I. PENDAHULUAN
ü Sirkumsisi
adalah tindakan membuang sebagian preputium sehingga glans penis menjadi
terbuka.
ü Sirkumsisi
biasa juga disebut khitan yang berasal dari Bahasa Arab “Khitan” yang artinya
memotong.
ü Ada beberapa
istilah yang dipakai dalam masyarakat tertentu yang berhubungan dengan khitanan
:
-
Sunatan, yang berasal dari Bahasa Arab
“Sunnah” yang berarti jalan hidup para Nabi dan Rasul.
-
Thahir, yang artinya membersihan karena dengan
dipotongnya preputium maka penis dengan gampang dibersihkan.
ü Tindakan bedah
minor paling banyak dilakukan di seluruh dunia,dikerjakan oleh dokter, paramedis
dan dukun sunat.
ü Indikasi sirkumsisi ditinjau dari berbagai aspek :
-
Aspek agama.
-
Aspek medis.
-
Aspek budaya/adat istiadat.
Aspek Agama
o
Dianggap ciri keislaman seseorang.
o
Dianggap syariat, sehingga mempengaruhi
keabsahan memeluk agama islam.
-
Firman
Allah dalamSurah An-Nisa’ : 125
“Dan
siapakah di antara kamu yang lebih baik agamanya dan orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan dan ia
mengikuti agama Ibrahim yang lurus dan Allah mengambil ibrahim, menjadi
kesayangannya”.
-
Hadits Nabi
1.
Sayyim bin Kutai, ayahnya pernah datang ke
Rasulullah SAW dan berkata “Saya masuk Islam” maka Rasulullah bersabda
hilangkan rambut kekufuran (bercukur) dan harus berkhitan.
2.
Riwayat Imam Baihaqi menegaskan dari
Suyyidinah Ali : Sesungguhnya yang kuncup (Aqlab) dalam Islam tidak ketinggalan
melainkan harus berkhitan walaupun umurnya 80 tahun.
-
Sunnah Nabi
§ Ayat yang
dijadikan hujjah tidak relevan secara langsung.
§ Hadist yang
dijadikan rujukan tidak kuat.
§ Khitan
termasuk fitrah, yakni kembali kesucian pribadi sesuai dengan hadits Nabi
Muhammad : fitrah itu ada lima
macam yaitu mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencukur bulu ketiak,
memotong kumis, dan berkhitan.
-
Bila
Dikaitkan dengan Shalat Mengandung Makna
§ Bersih dari
kotoran najis.
§ Momentum
untuk memantapkan perhatian anak-anak terhadap pelaksanaan shalat secara
continue.
-
Usia Saat
Berkhitan
§ Menurut
ketentuan syara’ tidak jelas.
§ Rasulullah
SAW mengkhitankan cucunya saat neonatus (hari
8).
§ Umumnya
umat muslim di Indonesia saat usia 7 – 15 tahun.
Aspek Medis
Indikasi sirkumsisi secara medis terdiri atas :
ü Preventif :
-
Menjaga higene penis
dan smegma serta sisa urine.
-
Mencegah terjadinya infeksi.
-
Mencegah timbulnya karsinoma.
ü Kuratif :
-
Fimosisi : preputium yang hampir menutupi ostium uretra
sehingga susah miksi.
-
Parafimosis : reputium yang menjepit di
corona penis.
-
Balanitis rekuren : peradangan pada selaput
glans.
-
Kondiloma akuminata : kutil seperti kembang
kol.
Kontraindikasi
sirkumsisi secara medis terdiri atas :
-
Absolut :
ü
Hipospadia : ostium uretra yang terletak di dorsal.
ü
Epispadia : ostium uretra yang terletak di ventral.
ü Korda :
penis bengkok.
ü Megalouretra
: Uretra membesar.
ü Webbed
penis : penis yang terbungkus.
- Relatif :
ü
Hemofilia : penyakit
keturunan, gangguan pembekuan darah.
Aspek Budaya/Adat Istiadat
ü Telah lama dikenal dalam sejarah.
ü Bangsa
Mesir kuno mengenal khitan sejak 1400 tahun SM.
ü Tujuan
awalnya sirkumsisi adalah untuk :
-
Membedakan dengan golongan lain.
-
Menjaga diri dari sihir.
-
Darahnya dapat menyuburkan tanaman.
-
Mempersiapkan hidupnya menjadi lebih dewasa
II.
ANATOMI
PENIS
v Penis
merupakan salah satu organ genitalia masculine.
v Terdiri
dari 2 bagian besar :
- Bagian yang terfiksir : radiks penis.
- Bagian yang bebas : corpus penis.
v Penis di
sokong oleh dua ligamen yaitu :
-
Ligamentum fundiform penis : bagian bawah
linea alba.
-
Ligamentum suspensorium penis : ke depan
simfisis pubis.
Radiks Penis
Ø Dua crura penis
yang melekat di sisi arcus pubis akan berlanjut ke depan membentuk korpus
cavernosum.
Ø Satu bulbus
penis yang melekat diinferior fascia diafragma urogenitalia akan berlanjut
membentuk corpus spongiosum.
Corpus Penis
Ø Dibentuk
oleh dua jaringan erektil :
-
Corpus cavernosum.
-
Corpus spongiosum.
Ø Bagian yang
menghadap ke atas : dorsum penis.
Ø Bagian yang
menghadap ke bawah : ventral penis.
Ø Corpus
cavernosum :
-
Bentuk silindris, bagian terbesar, membentuk
bagian dorsal dan lateral penis.
-
Dikelilingi oleh jaringan ikat fibrosis :
tunics albuginea, dibagian media membentuk septum
penis.
-
Kedua korpus tidak mencapai bagian distal, ujungnya
ditutupi oleh glans penis.
Ø Corpus
spongiosum :
-
Bentuk silindris, meruncing ke depan, di
kelilingi tunica albuginea.
-
Di dalamnya terdapat uretra.
-
Dibagian distal melebar dan membentuk kubah
glans penis.
-
Di bagian dasar glans terdapat penonjolan :
corons glandis.
-
Di puncak glans ada celah sagitalis
: orificium urethrae externum.
Ø Kulit penis
:
-
Tipis, warna gelap, tidak berambut.
-
Kulit dapat digeser sepanjang corpus tetapi
melekat erat di glans dan collum penis.
-
Lipatan kulit yang menutupi seluruh glans
disebut preputium.
-
Di permukaan bawah glans penis, bagian median
terdapat lipatan kulit yang meruakan bagian preputium yang disebut frenulum.
Ø Vaskularisasi
-
Arteri berasal dari
pudenda interna :
1.
Arteri bulbi penis : perdarahi corpus
spongiosum
2.
Arteri urethralis : perdarahi corpus
spongiosum
3. Arteri profunda penis : perdarahi corpus cavernosum
4. Arteri dorsalis penis : kulit, fascia, dan glans.
-
Vena :
1.
Vena dorsalis penis dari glans penis,
preputium, vena yang menembus tunica albuginea--plexus prostaticus.
2. Vena dorsalis penis superfisialis dari kulit, jaringan subkutan ke vena
pudenda externa superfisialis.
-
Aliran limfe :
1. Dari kulit penis ke kelenjar
inguinalis superfisialis.
2.
Glans penis ke kelenjar inguinalis profunda.
3. Struktur dalam ke kelenjar iliaca interna.
-
Persarafan :
1.
Nervus dorsalis penis (lanjutan nervus pudenda)
persarafi kulit penis, glans penis, corpus spngiosum.
2. Ramus profundus nervus perinealis persarafi corpus spongiosum, urethra.
3.
Nervus ilioinguinalis persarafi kulit pangkal
penis.
4.
Nervus cavernosus penis (otonom), berasal
dari truncus symphaticus dan nervus sacralis 2 – 4 lewat plexuspelvicus
pesatafi jaringan erektil.
Gbr. Penampang Anatomi Penis
Mekanisme Ereksi
Ereksi
penis terjadi melalui 3 jalur :
Ø Ereksi
psikogenik
Mulai dari
sentral melalui rangsangan fisual auditoris, olfactorius, fantasi imajinasi
akan menuju medulla spinalis servical 2 – 4 / lumbal 2 – 4 dan nervus
erigentes.
Ø Ereksi
refleksigenik
Melalui
rangsangan pada organ genital yang di hantar nervus dorsalis penis menuju
medulla spinalis sacral 2 – 4 , nervus erigentes.
Ø Ereksi
nocturnal
Terjadi
pada pagi hari akibat vesica urinaria yang penuh menimbulkan rangsangan
sensorik kemudian ke medulla spinalis sacral 2 – 4, nervus erigentes.
Rangsangan pada nervus uregen tes dapat menyebabkan vasodilatasi sehinga
trabekel/arteriol terbuka dan darah tersembur masuk ke dalam ronga lakunes,
tunika albuginea meregang. Hal ini menyebabkan vena-vena tertekan dan aliran balik
terhambat, terjadilah ereksi.
III. LUKA DAN PENANGANANNYA
·
Luka (vulnus) merupakan hilangnya/rusaknya
sebagian jaringan tubuh.
·
Beberapa hal yang menyebabkan luka :
-
Trauma mekanis : tumpul, tajam.
-
Trauma elektris : listrik, petir.
-
Trauma termis : panas, dingin.
-
Trauma kimia : asam, basa.
·
Jenis-jenis luka, yaitu :
-
Luka tertutp : tidak ada hubugan dengan dunia luar.
-
Luka terbuka :
1. Vulnus excoriatum (luka lecet)
2. Vulnus scissum (luka sayat)
3. Vulnus laceratum (luka robek)
4. Vulnus punctum ( luka tusuk)
5.
Vulnus sclopektoum (luka tembak)
6. Vulnus ictum
Kekuatan
Jaringan
Jaringan
adalah kelompok atau lapisan sel-se khusus yang serupa, yang secara bersama-sama
membentuk fungsi-fungsi tetentu. Kekuatan jaringan sendiri berarti kemampuan
jaringan untuk mempertahankan kontinuitasnya terhadap tekanan yang diterimanya.
A.
Kekuatan Daya Regang
Beban tiap potong
lintang perluasan daerah rupture, tergantung sifat dasar dan bahan dibandingkan
tebalnya jaringan.
B.
Ketahanan
Beban yang
dibutuhkan untuk memutuskan luka tanpa memperhatikan luasnya luka.
C.
Kekuatan Tekanan
Jumlah
tekanan yang dibutuhkan untuk merobek viskus dan organ dalam yang besar.
Kekuatandaya regang mempengaruhi kemampuan jaringan untuk bertahan terhadap
jejas tetapi tidak berhubungan dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk
penyembuhan jaringan. Kulit dan fasis adalah jaringan terkuat dalam tubuh,
keduanya memperoleh kembali daya regangnya dengan lambat selama proses
penyembuhan. Lambung dan usus kecil merupakan jaringan yang lunak tapi sembuh
dengan cepat. Variasi kekuatan jaringan juga ditemukan pada organ yang sama,
tetapi keduanya sembuh pada waktu yang bersamaan.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kekuatan jaringan :
-
Ukuran.
-
Umur.
-
Berat badan penderita.
-
Ketebalan jaringan.
-
Adanya edema dan indurasi.
Respon Jaringan Terhadap Luka
§ Fase I
-
Dalam bebrapa hari.
-
Respon inflamasi menyebabkan keluarnya cairan
jaringan.
-
Akumulasi sel-sel dan fibroblast.
-
Meningkatnya suplai darah di daerah
luka.
-
Leukosit dan sel-sel yang
menghasilkan enzim proteolitik melarutkan dan membersihkan debris atau jaringan
yang rusak.
§ Fase II
-
Setelah proses debris deman berlangsung.
-
Fibroblast mulai membentuk serat-serta
kolagen pada luka.
-
Kollagen adalah substansi protein yang
merupakan unsur utama dari jaringan ikat.
-
Formasi serat kollagen menentukan kekuatan
daya regang dan kelenturan pada penyembuhan luka.
§ Fase III
-
Setelah kolagen cukup untuk saling menyilang
pada luka.
-
Luka sudah dapat menahan tekanan yang normal.
-
Panjang fase ini bervariasi tergantung : tipe
jaringan dan tekanan atau tegangan yang diakibatkan oleh luka selama periode
ini.
Klasifikasi Luka
Luka-luka
operasi dibagi atas 4 kategori, berdasarkan atas penilaian klinik terhadap
kontaminasi bakteri dan resiko terjadinya infeksi.
a.
Luka Bersih
-
75 % dari semua luka (umumnya elektif)
termasuk dalam kategri ini.
-
Luka bersih sembuh secara primer dan tidak
memerlukan drainase.
-
Tidak memerlkan manipulasi di eavumorofanik
atau respiratorik, saluran cerna, atau traktus urogenital.
b.
Luka Bersih Yang Tekontaminasi
-
Appendiktomi dan
operasi vagina termasuk dalam ketegori ini.
-
Luka bersih yang
terkontaminasi akibat menyebarnya isi lumen ke dalam organ dalam.
-
Luka ini umumnya
melibatkan flora normal dalam tubuh.
-
Manipulasi pada
beberapa bagian dan cavum orofaring.
-
Jika traktis respiratorius dan digestivus
dimanipulasi tidak akan ada penyebaran yang bearti.
-
Bila traktur urogenitalis dan biler yang
dimanipulasi tidak akan ditemukan kontaminasi urin dan cairan empedu yang
terinfeksi.
c.
Luka Terkontaminasi
-
Luka trauma yang baru, seperti laserasi
jaringan lunak fraktur terbuka, luka penetrasi.
-
Operasi pada traktus gastrointestinal dapat
menyebabkan penyebaran infeksi yang luas.
-
Operasi traktus urogeitaslis dan bilier
menyebabkan kontaminasi urine dan empedu.
-
Operasi yang dilaksanakan tidak aseptik
(seperti pada gawat darurat masase jantung terbuka).
-
Mikroorganisme berkembangbiak secara cepat
dalam waktu 6 jam pada luka yang terkontaminasi.
d.
Luka Kotor dan Infeksi
-
Luka terkontaminasi dengan hebat.
-
Secarah klinis telah terinfeksi lebih dahulu
sebelum operasi.
-
Termasuk di sini adalah perforasi viscera,
abses, atau luka trauma yang lama disertai dengan jaringan yang rusak dan
adanya benda asing yang tertahan.
-
Infeksi yang terjadi pada saat operasi dapat
mengakibatkan peningkatan kecepatan infeksi pada beberapa luka sekitar 4
kalinya.
Perbaikan Luka
Bebarapa
faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka adalah :
1.
Umur pasien
-
Kulit, otot kehilangan tonus dan elastisitasnya.
-
Metabolisme lambat dan sirkulasi
terganggu.
2.
Berat badan pasien
-
Kelebihan lemak di daerah luka, menghambat
penyembuhan.
-
Lemak kurang mendapat suplai darah, sehingga
jaringan mudah mengalami trauma dan infeksi.
3.
Status nutrisi
Defisiensi
karbohidrat, protein, Zn, Vitamin A, B, C menghambat penyembuhan.
4.
Dehidrasi
Dehidrasi
menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit yang dapat mempengaruhi fungsi
jantung, ginjal, oksigenasi metabolisme seluler oleh darah, dan fungsi hormon.
5.
Suplai darah tidak adekuat di daerah luka
Luka akan
sembuh dengan cepat pada daerah muka dan leher dibandingkan di daerah
ekstremitas.
6.
Keadaan respon imun pasien
-
Pasien yang terinfeksi HIV, kemoterapi,
pemakaian lama steroid dosis tinggi dapat melemahkan respon imun.
-
Alergi terhadap bahan jahitan atau bahan dari
campuran metal, mempengaruhi proses penyembuhan luka.
7.
Adanya penyakit kronik
Pasien
dengan penyakit menahun, gangguan endokrin , diabetes melitus.
8.
Keganasan, keadaan yang melemahkan luka,
lokalisasi luka.
9.
Imunosupressif kortikosteroid, antikanker,
hormone, radiasi.
Betuk-Bentuk Penyembuhan Luka
Penyembuhan
luka yang terisi dengan jaringan granulasi kemudian ditutup jaringan epitel dan
disebut dengan penyembuhan sekunder (sanatio per secundam intentinem). Penyembuhan
luka dengan jaringan parut yang minimal biasanya dilakukan dengan bantuan dari
luar yakni jahitan yang bertujuan untuk mempertautkan kedua tepi luka. Penyembuhan
semacam ini disebut penyembuhan per
primaam/primer (sanatio per primemintentionem).
Fase- Fase Penyembuhan Luka
1. Fase I - Respon Inflamasi (1 – 5 hari )
- Terjadi
eksudasi cairan plasma yang mengandung protein, sel-sel darah merah, fibrin,
dan antibodi pada luka.
- Eskoriasi
terbentuk di permukaan luka untuk menutupi cairan eksudat tadi dengan tujuan
mencegah invasi mikcobakteri.
- Inflamasi
mengakibatkan migrasi lekosit ke daerah luka menyebabkan edema, nyeri, demam,
dan kemerahan di sekitar luka.
- Lekosit memfagosit jaringan rusak,
mikroorganisme, benda asing.
- Monosit dan sum-sum tulang bermigasi ke
arah luka dan berubah menjadi makrofag, menfagosit sisa jaringan rusak dan
menghasilkan enzim proteolitik.
- Sel - sel basah dan pinggir luka pada kulit
bermigrasi ke bekas insisi untuk menutup permukaan luka.
- Fibroblast yang berada di jaringan ikat
yang lebih dalam mulai memperbaiki jaringan nonepitel.
- Selama fase inflamasi akut, jaringan tidak
memperoleh kekuatan daya regang, tetapi tergantung pada bahan penutup yang
mengikatnya.
2. Fase II - Migrasi/Proliferasi (5
– 14 hari)
- Beberapa minggu menyatakan hingga minggu
ketiga.
- Fibroblast bermigrasi ke arah luka dan membentuk kollagen dan
fibrin, fibronektin (pengaruh enzim dan darah sel sekitar luka) sehinga fase
ini disebut juga fase fibroplasia.
- Fibroblast
mengandung myofibroblast yang dapat berkontraksi dan menyebabkan tarikan pada
tepi luka.
- Hari ke-5,
timbunan kollagen dengan cepat meningkatkan kekuatan daya regang luka.
- Protein plasma
membantu aktivitas seluler untuk mensintesa jaringan fibrous selama stadium
penyembuhan ini.
- Kolagen
ditempatkan juga pada jaringan ikat yang rusak lainnya.
- Rekanalisasi
limpatik, neovaskuarisasi, terbentuknya jaringan granulasi, dan bertambahnya
jumlah kapiler bertujuan untuk memelihara fibroblast beberapa keadaan ini
tampak pada stadium akhir penyembuhan.
- Pada fase ini,
serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk menyesuaikan diri dengan tegangan
pada luka yang cenderung mengerut. Pada akhir fase ini kekuatan regangan luka
mencapai hingga 25 % kekuatan jaringan normal.
3.
Fase III – Maturasi/Remodeling ( hari ke-14 sampai dengan penyembuhan komplit)
-
Tidak ada perbedaan
yang jelas antara faseII dan fase III.
-
Penyembuhan mulai
dengan cepat selama fase ini kemudian berkurang secara progresif.
-
Kulit mendapatkan
kembali daya regangnya sekitar 70 % samapi 90 %.
-
Saluran cerna
mendapatkan kembali 100 % kekuatan daya regangnya hanya dalam waktu 1 minggu.
-
Kandungan kolagen
tetap, tetapi kekuatan daya regangnya bertambah karena susunan dan
“cross-linked” serabut kolagen.
-
Timbunan jaringan
ikat fibreus mengakibatkan terbentuknya jaringan parut.
-
Pada penyembuhan yang
normal, kontraksi luka terbentuk selama beberapa minggu atau berbulan-bulan.
-
Densitas kollagen
meningkat, susunan pembuluh darah berkurang, dan bertambahnya jaringan parut
yang lebih muda.
Penyembuhan
Persekumdum
- Kalau luka
gagal sembuh dengan penyembuhan primer.
- Disebabkan
oleh infeksi, trauma berat, kehilangan jaringan, atau pengelolaan jaringan
tidak tepat.
-
Luka dibiarkan
terbuka yang memungkinkan untuk sembuh mulai dan lapisan dalam menuju ke permukaan.
-
Jaringan granulasi
yang mengandung myofibroblast berkontraksi menutup luka.
-
Proses penyembuhan
luka berlangsung lambat.
-
Jaringan granulasi
dan jaringan parut pada umumnya terbentuk (jadi jaringan granulasi tersebut
harus dingkat agar tidak mengganggu proses epitelisasi).
Penyembuhan
Pertertium
-
Seperti hanya dengan
penutupan primer yang terlambat, penyembuhan pertertium terjadi karena kedua
permukaan jaringan granulasi tumbuh bersama-sama.
-
Merupakan cara
penyembuhan yang aman untuk luka terkontaminasi : luka kotor, luka trauma yang
terinfeksi akibat hilangnya jaringan yang luas da tingginya resiko terjadinya
infeksi.
-
Perlu dibersihkan
jaringan yang rusak dan membiarkannya agar tetap terbuka.
-
Biasanya penutupan
luka dilakukan 5 hari setelah mengalami perlukaan.
Komplikasi
Penyembuhan Luka
1. Infeksi
- Kunci
pengobatan yang efektif adalah dengan cepat mengidentifikasi patogenesanya.
- Kultur jaringan
harus dianalisis dan diidentifikasi mikroorganismenya.
- Penggunaan
antibiotik harus segera dimulai pada selulitis dan fascitis berdasarkan hasil
kultur.
2. Gangguan terhadap luka
- Terutama
pada orang tua dan lemah.
- Laki-laki
lebih sering.
- Sering pada
hari ke 5 – 12 postoperasi.
3. Dehisensi
- Luka terlipat dan terbuka (splitting open).
- Luka terbuka adalah pemisahan sebahagian
atau seluruhnya lapisan jaringan setelah penutupan.
- Terlipatnya jaringan dapat terjadi karena :
banyaknya tekanan pada jaringan yang baru di jahit.
4. Eviserasi
- Ditandai
dengan menonjolnya usus melalui luka pada abdomen yang sebelumnya telah
ditutup.
- Akibat
tinginya tekanan intraabdominal : kembung, mual, dan batuk setelah pembedahan
akan meningkatkan tekanan pada luka.
IV.
ASEPTIK DAN ANTISPTIK
Defenisi
-
Aseptik adalah bebas dari bahan-bahan
yang menyebabkan sepsis.
- Anti septik adalah bahan-bahan yang
menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme tanpa menghancurkan
mikroorganisme tersebut.
- Sterilisasi adalah usaha untuk membebaskan
alat-alat, bahan-bahan dari kehidupan mikroorganisme atau steril.
- Disenfeksi adalah usaha membebaskan.
Sejarah
Sampai abad
XVIII :
-
Operasi tanpa anestesi tanpa memperhatikan
prinsip-prinsip aseptik/antiseptik.
-
Banyak meninggal karena sepsis.
-
Akhir Aba XVIII : Alkohol digunakan dalam
tindakan operasi.
-
1857 : Lois Pasteur (pemanasan).
-
1860 : Josep Lister
-
Wound infection come from outside of the body
and was introduce by contamination of accidental or incised would’s by direck
contact with air or physical object.
-
Corbalic acid spray + corbalic acid dreesing
at operation contaminated open fracture.
Prinsip-Prinsip
Anti Septik
-
Mencegah infeksi.
-
Mencegah bakteri masuk ke dalam tubuh/luka.
Prosedur
Aseptik
-
Ruangan operasi
-
Sedapat mungkin bebas dari kontaminasi
bakteri.
-
Ventilasi yang tepat dapat membersihkan
bakteri dan udara dengan cepat.
-
Sumber kontaminasi terpenting adalah
penderita dan sekunder adalah tim operasi.
-
Jangan terlalu banyak
personil dalam ruangan operasi.
-
Bicara dengan
seperlunya saja.
-
Penderita
-
Infeksi yang timbul
dari genrasi diklasifikasikan sebagai kontaminasi bersih, kontaminasi kotot
terutama disebabkan oleh bakteri yang telah ada dalam lapangan operasi.
-
Penyiapan kulit
penderita sebelum insisi merupakan salah satu metode terpenting untuk
mengurangi infeksi pada operasi bersih.
-
Antiseptik yang sering digunakan untuk kulit
yang utuh adalah iodophors (bethadine).
-
Tim opeasi
-
Tim operasi harus mencuci dengan
menggosok/menyikat tangan dengan bahan antiseptik sebelum operasi.
-
Selama operasi harus memakai masker yang
menutupi mulut dan hidung.
-
Memakai sarung tangan (handscoen) yang
memiliki fungsi :
- Melindungi penderita dari tangan operasi.
- Melindungi operasi dari darah penderita yang mungkin
terkontaminasi.
-
Memakai jas operasi steril yang berfungsi
sebagai barier untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme ke penderita.
-
Memakai kain atau doek steril untuk membatasi
dan mempertahankan lapangan steril selama prosedur operasi.
-
Instrumen dan peralatan operasi yang
digunakan harus steril.
Bahan-Bahan
Anti Septik
-
Yodium : masih ampuh, membakar kulit.
-
Iodhopor : yodium, bakterisida.
-
Alkohol : banyak digunakan untuk disinfeksi,
sifat bakterisida kurang.
-
Mercuri : cukup ampuh, mercijochrom tidak
efektif, senyawa mercuri organic lebih efektif, misalnya : timerosal
(mertheobate) yang sifatnya non toxic, bakteriostatik tidak membunuh spora.
-
Larutan khorheksidin glukonat
-
Larutan deterjen : heksaklorofen
-
Cara
Disinfeksi Kulit Daerah Operasi
-
Bahan :
a.
Podvidine iodine 1 % = 2 menit.
b.
Iodine 1 % = 2 menit.
c.
Etanol 70 % = 2 menit.
-
Cara :
1.
Mulai dari tengah ke luar (sentrifugal)
2.
Tidak boleh di ulang pada satu tempat dengan
menggunakan kain kasa yang sama.
Cara
Disenfeksi Pada
Tangan
-
Mencuci tangan.
- Memakai sarung tangan (handscoen).
Cara :
1. Cuci selama 5 – 10 menit dengan menggunakan sikat dan sabun.
2. Mulai dari telapak tangan, ujung jari-jari dan kuku, ventral ke dorsal
sampai ke siku.
3. Dibilas pada air yang mengalir.
4. Lap dengan kain steril.
V.
STERILISASI
Sterilisasi adalah usaha untuk membebaskan alat-alat, bahan-bahan dari
kehidupan mikroorganisme atau steril. Ada beberapa cara sterilisasi alat yaitu
:
- Secara Fisik
1. Pemijaran.
- Untuk
alat-alat yang tidak rusak dengan api seperti : pinset, gunting, atau pisau.
- Bakar di
atas nyala api/spritus (oven).
2. Udara Panas/kering.
- Untuk
alat-alat yang terbuat dari gelas/kaca atau jarum suntik.
- Suhu 1600
– 1800 selama 1 – 2 jam.
3. Dengan uap air panas.
- Untuk alat
dan bahan yang tidak tahan panas sampai suhu 1000 C.
- Dikukus (pakai dandang).
4. Sterilisasi dengan uap air panas bertekanan.
- Paling
baik.
- Mudah
penetrasi panas ke dalam sel bakteri.
- Biasanya
untuk baju da kain operasi instrumen dll
- Autoclav
120 C dengan tekanan 1-2 atm selama 15-20 menit.
5. Sterilisasi dengan air mendidih.
- Untuk
alat-alat yang tidak tahan dengan panas seperti instrumen operasi atau didihkan
air telebih dahulu lalu masukkan alat sampai 15 menit.
- Masak pada
suhu 1000 C selama lebih dari 15 menit.
6. Sterilisasi dengan penyinaran.
- Dengan
menggunakan cahaya gelombang pendek biasanya dengan sinar ultra/sinar rontgen.
- Secara Kimia
1. Alkohol
- Biasanya etanol 70 - 90 %.
- Merusak struktur lipid
mikroorganisme.
- Pada suhu kamar spora tidak
mati.
- Tidak cocok untuk
strerilisasi alat.
- Lebih
efektif bila dikombinasi dengan formaldehid 100 gr/dl dan klor 2 gr/dl.
2. Glutoral dehida
- Membunuh bakteri dan spora.
- Kurang toxic dibanding
formaldehid.
- Tersedia
dalam larutan konsentrasi 2 gr/dl (2 %).
- Efek
samping iritasi, toxic mutagenik. Hindari kontak dengan kulit, mata dan saluran
napas.
3. Formaldehid
- Untuk semua mikroorganisme.
- Efektif pada kelembaban 70 %.
- Tersedia
dalam bentuk padat tablet dalam air (formalin).
- Gas
formaldehid untuk sterilkan ruangan.
VI.
ALAT DAN BAHAN
- Needle holder.
- Jarum jahit (hecting).
- Gunting :
- Jaringan
- Benang
- Pinset :
- Anatomis
- Jaringan
- Klem :
- Pean : lurus dan bengkok.
- Masquito : lurus dan bengkok.
- Pemegang pisau (scalpel).
- Mata pisau (bisturi) no :
- Spoit 3 cc dan needle.
- Benang : absorban (Cromik dab
cat gut)
Nonabsorban (plain)
- Sarung tangan (handscoen).
- Doec steril.
- Tempat betadin.
- Masker.
- Kasa steril.
- Plester.
- Lidocain 2 %.
- Aquades.
- Obat-obatan :
- Salep kulit
(oxytetraciclin 3 % )
- Antibiotik
(amoxicylin/ampicilin 3 x 1/2) dosis 5 hari
untuk anak-anak.
- Anelgetik
(asam mefenamat/paracetamol 3 x ½) dosis 5 hari untuk anak - anak.
- Vitamin
(C/B.comp dosis 2 x 1) untuk 5 hari.
- Tetanus
toxoid 0,5 cc.
VII.ANESTESI LOKAL
-
Anastetik
lokal adalah suatu obat yang dapat memblok secara reversible konduksi suatu
impuls saraf. Secara kimiawi merupakan zat kimia yang struktur kimianya terdiri
atas 3 komponen :
1. Gugusan aromatik (benzen).
2. Gugusan amino.
3. Rantai intermediate : amid dan ester
- Perbedaan Ester dan Amide :
1. Ester:
-
Relatif tidak stabil.
-
Dimetabolisme dalam
plasma dan enzim pseudocholinesterase.
-
Masa kerja pendek.
-
Relatif tidak toksik.
-
Dapat bersifat
slergen karena strukturnya mirip PABA (para amino benzoic acid).
2. Amide :
-
Lebih stabil
-
Dimetabolisme dalam
hati
-
Masa kerja lebih
panjang
-
Tidak bersifat
alergen
- Contoh Anestetik Lokal :
1. Ester :
-
Procain (novocain).
-
Chlorprocaine
(nesacaine).
-
Tetracaine
(pontocain).
2. Amide :
-
Lidocain (xylocaine).
-
Mepivacaine
(cabocaine).
-
Bupivacain
(marcaine).
-
Ropivacain (noropin).
- Pemilihan Suatu Anastesi Lokal Di Dasarkan Atas :
1. Potensinya (potency).
2. Mula kerja (onset time).
3. Lama kerja (duration of effect).
4. Saraf yang akan diblok (specific nerve).
- Farmakokinetik Suatu Anestetik Lokal Ditentukan Oleh 3 hal :
1. Lipid/water solubility ratio, menentukan onset.
2. Protein binding, menentukan duration of action.
3. pKa, menentukan keseimbangan antara bentuk kation dan basa. Makin rendah
pKa makin banyak basa dan makin cepat onsetnya.
- Perbedaan Intoksikasi dan Alergis
1. Intoksikasi :
-
Berlaku umum.
-
Tergantung dosis.
-
Gejala berbeda.
-
Pengobatan berbeda.
2. Alergis :
-
Individual.
-
Tidak tergentung
dosis.
-
Gejala sama.
-
Pengobatan sama.
- Mekanisme Kerja :
Local anestetic → binds to receptor site → Na+ channel is
blocked → sodium conductance ↓ → rate of membrane depolarization ↓ → no action
potential → conduction blockade.
- Komplikasi Penggunaan Anestesi Lokal
1. Intoksikasi (overdosis).
2. Alergis (allergen – antibody) :
- Sangat jarang pada golongan
amid.
- Ester yang sering.
- Intoksikasi Anestetik Lokal Tergantung Pada
1. Dosis obat yang digunakan (dose).
2. Tempat injeksi (site of injection).
3. Obat yang digunakan (drug used).
4. Kecepatan injeksi (speed of injection).
5. Penambahan epinefrin (addition of epinephrine).
- Gejala Intoksikasi
1. Intoksikasi suatu anestetik lokal berefek pada otak dan jantung.
2. Otak lebih peka dari jantung.
3. Gangguan CNS lebih dahulu dari pada CVS.
- Gejala CNS :
1. Numbness mouth dan tongua.
2. Tinnitus.
3. Visual disturbance.
4. Apprehension.
5. Takipneu.
6. Twiching.
7. Konvulsion.
8. Koma.
9. Apneu.
- Gejala CVS :
1. Takikardi.
2. Hipertensi.
3. Bradikardi.
4. Hipotermi.
5. Cardiac arrest.
- Pencegahan Intoksikasi
1. Gunakan dosis yang direkomendasikan.
2. Aspirasi berulang sebelum injeksi.
3. Tetap kontak verbal dengan pasien.
4. Kombinasi dengan adrenalin
-
Kalau IV, segera HR
> 30 – 45 (test dose).
-
Absorpsi lambat.
-
Masa kerja memanjang.
-
Perdarahan kurang
(infiltrasi).
5. Premedikasi dengan diazepam atau lorazepam secukupnya.
-
Menenangkan penderita.
-
Mengurangi konvulsi
(ambang konvulsi meningkat).
- Pengobatan Intoksikasi
1. Beri oksigen via mask.
2. Segera pasang infus (IV –line)
3. Jika terjadi konvulsi :
-
Beri diazepam (5 – 10
mg IV).
-
Jika belum berhasil,
beri pentoral 50 – 100 mg (increment 50 mg).
-
Suksinilkolin pilihan
terakhir → intubasi.
4. Jika terjadi hipotensi/bradikardi
-
Beri efedrine 5 – 10
mg IV.
-
Dapat diikuti atropin
0,5 mg IV.
5. Jika terjadi cardiac arrest
-
Beri adrenalin 0,5 –
1 mg IV.
-
Lakukan external
cardiac massage dan ventilasi
-
Jika belum ada infus,
lakukan intracardiac adrenalin (0,5–1mg)ICS 2-3
Tindakan ini mengandung :
1. Ventricel takikardi.
2. Ventrikel fibrilation.
- Reaksi Alergi
1. Sangat jarang kalau ada biasanya golongan ester.
2. Yang sering terjadi adalah “dugaan alergi”, pada kasus-kasus “gigi”
akibat efek :
- Adrenalin sebagai aditive.
- Zat
preservasi antara lain methyl paraben.
3. Gejalanya berupa :
- Takikardi, hipertensi
- Berkeringat.
- Pucat, ketakutan.
- Takikardi.
4. Bila ada keraguan (rhinitis kronik, enzema, asma) dilakukan skin test.
- Teknik Anestesi Pada Sirkumsisi
1. Field blok → infiltrasi anestetik lokal pada pangkal penis dan 2 – 4 cm
dari pangkal penis.
2. Blok nervus dorsalis penis :
-
Disenfeksi daerah
suntikan.
-
Tarik ke arah bawah
penis.
-
Tandai dua tempat
punksi → 0,5 – 1 cm dari midline (jam 10.30 dan 13.30).
-
Masukan jarum sampai
menembus fascia back.
-
Masukan 0,5 cc
anestetik lokal.
- Kesimpulan
1. Penggunaan anestetik lokal sangat menguntungkan sepanjang diberikan
secara lege artis karena :
-
Safe (aman).
-
Simple (mudah
digunakan).
-
Cheap (murah).
-
Paintess (pascabedah).
2. Pemilihan suatu anestetik lokal didasarkan pada :
-
Potensinya (potency).
-
Mula kerjanya (onset
time).
-
Lama kerjanya (
duration).
-
Toksisitasnya
(toxicity).
3. Diperlukan keterampilan RKP bagi pemberian dan ketersediaan resusitasi
kit dan DC shock.
VIII.SYOK ANAFILAKTIK
Reaksi anafilaksis adalah sindrom klinis dengan dasar
reaksi imunologis yang bersifat sistemik menyebabkan gangguan sistem organ :
pernapasan, kardiovaskular, kulit, dan pencernaan.
Syok anafilaktik menyebabkan terjadinya hipotensi dan
tidak mempunyai predileksi, umur, ras, jenis kelamin, jarang terjadi pada bayi
dan orang tua. Prevalensinya : negara barat 0,4 kasus juta/tahun.
-
Gangguan Perfusi Perifer
Raba
telapak tangan :
-
Hangat, kering, merah
: NORMAL.
-
Dingin, basah, pucat
: SHOCK.
Tekan
lepas ujung kuku/telapak tangan :
- Merah
kembali < 2 detik : NORMAL/>2 detik : SHOCK.
- Bandingkan
dengan tangan pemeriksa.
- Nadi Meningkat : raba
nadi radialis
Nadi
< 100 : NORMAL/nadi > 100 : SHOCK.
- Tekanan Darah Menurun
Sistolik
> 100 NORMAL < 100 : SHOCK.
-
Odema pada jalan
nafas, terutama daerah hipofaring dan laring yang dapat menyebabkan kematian.
-
Histamin dan
leukotrine menyebabkan konstriksi bronkus.
-
Terjadi distress
pernafasan sehingga mirip asma bronkiale.
Manifestasi
pada sirkulasi
- Vasodilatasi
arteriol.
- Peningkatan
permeabilitas vaskuler sehingga syok (hipotensi)
Manifestasi pada saluran cerna
- Spasme otot
saluran cerna sehingga terjadi nyeri yang hebat dengan gejala mual dan muntah.
- Pengolahan Syok Anafilaktik
Secara
umum bertujuan untuk :
1. Mencegah efek mediator
o Menghambat sintesis dan pelepasan mediator.
o Blokade reseptor.
2. Mengembalikan
fungsi organ dari perubahan patofisiologik akibat efek mediator.
- Penanganan Syok Anafilaktik
1. Peroritas utama pertahanan jalan nafas bebas, ventilasi adekuat dan
meningkatkan cardiac output.
2. Suplemen O2 bila perlu erkothyroidotomi atau intubasi
endotrachea.
3. R/epinefrin untuk relaksasi otot bronkus dan bersifat inotropik dan
kronotropik pada jantung.
4. R/Aminofilin bila spasme bronkus tidak hilang dengan epinefrin.
5. Hiopovalemi diatasi dengan pemberian cairan.
6. Baringkan dalam posisi syok, alas keras.
7. Bebaskan jalan nafas.
8. Tentukan penyebab dan lokasi masuknya.
9. Jika masuk lewat ekstremitas pasang korniket.
10. Adrenalin 1 : 1000 0,25 ml (0,25 mg) subkutan (ringan).
11. Adrenalin 1 : 1000 0,25 ml (0,25 mg) intramuskular (sedang) atau 1 :
1000 2,5 – 5 ml (0,25 – 0,5) intravena (berat).
12. Infus cairan.
13. Monitor pernafasan.
XI. INTRODUKSI
Langkah – langkah sirkumsisi
yaitu :
1. Anamnesis
dan pemeriksaan fisis
2. Siapkan
alat & bahan
3. Pakai
masker
4. Cuci
tangan
5. Pasang
handscoen sterill
6. Ambil
posisi di samping pasien
7. Disinfeksi
Lapangan Operasi
8. Pasang
doek steril
9. Anastesi
Lokal
10. Bebaskan
dan bersihkan gland penis
11. Pasang
klem arah jam 6, 11 dan 1
12. Gunting
preputium di arah jam 12
13. Periksa
perdarahan
14. Jahit
kontrol
15. Gunting
preputium secara sirkuler kearah jam 6
16. Periksa
perdarahan
17. Bersihkan
luka operasi dengan Betadin
18. Jahit
mukosa kulit mulai jam 3 atau 9 selanjutnya jahit mukosa kulit yang lain.
19. Jahit
frenulum
20. Kontrol
perdarahan
21. Bersihkan
luka dan lapangan operasi dengan NaCl 0,9%
22. Beri
salep antibiotik
23. Balut
luka dengan kasa kering, lalu diplester
24. Lakukan
Dekontaminasi alat operasi
25. SUNTIK
Toxoid Tetanus/dan berikan OBAT (Antibiotik, analgetik, vitamin)
i.
Pasien yang telah disirkum, disuntikkan TT 0,5cc im.,
pada area yang aman untuk diinjeksi.
ii.
Memberikan obat, menerangkan aturan minum dan manfaat
dari obat
iii.
Memberikan penjelasan merawat luka kepada anak dan atau
orang tua/pengantar pasien.
26. Bersihkan
alat yang telah didekontaminasi dengan air bersih
27. Lakukan
sterilisasi atau DTT
28. Lepas
Handscoen
29. Cuci
Tangan
X. TEKNIK SIRKUMSISI
Prinsip dasar sirkumsisi :
ü Asepsis.
ü Pengangkutan kulit preputium yang adekuat.
ü Hemostatis yang baik.
ü Kosmetik.
Pelaksanaan :
·
Disinfeksi lapangan
operasi.
·
Pasangan kain steril.
·
Pemberian anastesi
lokal pada anak-anak.
·
Bila ada fimosis
dilakukan pembebasan preputium. Glans dibersihkan dari smegma dan kotoran lain.
·
Memotong preputium
dengan berbagai macam teknik.
Teknik Dorsal Slit
(Dorsumsisi) :
§ Preputium ditegangkan dengan memasang dua buah klem di preputium (posisi
jam 11 dan 1) dan satu klem di frenulum.
§ Kulit preputium di antara dua klam di potong dengan gunting dan garis
midline ke arah proksimal samapai 0,5 cm dan corona glandis. Selanjutnya
dilakukan pemotongan melingkar hingga kulit preputium terlepas.
§ Kontrol perdarahan.
§ Kulit proksimal dan mukosa distal didekatkan dan dilakukan penjahitan
sederhana dengan benang cepat diserap (plain cat gut).
Teknik oblik (gulotin)
:
o
Preputium ditegangkan
bagian dan dorsal dengan klem.
o
Kulit preputium
dijepit dengan cara oblik.
o
Selanjutnya dilakukan
pemotongan.
Teknik Lain :
-
Teknik diseksi
preputium.
-
Alat plastibel atau
Gomco.
Tetanus Toxoid :
ü Toxoid tetanus harus selalu berada dalam suhu rendah di bawah suhu
kamar.
ü Dosis pemberian :
- Anak : 0,5 cc
- Dewasa : 1 cc
ü Diberikan melalui intramuskular.
XI. MANAJEMEN SIRKUMSISI MASSAL
Manajemen
sirkumsisi massal terdiri dari 3 komponen :
ü Prekegiatan
Jumlah pasien
Harus diketahui
paling labat 1 hari sebelum kegiatan.
Jumlah tenaga medis
-
Ditentukan oleh panitia.
-
Disesuaikan dengan jumlah pasien.
Tempat kegiatan.
-
Lokasi kegiatan harus dilihat langsung oleh
tenaga medis yang telah ditunjuk paling lambat 1 hari sebelum kegiatan.
-
Jumlah meja sesuai dengan kebutuhan.
-
Tempat kegiatan yang representative :
·
Luas
·
Aman
·
Nyaman
·
Bersih
Ket : 1. Tempat
tunggu pengantar.
2.
Registrasi.
3.
Meja operasi.
4.
TT.
5.
Meja Obat.
6.
Pintu keluar.
Obat dan Alat
-
Pastikan jumlah obat ukup dengan jumlah
pasien.
-
Pastikan alat dan bahan cukup dengan jumlah
pasien.
-
Brefing.
ü Kegiatan
Operator
-
1 orang / meja.
-
Melakukan sirkumsisi.
-
Steril.
Asisteren
-
Minimal 1 orang (sesuai kondisi).
-
Membantu operator dan mempermudah kerja
operator.
-
Steril.
Kurir / Omblong
-
Menyiapkan kebutuhan alat dan obat untuk
setiap meja.
-
Membantu operator/asisteren bila diperlukan.
-
Menstrilkan setiap alat yang akan dipakai.
Registrasi
2 – 3
orang, mendata pasien sebelum dan sesudah disirkumsisi.
Suntik tetanus toxoid (TT) / Obat
2 – 4
orang, menyuntik pasien setelah disirkum dengan TT (Toxoid Tetanus) dan
memberikan obat pada setiap pasien yang telah disirkum.
Jumlah Meja
-
1 meja registrasi.
-
2 meja suntik TT dan Obat.
-
Jumlah meja sirkumsisi disesuaikan dengan
pasien, tenaga medis dan tempat kegiatan.
Alat dan bahan disetiap meja
-
1 sirkum set.
-
Catgut, kasa, antiseptic, spoit, lidokain,
handscoen, plester, salep antibiotic, duk steril.
Shift tenaga medis
-
Demi kepentingan tenaga medis dan pasien maka
perlu adanya pergantian tenaga medis (operator).
-
Setelah 5 pasien berikutnya operator dan
asisteren diganti kurir oleh tenaga medis lainnya.
-
Mekanisme pergantian :
·
Operator dan asisteren bergantian setelah 5
pasien.
·
Setelah 5 pasien berikutnya operator dan
asisteren diganti kurir oleh tenaga medis lainnya.
Koordinasi tenaga medis
-
Setiap tenaga medis telah mengetahui perannya
masing - masing dan bertanggung jawab atas tugas – tugas tersebut.
-
Bila ada kesulitan hendaknya dikonfirmasikan
dengan dokter penanggung jawab.
-
Setiap tenaga medis harus saling menghormati
dan menghargai.
-
Setiap tenaga medis harus menjaga nama baik
institusi.
ü Postkegiatan
Mengumpulkan Alat
-
Pastikan semua alat masih lengkap.
-
Pengumpulan ini dilakukan oleh
operator/asisteren masing-masing meja dibantu oleh kurir untuk selanjutnya
diserahkan kepada koordinasi alat/ obat.
Mengumpulkan Obat-obatan
-
Pastikan semua obat telah terkumpul.
-
Pengumpulan ini dilakukan oleh bagian obat di
bantu oleh kurir untuk selanjutnya diserahkan kepada coordinator alat/obat.
XII.KEWASPADAAN UNIVERSAL
Kewaspadaan
universal adalah :
Upaya pencegahan infeksi yang telah mangalami
perjalanan panjang, dimulai sejak dikenalnya infeksi nosokomial yang terus
menjadi ancaman bagi petugas kesehatan dan pasien.
Petugas kesehatan bertanggung jawab terhadap
dirinya sendiri dan pasien dari resiko penularan penyakit infeksi.
Setiap cairan tubuh pasien harus dianggap
infeksius tanpa memandang status pasien.
Sejarah :
Tahun 1847 Dr. Ignac F. Semmelweis mengamati
bahwa tindakan medis dapat menularkan infeksi.
Tahun 1967 CDC Atlanta merekomendasikan
teknik isolasi berdasarkan kelompok kategori (7 kategori).
Tahun 1983 direkomendasikan 2 sistem isolasi
yaitu category specific infection dan disease specific isolation precaution.
Tahun 80 an Indonesia mempunyai program
pengendalian infeksi nasokomial dengan menerapkan 4 kategori isolasi yaitu
isolasi pernafasan, isolasi saluran cerna, isolasi ketat, isolasi perlindungan
dan blood precaution.
Tahun 1984 berkembang sistem yang disebut
Body substance isolation (BSI).
Tahun 1985 CDC Atlanta merekomendasikan
strategi baru yaitu blood and body fluid precautions secara universal tanpa
memandang status pasien dan strategi penanganan limbah medis termasuk alat
tajam.
Tahun 1994 UP dibagi menjadi 2 tingkatan
kewaspadaan ini disebut dengan UNIVERSAL PRECAUTION atau Kewaspadaan Universal.
Alasan dasar Penerapan Kewaspadaan Universal
HIV/AIDS telah menjadi ancaman global.
Ancaman penyebaran HIV menjadi lebih tinggi karena pengidap HIV tidak
menimbulkan gejala serta potensi penularan di masyarakat cukup tinggi (seks
bebas, alat kesehatan tidak steril, dll).
Penyakit Hepatitis B dan C juga mempunyai
tingkat potensial penularan yang cukup tinggi dari cairan tubuh termasuk juga
penyakit-penyakit lain yang dapat ditularkan terutama melalui cairan tubuh.
Sementara bagi masyarakat umum sarana
kesehatan tempat pemeliharaan kesehatan.
Petugas kesehatan bertanggung jawab untuk
menjaga kepercayaan tersebut .
Beberapa
tindakan potensial dalam penularan penyakit
Cuci tangan yang kurang benar.
Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
Penutupan kembali jarum suntik secara tidak
aman.
Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.
Teknik dekontaminasi dan sterilisasi
peralatan kurang tepat.
Praktek kebersihan ruangan yang belum
memadai.
Prinsip
Utama Prosedur Kewaspadaan Universal
Menjaga hygiene sanitasi individu.
Menjaga hygiene sanitasi ruangan.
Sterilisasi peralatan.
Lima Kegiatan Pokok Kewaspadaan Universal
Cuci tangan guna mencegah infeksi silang.
Pemakaian alat pelindung guna mencegah kontak
dengan darah dan cairan tubuh.
Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai.
Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk
mencegah perlukaan.
Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
Cuci
Tangan
Cuci tangan Higienik atau rutin : mengurangi
kotoran dan flora yang ada di tangan dengan menggunakan sabun dan deterjen
Cuci tangan Aseptik : sebelum tindakan
aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik.
Cuci tangan bedah (surgical handscrub) :
sebelu melakukan tindakan bedah cara aseptik dengan antiseptik dan sikat
steril.
Alat
Pelindung
Sarung tangan.
Pelindung wajah/masker/kaca mata.
Penutup kepala.
Gaun pelindung (baju kerja/celemek).
Sepatu Pelindung (study foot wear).
Pilihan
Alat Pelindung Sesuai Pajanan
Pajanan :
|
Contoh :
|
Pilihan
alat pelindung :
|
-
Resiko rendah :
Kontak
dengan kulit tapi tak terpajan langsung.
|
-
Injeksi.
-
Perawatan luka.
|
-
Sarung tangan tidak esensial.
|
-
Resiko sedang :
Kemungkinan
terpajan darah namun tidak ada percikan/cipratan.
|
-
Px. Pelvis.
-
Insersi dan melepas IUD.
-
Pemasangan IVFD.
-
Spesimen lab.
-
Perawatan luka berat.
-
|
-
Sarung tangan
-
Mungkin perlu gaun pelindung/celemek.
|
-
Resiko tinggi :
Kemungkinan
terpajan perdarahan massif
|
-
Tindakan bedah : major, mulut, partus.
-
|
-
Alat pelindung lengkap.
-
|
Sarung
Tangan
Harus selalu dipakai pada saat melakukan
tindakan kontak atau yang diperkirakan akan menimbulkan kontak dengan darah,
cairan tubuh, kulit yang tidak utuh, selaput lender pasien dan benda
terkontaminasi.
Dikenal 3 jenis sarung tangan yaitu : sarung
tangan bersih, sarung tangan steril, sarung tangan rumah tangga.
Penggunaan
Sarung Tangan
Sarung
tangan bersih :
|
o
Disinfeksi tingkat tinggi (DTT).
o
Digunakan sebelum melakukan tindakan rutin
pada kulit dan jaringan mukosa.
o
Dapat digunakan pada tindakan bedah bila
sarung tangan steril tidak ada.
|
Sarung
tangan steril :
|
-
Sarung tangan yang telah melalui proses
sterilisasi.
-
Harus digunakan pada saat melakukan
tindakan bedah.
|
Sarung
tangan rumah tangga
|
o
Terbuat dari latex atau vinil, tebal.
o
Digunakan saat membersihkan alat kesehatan,
permukaan meja kerja, dll.
o
Dapat digunakan kembali setelah disuse
bersih.
|
Pengelolaan
Alat Kesehatan
Bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi
melalui alat kesehatan.
Menjamin alat tersebut dalam kondisi steril
dan siap pakai.
Proses penatalaksanaan peralatan dilakukan
melalui empat tahap yaitu : dekontaminasi, pencucian, sterilisasi atau DTT,
penyimpanan.
Tingkat
Resiko dan Jenis Penggunaan Alat
Tingkat
Risiko :
|
Jenis
Penggunaan Alat :
|
Cara
Pengelolaan :
|
Risiko
Tinggi
|
Alat yang
digunakan dengan menembus kulit atau rongga tubuh.
|
Sterilisasi
atau menggunakan alat steril sekali pakai.
|
Risiko
Sedang
|
Alat yang
digunakan pada mukosa atau kulit yang tidak utuh.
|
Sterilisasi
atau disinfeksi tingkat tinggi (perebusan/kimiawi).
|
Risiko
Rendah
|
Alat yang
digunakan pada kulit utuh tanpa menembus kulit.
|
Cuci
bersih
|
Dekontaminasi
Menghilangkan mikroorganisme pathogen dan
kotoran dari suatu benda sehingga aman untuk pengelolaan selanjutnya.
Bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat
kesehatan atau permukaan benda
Dilakukan derngan menggunakan bahan
disinfektan yaitu suatu larutan atau zat kimia yang tidak digunakan untuk kulit dan jaringan mukosa
Klorin 0,5% atau 0,05% adalah disinfektan
yang paling sering digunakan di Negara berkembang karena terjangkau dan mudah
di dapat.
Cara
Menyiapkan Larutan Klorin 0,5 %
Jenis
larutan
|
Kondisi
kotor
|
Kondisi
bersih
|
|
Untuk
menyiram permukaan tercemar Sebelum mengangkat kotoran.
|
Setelah
kotoran diangkat.
|
Kadar
klorin yang dibutuhkan.
|
0,5%
(5gr/ltr, 5000ppm).
|
0,05-1%
(0,5-1g/lt, 500-100ppm).
|
-
Lartutan natrium hipiklorit (tersedia
klorin 5%).
-
Kalsium hipoklorit (tersedia klorin 70%).
-
NaDCC.(tersedia klorin 60%).
-
NaDCC tablet (presept), (1,5 g
klorin/tablet).
|
100 ml/lt
7,0 g/lt
8,5 g/lt
4 tablet
|
10 – 20
ml/lt
0,7 – 1,4
g/lt
0,9 – 1,7
gr/lt
1 tablet
|
Dekontaminasi
Khusus
Jenis
alat kesehatan
|
Proses
Dekomentasi
|
1.
Jarum dan semprit :
-
Sebaiknya tidak dipakai ulang.
-
Insenerasi beserta wadahnya.
2.
Sarung tangan :
-
Sekali pakai – buang dalam wadah limbah
medis.
-
Pakai ulang – tampung dalam wadah
penampungan untuk proses dekontaminasi.
3.
Wadah tempat penyimpanan peralatan.
4.
Permukaan meja yang tidak berpori.
|
1.
-
Siapkan wadah kedap
tusukan.
-
Isi dengan larutan klorin 0,5 %.
-
Isi semprit dan jarum dengan larutan klorin
semprotkan, lakukan 3 x.
2.
Tampung dalam wadah berisi larutan klorin
0,5 % rendam 10 menit sebelum dicuci.
Pisahkan
dalam wadah berbeda dengan alat tajam.
3.
Isi dengan larutan klorin 0,5 % 10
menit, bilas dan cuci.
5.
Gunakan sarung tangan RT dan celemek,
semprot klorin, biarkan 10 menit, lap dengan lap basah bersih berulang kali
sehingga klorin terangkat.
|
Efek
Klorin Dalam Konsentrasi Berbeda
Mikroorganisme
|
Konsentrasi
efektif klorin
|
Waktu
|
v Mikoplasma
dan bakteri vegetatif (< 25 ppm).
v Spora
bacillus subtilis
v Agen
mikotik
v S.
aureus.
v Salmonella
choleraesuis
v Pseudomonas
aeruginosa.
v Beberapa
macam, virus, termasuk HIV dan HBV.
v Miobacterium
tuberculosis.
|
25 ppm
100 ppm
100 ppm
100 ppm
100 ppm
200 ppm
1000 ppm
|
Beberapa
detik
5 menit
1 jam
10 menit
10 menit
10 menit
|
Pencucuan
Alat
ü Menghilangkan
segala kotoran yang kasat mata dari benda atau permukaan benda dengan sabun
atau deterjen, air dan sikat .
ü Tanpa
pencucian yang teliti maka proses disinfeksi atau sterilisasi selanjutnya tidak
akan efektif.
ü reaksi
pirogen bila masuk kedalam tubuh pasien Kotoran yang tertinggal dapat
mempengaruhi fungsinya atau mengakibatkan.
ü Detergen
digunakan dengan cara mencampurkan dengan air, dan tidak diperbolehkan
menggunakan sabun cuci biasa karena akan menimbulkan residu yang sulit
dihilangkan.
ü Hindari
penggunaan abu gosok karena akan menimbulkan goresan pada alat yang bisa
menjadi tempat bersembunyi mikroorganisme ataupun karat.
Disinfeksi
dan Sterilisasi
ü Disinfeksi
adalah suatu proses untuk menghilangkan sebagian atau semua mikroorganisme dari
alat kesehatan kecuali endospora bakteri.
ü Dilakukan
dengan menggunakan cairan kimia, perebusan, pasteurisasi.
ü Disinfektan
kimiawi a.l : alcohol, klorin, formaldehid, H2O2, glutarldehid, yodifora, asam
parasefat, fenol, ikatan ammonium kwartener.
ü Pasteurisasi
bukanlah proses sterilisasi, suhu yang digunakan biasanya 770C waktu 30 menit.
ü Radiasi
dengan sinar ultra violet ; tidak ada data yang mendukung efektifitas
pencegahan penularan penyakit dengan cara ini, dan kelemahan dari UV adalah
tidak dapat menembus cairan.
ü Disinfektan
tingkat tinggi (DTT) merupakan alternative bila alat sterilisasi tidak tersedia
atau tidak mungkin dilaksanakan. DTT dapat membunuh semua mikroorganisme
termasuk HIV dan HEP.B namun tidak membunuh endospora dengan sempurna sehingga
bila kasus gas ganggren dan tetanus banyak di dapat maka semua peralatan harus
distrelisasi.
ü Sterilisasi
adalah suatu proses untuk menghilangkan seluruh mikroorganisme dari alat
kesehatan termasuk endospora bakteri.
ü Sterilisasi
dapat dilakukan dengan teknik uap panas bertekanan, pemanasan kering, gas
etilen oksida, zat kimia cair.
ü Sterilisasi
adalah cara paling aman dan efektif untuk pengelolaan alat kesehatan yang
berhubungan langsung dengan darah atau jaringan dibawah kulit yang secara
normal bersifat steril.
Pengelolaan
Alat Kesehatan Tertentu (Contoh)
Alat kesehatan
|
Mikroorganisme
potensial penyebab nosokomial
|
Pengelolaan yang
aman
|
Alat gigi:
-Risiko tinggio :
Forsep, scalpel,
chisel, skaler, bor
-Risiko sedang ;
Kondensor, semprit
air
Endoskopi
Tombol-tombol senter
|
- Salmonella spp,
TBC,
P.Aeruginosa,
M.atipik
- HBV, HIV, TBC
|
-
Keduanya harus disterilkan setiap habis pakai 1 pasien, alat yang tidak dapat
dilepas dan tidak panas sebaiknya tidak digunakan atau gunakan alat sekali
pakai.
-
Pencucian, DTT, Pembilasan, pengeringan dan penyimpanan.
- Lapis dengan bahan kedap air, ganti lapis
setiap ganti pasien, alat yang tertutup didisinfeksi.
- Lapis dengan bahan kedap air, ganti lapis
setiap ganti pasien, alat yang tertutup didisinfeksi.
- DTT cukup efektif membunuh ke 3 jenis
mikroorganisme ini
|
Penyimpanan
Alat Kesehatan
ü Penyiimpanan
yang baik sama pentingnya dengan proses disinfeksi dan sterilisasi.
ü Cara
penyimpanan tergantung apakah alat terbungkus atau tidak terbungkus.
ü Umur steril
tergantung pada atau tidaknya terkontaminasi dan kondisi pada pembungkus itu
sendiri.
ü Alat tidak
terbungkus harus segera digunakan
setelah dikeluarkan, alat yang tersimpan pada wadah steril dan tertutup paling
lama 1 minggu.
ü Jangan
menyimpan alat dalam larutan karena mikroorganisme dapat berkembang biak pada
larutan antiseptik atau disinfektan.
Kewaspadaan
Khusus
Merupakan tambahan
pada kewaspadaan universal, yang terdiri dari tiga jenis kewaspadaan :
ü Kewaspadaan
terhadap penularan melalui udara (airbone).
ü Kewaspadaan
terhadap penularan melalui percikan (droplet).
ü Kewaspadaan
terhadap penularan melalui kontak.
Kunci
Keberhasilan Kewaspadaan Universal
ü Prosedur
kewaspadaan Universal dianggap sebagai pendukung program K3.
ü Cuci tangan
tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan.
ü Air
mengalir adalah sarana penting dalam proses cuci tangan.
ü Penggunaan
lap bersih untuk satu kali pakai.
ü Penggunaan
alat pelindung sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.
ü Alat yang
sudah steril harus tersimpan ditempat kering.
ü Perendaman
berlebihan hanya akan merusak alat kesehatan.
ü Selalu
lakukan sterilisasi jangan berhenti sampai DTT.
ü Air yang
didihkan bukan merupakan air steril.
ü Cuci tangan
harus dilakukan sebelum dan sesudah menggunakan sarung tangan.
BUKU
PENUNTUN
PELATIHAN SIRKUMSISI
KBMFK-UMI
Created
By
Tim
Bantuan Medis 110 FK UMI
DAFTAR ISI
I.
PENDAHULUAN 1
II.
ANATOMI PENIS 3
III.
LUKA DAN PENANGANANNYA
5
IV.
ASEPTIK DAN ANTISPTIK 10
V.
STERILISASI 13
VI.
ALAT DAN BAHAN 14
VII.
ANESTESI LOKAL 15
VIII.
SYOK ANAFILAKTIK 19
IX.
INTRODUKSI 20
X.
TEKNIK SIRKUMSISI 21
XI.
MANAJEMEN SIRKUMSISI MASSAL
22
XII.
KEWASPADAAN UNIVERSAL 25
Potongan Melintang
Penis
Teknik
Dengan Tiga Klamp