reaksi kimia di dalam sel berjalan sangat terarah efisien.
Ada penyakit yang disebabkan oleh
abnormalitas sintesis enzim tertentu,
misalnya pada defisiensi enzim Glukosa
6-Fosfat Dehidrogenase G6PDH/G6PD). Sel darah merah pada penderita
defisiensi enzim G6PDH ini sangat rentan terhadap pembebanan oksidatif
misalnya pada pemakaian obat analgetik tertentu dapat terjadi hemolisis
intravaskuler.
Analisis enzim dalam serum pada dasarnya
dapat dipakai untuk diagnosis berbagai penyakit. Dasar penggunaan enzim
sebagai penunjang diagnosis ialah bahwa pada hakikatnya, sebagian enzim terdapat
dan bekerja di dalam sel, dan enzim tersebut dibuat dalam jumlah besar oleh
jaringan tertentu.
Karena itu enzim intrasel seharusnya
tidak ditemukan di dalam serum dan bila ditemukan berarti sel yang
membuatnya mengalami disintegrasi. Bila enzim yang diukur dalam serum
terutama dibuat oleh jaringan atau organ tertentu, maka peningkatan
aktifitas dalam serum menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan atau
organ tersebut.
PENGGOLONGAN
ENZIM
Hal yang sangat penting bagi enzim
ialah kerjanya yang sangat spesifik. Suatu
enzim dapat mengkatalisis satu atau beberapa
reaksi saja. Meskipun jumlah enzim ada ribuan yang berasal dari makhluk hidup,
reaksi-reaksi yang dikatalisis oleh enzim-enzim ini ternyata dapat
digolongkan ke dalam 6 macam reaksi saja.
Berdasarkan itu, para ahli telah
menggolongkan enzim ke dalam 6 golongan, sesuai dengan jenis reaksi yang
dikatalisis, yaitu :
1.
Oksidoreduktase
Adalah
kelompok enzim yang mengkatalisis reaksi-reaksi oksidasi reduksi.
2. Transferase
Kelompok
enzim ini mengkatalisis reaksi pemindahan berbagai gugus seperti
amina,
karboksil, karbonil, metal, asil, glikosil/ fosforil.
3.
Hidrolase
Kelompok
enzim ini mengkatalisis reaksi pemutusan ikatan kovalen sambil
menarik air.
4.
Liase
Kelompok
enzim ini mengkatalisis reaksi pemecahan ikatan kovalen tanpa
mengikat
air
5.
Isomerase
Kelompok
enzim ini mengkatalisis reaksi isomerasi
6.
Ligase (Sintetase)
Kelompok
enzim ini mengkatalisis pembentukan kovalen
Kespesifikan dari kerja enzim dibedakan
dalam kespesifikan optic dan gugus. Kespesifikan optic tampak pada
enzim-enzim yang bekerja terhadap karbohidrat. Umumnya enzim-enzim ini
hanya bekerja pada asam amino L dan bukan pada isomer D. Kespesifikan
gugus menunjukkan bahwa enzim hanya dapat bekerja terhadap gugus yang
tertentu. Enzim alcohol
dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenasi pada
senyawa bukan alkohol.
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI ENZIM
Seperti molekul protein lainnya sifat
biologis enzim sangat dipengaruhi oleh faktor fisika-kimia. Enzim bekerja
pada kondisi tertentu yang relatif ketat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja
enzim antara lain suhu, pH, oksidasi oleh udara atau senyawa lain,
penyinaran ultraviolet, sinar X, α, β dan γ. Disamping itu, kecepatan
reaksi enzimatik dipengaruhi oleh konsentrasi maupun
substratnya.
Pengaruh
Suhu
Suhu rendah mendekati titik beku tidak dapat
merusak enzim, namun enzim tidak
dapat bekerja. Dengan kenaikan suhu
lingkungan, enzim mulai bekerja sebagian
dan mencapai suhu maksimum pada suhu
tertentu. Bila suhu ditingkatkan terus,
jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena
mengalami denaturasi. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada
suhu optimum (lihat grafik). Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu
optimum sekitar 37oC. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif
pada pemanasan ± 60oC, karena terjadi denaturasi.
V
0 Suhu optimum 70oC T
Pengaruh pH
Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu.
Jika dilakukan pengukuran aktifitas
enzim pada beberapa macam pH yang
berlainan, sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan aktifitas maksimum
pada pH antara 5 sampai 9. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya
pada pH optimum (lihat grafik). Ada enzim yang mempunyai pH optimum yang
sangat rendah, seperti pepsin yang mempunyai pH optimum 2. Pada pH yang
jauh di luar pH optimum, enzim akan terdenaturasi.
Selain itu pada keadaan ini baik enzim maupun
substrat dapat mengalami
perubahan muatan listrik yang mengakibatkan
enzim tidak dapat berikatan dengan substrat.
V
0 pH optimum = 14
pH
Pengaruh
konsentrasi enzim
Peningkatan konsentrasi enzim akan
meningkatkankecepatan reaksi enzimatik. Dapat dikatakan bahwa kecepatan
reaksi enzimatik (V) berbading lurus dengan
konsentrasi enzim (E). Makin besar konsentrasi
enzim reaksi makin cepat (lihat
grafik).

v
0
(E)
Pengaruh
konsentrasi substrat
Pada suatu reaksi enzimatik bila
substrat diperbesar, sedangkan kondisi lainnya
tetap, maka kecepatan reaksi (V) akan
meningkat sampai suatu batas kecepatan
maksimum (V). pada titik maksimum ini
enzim telah jenuh dengan substrat
membentuk kompleks enzim-substrat,
kemudian kompleks ini akan terurai menjadi enzim dan produk. Makin banyak
kompleks enzim-substrat terbentuk, makin cepat reaksi berlangsung sampai
pada batas kejenuhan enzim-substrat. Pada kondisi substrat melampaui
batas kejenuhan kecepatan reaksi akan konstan. Dalam keadaan itu seluruh
enzim sudah berada dalam bentuk kompleks enzim-substrat. Pada penambahan
jumlah substrat tidak menambah jumlah kompleks enzim-substrat.
V
0
(S)
TUJUAN
PRAKTIKUM
1.
Membuktikan pengaruh suhu terhadap aktifitas enzimatik
2.
Membuktikan pengaruh pH terhadap aktifitas enzimatik
3.
Membuktikan pengaruh kadar enzim terhadap aktifitas enzimatik
4.
Membuktikan kerja beberapa macam enzim
1. Pengaruh
suhu terhadap kecepatan reaksi enzimatik.
Tujuan : Membuktikan bahwa kecepatan
reaksi enzimatik sampai suhu tertentu
sebanding dengan kenaikan suhu, dan reaksi
paling cepat berlangsung pada suhu optimum.
Dasar : Suhu yang sangat rendah akan
menyebabkan terhentinya kerja enzim secara reversible, karena dalam
keadaan tersebut tidak terjadi benturan antara
partikel E dan S. Akibatnya kompleks
E-S yang sangat penting dalam reaksi
enzimatik tidak terbentuk, sehingga P
juga tidak terbentuk. Bila suhu dinaikkan
sedikit demi sedikit benturan E dan S
untuk membentuk kompleks E-S akan makin meningkat sehingga P yang
terbentuk makin banyak. Keadaan ini terjadi sampai pada suhu tertentu,
yaitu suhu optimum. Suhu yang lebih tinggi dari suhu
optimum menyebabkan enzim
terdenaturasi. Akibatnya meskipun benturan E dengan S meningkat, kompleks
ES tidak terbentuk karena enzim terdenaturasi. Akibatnya pembentukan P
berkurang. Denaturasi enzim dapat terjadi ireversibel terutama bila suhu
lingkungan jauh melampaui suhu optimum.
Bahan
dan pereaksi :
1. Liur, sebagai sumber amylase.
Tampunglah 2 ml air liur di dalam gelas kimia/tabung reaksi bersih
& kering
2.
Liur 100x sebanyak 50 ml (pipet 0,5 ml liur + 49,5 ml aquadest)
3. Larutan pati 0,4 mg/ml dan
Larutan iodium
A)
Cara kerja
1) Siapkan 6 pasang tabung
reaksi yang bersih.
a. Pasangan tabung pertama
ditempatkan dalam bejana yang berisi es (0 oC)
b. Pasangan kedua ditempatkan
dalam bejana berisi air, yang suhunya
dipertahankan
tetap pada 25 oC
c. Pasangan tabung ketiga ditempatkan
di rak tabung pada suhu ruang
d. Pasangan tabung keempat
ditempatkan dalam penangas air yang suhunya
dipertahankan
tetap pada 37 oC
e. Pasangan tabung kelima
ditempatkan dalam penangas air yang suhunya
dipertahankan
tetap pada 60 oC
f. Pasangan tabung keenam
ditempatkan dalam penangas air mendidih
(100oC)
Tiap pasangan tabung diberi tanda ‘B’
untuk blanko & ‘U’ untuk uji. Keram
pasangan tabung pada setiap suhu selama
paling sedikit 5 menit
2) Pipetkan kedalam tiap-tiap tabung :
LARUTAN TABUNG B TABUNG U
Larutan pati 0,4 mg/ml 1 ml 1 ml
Keram pasangan tabung dari tiap suhu
minimal selama 5 menit
Liur (diencerkan 100x) - 200 µl
Campurkan baik-baik, keram lagi dari
tiap suhu tepat 1 menit
Larutan iodium (untuk suhu 60oC dan 100
oC penambahan dilakukan diluar
penangas) 1 ml 1 ml
Air suling 8 ml 8 ml
Segera baca serapan (A) pada panjang
gelombang 680 nm. Hitung selisih serapan
(∆A) antara tabung B (pada t = 0 menit)
dengan tabung U dari tiap suhu.
3) Buatlah tabel berikut ini :
SUHU Abs Blanko (B) Abs
Uji (U) ∆Abs/MENIT (V)
0 oC
25 oC
Suhu ruang (…….oC)
37 oC
60 oC
100 oC
4) Buatlah kurva yang
menggambarkan hubungan keceatan reaksi
enzimatik (v = ∆Abs/menit) dengan suhu.
B) Kesimpulan :
________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
2. Pengaruh
pH terhadap aktifitas enzim
A. Tujuan : Membuktikan bahwa keasaman
(pH) mempenguhi kecepatan
reaksi enzimatik.
B. Dasar : Enzim bekerja pada
kisaran pH tertentu dan menunjukkan
kerja maksimum pada pH optimum. Di luar pH
optimum aktifitas enzim dapat
terganggu.
C. Bahan dan pereaksi
1. Liur, sebagai sumber amylase.
Tampunglah 2 ml air liur di dalam gelas kimia/tabung reaksi bersih &
kering
2. Liur 100x sebanyak 50 ml
(pipet 0,5 ml liur + 49,5 ml aquadest)
3. Larutan pati 0,4 mg/ml
dilarutkan dalam berbagai pH (1, 3, 5, 7, 9 dan 11)
4. Larutan iodium
D. Cara kerja
1. Siapkan 6 pasang tabung
reaksi bersih. Tiap pasangan tabung diberi tanda ‘B’ untuk blanko dan ‘U’
untuk uji
2. Pipetkan kedalam tiap-tiap
tabung :
LARUTAN TABUNG B TABUNG U
Larutan pati dgn berbagai pH (1, 3, 5, 7, 9,
11) 1 ml 1 ml
Keram pasangan tabung pada suhu 37oC
minimal selama 5 menit
Liur (diencerkan 100x) - 200 µl
Campurkan baik-baik, keram lagi pada suhu
37 oC tepat 1 menit
Larutan iodium 1 ml 1 ml
Air suling 8 ml 8 ml
3. Segera baca serapan (A) pada
panjang gelombang 680 nm. Hitung
selisih serapan (∆A) antara tabung B
(pada t = 0 menit) dengan tabung U dari
tiap pH
4. Buatlah tabel berikut ini :
pH Abs Blanko (B) Abs Uji
(U) ∆Abs/MENIT (V)
1
3
5
7
9
11
5.
Buatlah kurva yang menggambarkan hubungan kecepatan reaksi
enzimatik (v = ∆Abs/menit) dengan pH.
E. Kesimpulan :
________________________________________________________________________________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
3. Pengaruh kadar
enzim terhadap aktifitas enzim
A.
Tujuan:Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding
lurus dengan konsentrasi enzim
B.
Dasar : Pada konsenrasi substrat tertentu, penambahan enzim
dengan konsentrasi bertingkat akan
meningkatkan pembentukan kompleks
enzim-substrat, sehingga jumlah produk
yang terbentuk akan meningkat.
C. Bahan dan pereaksi
1.
Liur, sebagai sumber amylase. Tampunglah 2 ml air liur di
dalam gelas kimia/tabung reaksi yang
bersih dan kering
2.
Liur 100x sebanyak 50 ml (pipet 0,5 ml liur + 49,5 ml aquadest)
3.
Liur 200x sebanyak 1 ml (pipet 0,5 ml liur 100x + 0,5 ml
aquadest)
4.
Liur 300x sebanyak 3 ml (pipet 1 ml liur 100x + 2 ml aquadest)
5.
Liur 400 x sebanyak 2 ml (pipet 0,5 ml liur 100x + 1,5 ml
aquadest)
6.
Liur 500x sebanyak 5 ml (pipet 1 ml liur 100x + 4 ml aquadest)
7.
Larutan pati 0,4 mg/ml dan Larutan iodium
D. Cara kerja
1.
Siapkan 5 pasang tabung reaksi yang bersih. Tiap pasangan
tabung diberi tanda ‘B’ untuk blanko
dan ‘U’ untuk uji
2.
Pipetkan kedalam tiap-tiap tabung :
LARUTAN TABUNG B TABUNG U
Larutan pati 0,4 mg/ml 1 ml 1 ml
Keram pasangan tabung pada suhu 37 oC
minimal selama 5 menit
Liur dengan pengenceran 100x, 200x, 300x,
400x dan 500x - 200 µl
Campurkan baik-baik, keram lagi pada
suhu 37 oC tepat 1 menit
Larutan iodium 1 ml 1 ml
Air suling 8 ml 8 ml
3.
Segera baca serapan (A) pada panjang gelombang 680 nm. Hitung
selisih serapan (∆A) antara tabung B
(pada t = 0 menit) dengan tabung U dari
tiap konsentrasi enzim.
4. Buatlah tabel
berikut ini :
Pengenceran Enzim Abs
Blanko (B) Abs Uji (U) ∆Abs/MENIT (V)
500x
400x
300x
200x
100x
5.
Buatlah kurva yang menggambarkan hubungan kecepatan reaksi
enzimatik (v = ∆Abs/menit) dengan
konsentrasi enzim.
E. Kesimpulan :
……………………………………………………………………………………………..….
……………………………………………………………………………………………..….
……………………………………………………………………………………………..….
………………………………………………………………………………………………...
4. Kerja beberapa
macam enzim
A. Enzim Urease
Pada percobaan ini, sebagai enzim digunakan
urease yang terdapat dalam kacang
kedelai. Urease merubah uream menjadi CO2 dan
NH3. Terbentuknya NH3 dapat
dilihat dengan perubahan warna dari
fenolftalein. Larutan urease dibuat sebagai
berikut : Campurkan 1 gram tepung
kedelai dengan 100 ml aquadest dan dikocok
selama 10 menit, lalu disaring dengan
kain kasa, tiap kali praktikum baru
dibuat.
1. Siapkan sebuah tabung
reaksi bersih dan kering. Masukkan 5 ml larutan
ureum 1%. Tambahkan 1 tetes fenolftalein
1%. Kemudian tambahkan 1 ml
larutan urease dan ditutup. Setelah
beberapa menit, cairan yang tadinya
tidak berwarna akan berwarna merah oleh
karena terbentuknya amoniak.
2. Percobaan diatas kita
kerjakan lagi dengan larutan urease yang telah
dipanaskan hingga mendidih dan
didinginkan kembali. Dengan prosedur
sebagai berikut:
-
Siapkan tabung reaksi yang berisi urease 3
ml, panaskan
hingga mendidih dan didinginkan
-
Siapkan lagi tabung reaksi bersih &
kering. Masukkan 5 ml
larutan ureum 1%. Tambahkan 1 tetes
fenolftalein 1%
-
Lalu masukkan 1 ml larutan urease yang telah
dipanaskan &
didinginkan diatas dan ditutup. Disini tidak
akan timbul warna merah karena
pada pemanasan urease tadi menyebabkan enzim
menjadi tidak aktif
c.
Percobaan diatas kita kerjakan lagi dengan larutan
urease
yang telah ditetesi larutan sublimat (HgCl2
1%). Cara kerjanya sebagai berikut:
-
Siapkan tabung reaksi yang berisi 2 ml urease dan
tambahkan
1 tetes larutan sublimat (HgCl2 1%)
-
Siapkan lagi tabung reaksi bersih dan kering.
Masukkan 5
ml larutan ureum 1%. Tambahkan 1 tetes
fenolftalein 1%. Lalu masukkan 1 ml
larutan urease yang telah ditetesi sublimat
-
Disini tidak akan timbul warna merah karena
logam-logam
berat menyebabkan denaturasi enzim.
d.
Gambarlah hasil percobaan dari ke-3 tabung tersebut.
e.
Kesimpulan :
……………………………………………………………………………………………..….
……………………………………………………………………………………………..….
……………………………………………………………………………………………..….
……………………………………………………………………………………………..….
B. Enzim Schardinger dalam
susu
Dalam susu terdapat semacam enzim
dehidrogenase yaitu Schardinger. Enzim ini
sanggup mengambil hydrogen dari aldehid
dan sebagai H akseptor digunakan biru
metil. Percobaan ini menggunakan
campuran biru metil dan formaldehid yang
dibuat dari 25 mg biru metil dilarutkan
dalam 195 ml akuades dan kedalamnya
ditambahkan 5 ml formaldehyde 40 %.
Sediakan 3 tabung reaksi yaitu tabung
a, b, dan c
1.
Tabung reaksi a diisi dengan 5 ml susu ditambah dengan 5 tetes
campuran biru metil dan formaldehyde
kemudian dikocok. Kemudian ditambahkan
sejumlah parafin liquid
2.
Tabung reaksi b diisi dengan 5 ml susu ditambah tetes campuran
biru metil dan formaldehyde
3.
Tabung reaksi c diisi dengan 5 ml susu yang terlebih dahulu
dimasak dan didinginkan kembali
ditambahkan 5 tetes campuran biru metil dan
formaldehyde kemudian dikocok.
Kemudian tambahkan sejumlah parafin liquid
4.
Ketiga tabung reaksi tersebut dimasukkan kedalam penangas air
pada suhu 37 – 40 oC
5.
Gambarlah hasil percobaan dari ketiga tabung tersebut. Buatlah
kesimpulan dari setiap percobaan
Hasil :
Kesimpulan :
……………………………………………………………………………………………..….
……………………………………………………………………………………………..….
……………………………………………………………………………………………..….
C. Enzim peroksidase susu
Susu mengandung suatu enzim peroksidase
yaitu enzim yang mengkatalisis reaksi :
H2O2
H2O + On
Untuk menunjukkan adanya enzim ini
dapat dipakai benzidin yang bila teroksidasi
akan menimbulkan warna biru atau guaiak
yang bila teroksidasi akan berwarna
merah. Kedalam tabung reaksi dimasukkan
3 ml susu ditambah 1 ml larutan guaiak
dan 1 ml larutan H2O2 3%. Setelah
dikocok akan timbul warna merah.
Hasil :
Kesimpulan :
DAFTAR PUSTAKA
1.
Murray RK, etal. Biokimia Harper ed.25. Jakarta: EGC. 2003
2.
Stryer L. Biokimia ed.3.vol.1.Jakarta:EGC.1999
3.
Stryer L.Biokimia ed.3.vol2.Jakarta:EGC.1999
4.
Pedoman kerja Boerhringer Mannheim.1982
5.
Pedoman Kerja Dyasys.2002/2003
6.
Penuntun Kerja Roche.1985
7.
Penuntun Praktikum Biokimia Kedokteran Gigi Bagian Biokimia FKUH
Makassar 2004
8.
Penuntun Praktikum Biokimia I Bagaian Biokimia FKUH. Makassar:
2002
9.
Biokimia Eksperimen Laboratoium bagian Biokimia FKUI.
Jakarta:Widya Medika.2001. Hal.82-87
10. Penuntun Praktikum
Biokimia II bagian Biokimia FKUH Makassar 2002.
LARUTAN PEYANGGA
A. PENDAHULUAN
Pada umumnya proses biologi yang terjadi di
dalam sel berada pada suatu
lingkungan yang berair. Air adalah suatu
substansi amfoterik yang dapat
berperan sebagai donor/penyedia proton (asam)
atau penerima proton (basa).
Dalam air murni, [H+] = [OH-] = [10-7].
Dengan kata lain. pH atau –log [H+] = 7
H2O ==========
H+ + OH-
Molekul asam dan basa ketika bercampur
dalam air pada suatu sel biologi atau
pada tabung uji akan bereaksi sehingga
dapat terjadi perubahan pH. Proses
reaksi biokimia dalam sel atau jaringan
sangat bergantung pada regulasi
konsentrasi hydrogen. pH secara
biologis dipelihara pada suatu nilai konstan
oleh penyangga alami.
Suatu larutan penyangga adalah larutan
yang terdiri dari campuran asam lemah
dengan basanya atau basa lemah
dengan asamnya. Penyangga ini berfungsi
mempertahankan pH sehingga penambahan
sejumlah kecil asam atau basa memberikan
pengaruh sangat kecil.
Persamaan Henderson - Hasselbalch
pH = pKa + log [garam] / [asam]
Persamaan ini menunjukkan hubungan
antara pH dan rasio asam dan konsentrasi
basa yang terkonjugasi. Persamaan ini
dapat digunakan untuk menentukan pH dari
suatu larutan jika perbandingan molar
dari penyangga ion ([HA] / [A-]) dan
pKa dari HA diketahui. Perbandingan HA
terhadap A- yang diperlukan untuk
mempersiapkan larutan penyangga pada
suatu pH yang spesifik dapat dihitung jika
pKa diketahui.
Asam (H+) yang ditambahkan pada larutan
penyangga, akan ternetralisir oleh A-
:
H+ +
A- → HA
Basa (OH-) yang ditambahkan pada
larutan penyangga akan dinetralisir oleh HA :
OH+ +
HA → A- +
H2O
System penyangga yang paling efektif
mengandung konsentrasi asam yang sama, HA
dan basa terkonjugasinya, A-.
Berdasarkan persamaan Henderson – Hasselbalch,
ketika [A-] sebanding dengan [HA], pH
sebanding dengan pKa. Jarak efektif dari
suatu system penyangga pada umumnya 2 pH
unit.
B. PERCOBAAN
I. Penyangga Standar
Asetat
Alat dan Bahan :
- pH meter
- tabung
reaksi
- asam
asetat 0,1 N
- natrium
asetat 0,1 N
Cara Kerja :
1. Siapkan 4 tabung,
berikan label nomor tabung
2. Masukkan asam asetat
0,1 N dan natrium asetat 0,1 N ke dalam setiap
tabung dengan jumlah sesuai dengan table di
bawah ini :
Hasil :
No. tabung ml asam asetat 0,1N ml natrium
asetat 0,1 N pH
1 18,5 1,5
2 14,7 5,3
3 4,2 15,8
4 1,9 18,1
1. Tentukan
pH dari larutan diatas dengan menggunakan persamaan
Handerson-Hasselbach!
1. Tentukan
pH dari larutan diatas dengan menggunakan pH-meter
II. Larutan
pH dalam berbagai pH
Alat dan bahan :
- pH meter
- tabung
reaksi
- kalium
klorida 0,2 M
- asam
asetat 0,1 N
- kalium
ftalat
Cara kerja :
1. Siapkan
5 tabung dan berikan tanda pada setiap tabung sesuai dengan pH
2. Tambah
ke dalam setiap tabung larutan sesuai dengan table di bawah ini
:
Hasil :
pH Larutan garam Larutan asam/alkali Larutan
Pati 2%
1 5 ml KCl 0,2M 8 ml HCl 0,2N
3 5 ml Kalium ftalat 0,02M 2 ml HCl
0,2N
5 5,9 ml asam asetat 0,1N 14,1 ml natrium
asetat 0,1N
7 6,1 ml M/15 dinatrium phosphate 3,9 ml M/15
kalium asam phospat
9 5 ml asam borat 0,2 M 2,1 ml NaOH 0,2
N
Setelah itu tambahkan aquadest hingga volume
larutan menjadi 20 ml
Untuk membuat 20 ml larutan pati 0,4 gr/ml,
berapakah jumlah larutan pati 2%
yang harus ditambahkan?
MEMBRAN BIOLOGI
Hemolisis sel darah merah
Tujuan : Memperlihatkan bahwa membran sel
darah merah dapat mengalami lisis
dalam pelarut organik.
Dasar : Membran sel darah merah (SDM) antara
lain mengandung lipid. Bila SDM
dimasukkan ke dalam larutan yang mengandung
pelarut organik, maka lipid membran
akan larut, sehingga terjadi hemolisis.
Bahan dan pereaksi :
1.
Suspensi darah
2.
NaCl 0,9%
3.
kloroform
4.
eter
5.
aseton
6.
toluen
7.
alkohol
8.
tabung reaksi
Pelaksanaan :
1.
Ke dalam 6 tabung reaksi dimasukkan masing-masing 10 mL NaCl
0,9%. Tabung pertama digunakan sebagai
kontrol, dan kelima tabung lainnya
tambahkan masing-masing 2 tetes kloroform,
eter, aseton, toluen dan alkohol
berurutan lalu tutup.
2.
Tambahkanlah kedalam tiap tabung 2 tetes suspensi darah dan
tutup, campur dengan membaliknya
perlahan-lahan, biarkan selama setengah jam
(jangan dikocok). Perhatikan warna yang
terbentuk pada larutan bagian atas &
bandingkan dengan kontrol.
Hasil percobaan :
Pelarut Hemolisis
Kontrol (NACl 0,9%)
Kloroform
Eter
Aseton
Toluen
Alkohol
Kesimpulan :
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Pengaruh larutan hiper/hipotonik terhadap
membran sel darah merah
Tujuan : Memperlihatkan pengaruh larutan
hiper/hipotonik terhadap membran sel
darah merah.
Dasar : SDM akan mengkerut bila berada
dalam larutan hipertonik terhadap
tekanan osmotik plasma. Dalam larutan
yang hipotonik, cairan dari luar sel
masuk ke dalam sel sehingga SDM akan
membengkak, dan akhirnya terjadi
hemolisis. Hemoglobin dalam SDM akan
larut dalam larutan, sehingga memberi
warna merah jernih pada larutan.
Bahan dan pereaksi :
1. Suspensi darah
2. NaCl 2%
Pelaksanaan :
1. Ke dalam 10 tabung
reaksi isikan campuran berikut ini:
Tabung Air suling (ml) NaCl 2% (ml) %
NaCl
1.
10,0 0,0
2.
9,0 1,0
3.
8,0 2,0
4.
7,5 2,5
5.
7,0 3,0
6.
6,5 3,5
7.
6,0 4,0
8.
5,5 4,5
9.
5,0 5,0
10.
4,5 5,5
2.
Campur dengan baik. Tambahkan 2 tetes suspensi darah ke dalam
setiap tabung & campur dengan membaliknya
perlahan-lahan. Diamkan selama 1 jam.
Perhatikan dan catat derajat hemolisis pada
tiap-tiap tabung.
Hasil percobaan :
Tabung no. Kadar NaCl Hemolisis
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Kesimpulan :
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Pertanyaan :
1. Apakah yang dimaksud
dengan hemolisis?
2. Berapakah resistensi
osmotik minimum SDM?
Jawaban:
________________________________________________________________________
Posting Komentar
GOOD MEDICAL STUDENT NOW
GOOD MEDICAL DOCTOR TOMORROW