1

DASAR-DASAR BIOMOLEKULAR I KARBOHIDRAT

Posted by nhia on 09.38 in ,

Karbohidrat-Bahan Bakar dan Materi Pembangun

Istilah karbohidrat meliputi gula dan polimernya. Karbohidrat yang paling sederhana adalah monosakarida, gula tunggal yang juga dikenal sebagai gula sederhana.

Karbohidrat meliputi zat-zat yang sangat berlimpah dan penting dalam alam biologi. Jauh melebihi separuh dari karbon organik dialam, ada dalam bentuk karbohidrat. Yang paling umum dari senyawa-senyawa ini adalah selulosa, yakni karbohidrat struktural dalam tumbuhan. Telah diperkirakan bahwa 1011 ton selulosa dihasilkan dan dihancurkan didalam biosfer setiap tahun.

Kita seringkali berpikir tentang karbohidrat sebagai zat seperti glukosa yang oleh banyak heterotrop menggunakannya sebagai sumber energi primer. Dalam pengantar metabolisme, katabolisme karbohidrat: peragian dan glikolisis, siklus Asam Trikarboksilat dan pernapasan akan kita lihat bagaimana organisme yang demikian mempergunakan karbohidrat untuk memperoleh energi kimia.

Akan tetapi karbohidrat juga dapat dipakai untuk keperluan struktural, tidak saja dalam tumbuhan, tetapi juga dalam dinding sel bakteri dan matriks atau zat dasar yang mengelilingi sel dalam jaringan organisme tingkat tinggi.

Disakarida adalah gula ganda, yang terdiri atas dua monosakarida yang dihubungkan melalui kondensasi. Karbohidrat yang merupakan makromolekul adalah polisakarida, polimer yang terdiri dari banyak gula.  Ada tiga kelas besar karbohidrat yaitu : Monosakarida, Oligosakarida, dan Polisakarida.

Kita dapat menghidrolisasikan secara sempurna kedua polisakarida dan oligosakarida untuk menghasilkan monosakarida, dan hidrolisis lebih lanjut tidak menghasilkan molekul apapun yang lebih kecil dari monosakarida. Oligosakarida adalah polimer yang terdiri dari dua hingga enam satuan monosakarida.

Polisakarida seperti pati dan selulosa mengandung beribu-ribu satuan monosakarida yang dihubungkan oleh sambungan-sambungan kovalen yang dapat dihidrolisasikan. Pertama-tama akan meninjau kimia monosakarida, karena merupakan dasar untuk karbohidrat yang lebih kompleks.
Gula karbohidrat terkecil, berfungsi sebagai bahan bakar dan sumber karbon.

Monosakarida (dari bahasa Yunani monos, berarti “tunggal” dan sacchar berarti “gula”) umumnya memiliki rumus molekul yang merupakan beberapa kelipatan CH2O (lihat gambar 1).

Suatu monosakarida adalah baik suatu polihidroksi aldehid maupun suatu polihidroksi keton dengan rumus empiris total (CH2O)n. dari rumus ini dapat dengan mudah terlihat bagaimana telah timbul penunjukan “karbohidrat”.

Jika dikurangi dengan unsur-unsur H2O dari rumus empiris untuk monosakarida, akan tinggal hanya karbon. Terutama monosakarida tergantung pada jumlah atom karbon seperti terlihat dalam Tabel 1.


Tabel 1. Tata Nama Monosakarida

Jumlah Karbon
Nama Famili
3
4
5
6
7
         Triosa
         Tetrosa
         Pentosa
         Heksosa
         Heptosa


Di dalam alam biologis yang paling berlimpah adalah pentosa dan heksosa, meskipun triosa, tetrosa, dan heptosa juga memainkan peranan penting dalam metabolisme tumbuhan dan hewan.

Monasakrida selanjutnya terbagi menjadi dua kelompok, aldosa dan ketosa, tergantung pada sifat gugus fungsional: aldehida atau keton. Dua monosakarida yang paling sederhana yaitu gliseraldehida dan dihidroksiaseton melukiskan pengelompokan ini.



Perhatikan bahwa jika dihidroksiketon merupakan molekul simetrik, namun atom karbon kedua gliseraldehida adalah asimetrik, sehingga gliseraldehida terdiri dari dua bentuk bayangan cermin yang tidak dapat diimpitkan. Semua monosakarida (dan demikian pula gula-gula tingkat tinggi) kecuali dihidroksiaseton mengandung satu atau lebih atom karbon asimetrik.

Glukosa (C6H12O6), monosakarida yang paling umum, memiliki peranan penting yang utama dalam kimia kehidupan. Dalam struktur glukosa, kita dapat melihat semua ciri khas gula. Gugus hidroksil terikat pada setiap karbon kecuali satu, yang berikatan ganda dengan oksigen untuk membentuk gugus karbonil.

Tergantung pada lokasi gugus karbonil itu, gula bisa sebagai aldosa (gula aldehida) atau sebagai ketosa (gula keton). Glukosa misalnya adalah aldosa, fruktosa, isomer struktural glukosa, adalah ketosa (sebagian besar nama gula berakhiran –osa). Kriteria lain untuk mengelompokkan gula adalah ukuran kerangka karbon, yang panjangnya berkisar antara tiga sampai tujuh karbon glukosa-fruktosa, dan gula-gula lain yang memiliki enam karbon disebut heksosa. Triosa (tiga karbon) dan pentosa (lima karbon) juga sering kita jumpai.

Sumber keragaman lain untuk gula sederhana adalah pengaturan spesial (ruang) bagian-bagiannya disekitar karbon asimetrik. Karbon asimetrik adalah karbon yang terikat dengan empat jenis pasangan kovalen yang berbeda.

Glukosa dan galaktosa, misalnya, hanya berbeda dalam penempatan bagian-bagian disekitar karbon asimetrik. Yang sepintas terlihat sebagai perbedaan kecil ternyata cukup signifikan untuk membuat kedua macam gula tersebut mempunyai bentuk dan prilaku yang berbeda.



Gula Triosa
(C3H6O3)
Gula Pentosa
(C3H10O5)
Gula Heksosa
(C6H12O6)
Aldosa
Ketosa

Gambar 1. Struktur dan klasifikasi beberapa monosakarida


Gula dapat berupa aldosa atau ketosa, tergantung pada lokasi gugus karbonil. Gula juga dikelompokkan sesuai dengan panjang kerangka karbonnya. Titik variasi ketiga adalah dalam pengaturan spesifik disekitar karbon asimetrik.

Meskipun menggambarkan glukosa dengan kerangka karbon linier lebih mudah, hal ini tidaklah akurat. Dalam larutan aquades (larutan dengan air sebagai pelarut), molekul glukosa, dan juga sebagian besar gula-gula lain, membentuk cincin (gambar 2).



Gambar 2.  a.   Bentuk linier dan bentuk cincin dari glukosa kesetimbangan kimiawi antara struktur linier dan cincin sangat berperan dalam pembentukan cincin. Untuk membentuk cincin glukosa, karbon 1 berikatan dengan oksigen yang terikat pada karbon 5
b.    Pada rumus cincin yang disingkat ini karbon pada cincin dihilangkan. Tetasapi cincin yang lebih tebal menunjukkan bahwa anda sedang melihat cincin pada bagian atas, komponen yang terikat dengan cincin itu terletak diatas atau di bawah bidang cincin tersebut.


Monosakarida, khususnya glukosa, merupakan nutrien utama sel. Dalam proses yang dikenal sebagai respirasi seluler, sel-sel mengekstraksi energi yang tersimpan dalam molekul glukosa.

Tidak hanya molekul gula sederhana saja yang digunakan sebagai sumber bahan bakar utama untuk kerja seluler, namun kerangka karbonnya juga berfungsi sebagai bahan baku untuk sintetis jenis molekul organik kecil lainnya, termasuk asam amino dan asam lemak.

Molekul gula yang tidak segera digunakan dengan cara ini umumnya disimpan sebagai monomer yang bergabung membentuk disakarida atau polisakarida.

Disakarida (gambar 4) terdiri atas dua monosakarida yang dihubungkan oleh suatu ikatan glikosidik, ikatan kovalen yang terbentuk antara dua monosakarida melalui reaksi dehidrasi. Misalnya, maltosa merupakan suatu disakarida yang dibentuk melalui penyatuan dua molekul glukosa.

Juga dikenal sebagai gula maltosa, maltosa merupakan bahan pembuatan bir. Laktosa, gula yang ditemukan dalam susu, merupakan disakarida lain, yang terdiri atas sebuah molekul galaktosa.

Disakarida yang paling banyak dialam adalah sukrosa, yaitu gula yang sehari-hari kita konsumsi. Kedua monomernya adalah glukosa dan fruktosa. Tumbuhan umumnya mengangkut karbohidrat dari daun keakar dan keorgan non-fotosintetis lainnya dalam bentuk sukrosa.


Stereokimia Monosakarida

Banyak dari pengertian kita semula tentang stereokimia adalah berkat penelitian Emil Fischer mengenai struktur gula. Sekitar tahun 1884 ketika Fischer untuk pertama kali mengumumkan penyelidikannya dalam kimia gula, telah diisolasi empat heksosa, satu pentosa dan tiga disakarida, yang dimurnikan dan ditentukan tabiaknya.

Banyak penelitian terdahulu tentang struktur oleh Fischer dan orang lain telah didasarkan atas heksosa, glukosa (C6H1206) yang merupakan monosakarida pusat, baik bagi dunia tumbuhan maupun hewan. Berdasarkan bukti-bukti kimia Fischer menunjukkan bahwa glukosa (dan aldoheksosa yang lain) mengandung empat atom karbon asimetrik yang ia tandai sebagai berikut :


Dua bentuk bayangan cermin atau enansiomer bersesuaian dengan tiap pusat asimetrik. Jadi untuk aldoheksosa didapat 24 kemungkinan stereoisomer, yang dilukiskan dalam gambar 3, untuk aldotriosa D-gliseral dehida. Konfigurasi yang ditunjukkan dalam gambar 3 semula telah dipilih secara sembarang oleh Fischer sebagai konfigurasi pembanding bagi semula gula-D. Konfigurasi untuk monosakarida dengan lebih dari tiga karbon didasarkan pada konfigurasi selektif dari pusat asimetrik yang paling jauh dari gugus karbonil.


Gambar 3.  Perjanjian Fischer untuk gambar planar tentang stereoisomer. Kita menyusun model dengan rantai karbon vertikal sehingga gugus CH2OH atau ekivalennya terletak dibawah, gugus CHO atau ekivalennya diatas dan semua gugus H dan OH melebar kedepan.  Modelnya kemudian diratakan untuk menghasilkan suatu gambaran yang planar.  Kita dapat memutar gambaran Fischer hanya didalam bidang kertas.  Pembalikan gambaran seperti kalau membalikkan pankuk, menghasilkan stereoisomer yang sama sekali berbeda.

Gambar 4. Menunjukkan konfigurasi tetrosa, pentosa dan heksosa.  Fischer  telah memilih asam L-malat sebagai senyawa induk bagi gula-L.

Gambar 4.  Konfigurasi tetrosa, pentosa dan heksosa
Struktur untuk gula dengan konfigurasi-D telah ditentukan dengan analisis secara rajin dan teliti dari D-gliseraldehida, dengan menggunakan reaksi-reaksi yang stereokimia pereaksi telah tetap dipertahankan gula-D penting dalam seluruh alam pada sistem-sistem hidup.  Bayangan cerminnya yaitu bentuk imbangan-L jarang ditemukan dalam alam.  Beberapa pasangan-L terdapat didalam struktur dinding sel bakteri tertentu.

Gambar 5. Menunjukkan beberapa gula-L penting dalam gambaran Fischer. Sejumlah pasangan gula berbeda hanya dalam konfigurasi pada satu atom karbon asimetrik. Senyawa-senyawa yang berhubungan dengan cara ini disebut epimer.


Gambar 5. Gambaran dari konfigurasi gula-D

Aldosa
Ketosa
                                          

Gambar 6.  Struktur beberapa gula-D penting
D-glukosa merupakan epimer, karena berbeda hanya pada karbon-4. Perubahan – antar – epimer  merupakan proses penting dalam metabolisme karbohidrat.


Struktur Cincin Monosakarida

Aldehida dan keton bereaksi dengan alkohol  membentuk masing-masing hemiasetat dan hemiketal.  Karena monosakarida mempunyai baik gugus aldehida atau keton ditambah gugus alkohol, maka pembentukan hemiasetal atau hemiketal dapat terjadi didalam untuk menghasilkan suatu struktur cincin atau lingkaran.


Karena adanya tegangan sudut ikatan, struktur cincin beranggota 5 dan 6 lebih menguntungkan bagi gula.

Gambar 7.  Menunjukkan pembentukan hemiasetal berlingkar dalam hal D-glukosa.  Dalam hal ini dua bentuk yang jelas dihasilkan tergantung pada apakah gugus alkohol bereaksi dengan karbon karbonil dari atas atau dari bawah bidang gugus karbonil.

Kedua bentuk ini yang ditandai dengan α dan β saling berhubungan dengan cara ini disebut sebagai anomer.  Dalam larutan kedua bentuk anomer ada dalam keseimbangan dengan rantai terbuka.





Gambar 8.  Bentuk-bentuk anomer dari D-glukosa terlukis dalam proyeksi menurut Howarth.  Bentuk ini hanya berbeda dalam konfigurasi dalam karbon hemiasetal.

Bila α-D-gluokosa alam dilarutkan dalam air, larutan yang terjadi adalah campuran keseimbangan yang sama dari α, β, dan bentuk rantai terbuka seperti ditunjukkan dalam gambar 8.  Perubahan antara bentuk α dan β disebut mutarotasi dan dikatalisasi oleh enzim disebut mutarotase.

Struktur  cincin beranggota enam maka yang dihasilkan dari pembentukan hemiasetal dalam, dalam aldoheksosa disebut cincin piranosa menurut struktur piranosa menurut struktur heterosiklik piran : Ketosa dapat mengalami pembentukan cincin serupa melalui struktur hemiketal. Aldopentosa, hetoheksosa, dan dalam beberapa hal aldoheksosa juga dapat menghasilkan :

 


gambar 9.  Bentuk-bentuk lingkaran beberapa monosakarida

bentuk-bentuk cincin yang beranggota-lima mata yang dikenal sebagai struktur furanosa.

Bentuk piranosa lebih disukai oleh kebanyakan aldoheksosa.  Bentuk furanosa terdapat dalam jumlah yang lebih besar pada kebanyakan ketoheksosa dan aldopentosa.  Gambar 10.  memberikan beberapa contoh struktur lingkaran dari gula yang lain dari D-glukosa.

Penggambaran perspektif dari bentuk lingkaran disebut rumah proyeksi Haworth. Ini merupakan cara yang serasi untuk mencatat perbedaan dalam konfigurasi dari tiap kedudukan dalam bermacam-macam gula.

Akan tetapi bentuk lingkaran demikian tidak planar seperti yang dibayangkan oleh proyeksi Haworth. Dalam hal ini sikloheksan maka cincin piranosa dapat merupakan bentuk kursi atau perahu, tergantung pada sifat-sifat sterik dari gula secara individual. Glukosa misalnya lebih sering mempunyai konformasi kursi dalam kedua bentuk anomerik.

Dalam buku ini akan digunakan rumus-rumus Haworth dimana rumus-rumus itu sesuai. Harus diingat bahwa :


Penampilan demikian hanya merupakan pendekatan dari struktur yang sebenarnya dari molekul.


Reaksi Monosakarida


Aldosa merupakan gula pereduksi yang berarti bahwa fungsi aldehida bebas dari bentuk rantai terbuka mampu untuk dioksidasi menjadi gugus asam karboksilat.

Ketosa tidak mudah teroksidasi pada persyaratan lunak yang kalau aldosa teroksidasi. Perbedaan ini merupakan dasar bagi bermacam-macam uji pengenalan, terutama untuk glukosa, yang sebagai suatu aldoheksosa merupakan gula pereduksi. Dua uji ini adalah :


Uji Tollen

Uji Fehling (Benedict)

Oksidasi secara kimia dari aldosa pada umumya menghasilkan asam aldonat. Dalam beberapa hal asam aldonat membentuk suatu ester-dalam, atau lakton.
Beberapa asam aldonat merupakan asam organik kuat dan beberapa garamnya digunakan dalam kedokteran. Misalnya kalsium glukonat adalah mantap dan merupakan bentuk yang dapat diterima secara biologis untuk memberikan kalsium dalam keadaan kurang.

Asam L-Askorbat atau vitamin-C merupakan lakton yang diturunkan dari asam heksonat yang mengandung sebuah ikatan rangkap antara karbon 2 dan 3. Sementara peranan fisiologik dari asam L-askorbat dan tinggal dijelaskan secara lengkap yang paling mungkin adalah menyangkut sifat-sifat redoks dari asam L-dehidroaskorbat.




pabila karbon nomor 6 suatu heksosa dioksidasi oleh enzim, maka dihasilkan asam uronut misalnya D-glukosa menghasilkan asam    D-glukoronat yang merupakan komponen dari polisakarida yaitu asam hialuronat

Fungsi-fungsi alkohol dari gula dapat menunjukkan reaksi seperti pembentukan ester dan eter, yang karakteristik dari gugus fungsi alkohol selain pembentukan ester dengan asam karboksilat gula pembentuk ester juga dengan asam–oksi anorganik, nitroselulosa merupakan poli-nitroester dari polisakarida selulosa.

Lebih penting secara fisiologis adalah ester fosfat dari gula.Beberapa ester fosfat–gula merupakan zat perantara dalam metabolisme pada pH fisiologik ester asam fosfat- gula adalah anionik karena ionisasi dari proton sisa asam fosfat.


 Suatu reaksi penting yang menyangkut fungsi-fungsi alkohol dalam gula adalah pembentukan turunan asetat pada gugusan anomerik –OH. Reaksi ini membentuk ikatan kovalen basik dalam aligo dan polisakarida. Kita sebentar lagi akan meninjau segi pemandangan ini dari kimia monosakarida.





Jenis-jenis Lain Monosakarida

Selain D-aldosa dan D-ketosa yang biologik penting itu, ada banyak jenis monosakarida yang lain dapat dipandang sebagai turunan gula-gula yang telah disebut dimuka.

Gula mono merupakan kelas monosakarida yang gugus –NH2 menggantikan gugus karbosilat dalam suatu monosakarida sederhana, biasanya pada  karbon nomor 2. Gula amino pada umumnya ditemukan dialam sebagai turunan N-asetil yang tidak bermuatan pada pH fisiologik.

Sebuah contoh penting adalah N-asetil-D-glukosamin. Kelak akan kita lihat dalam bab ini bahwa gula amino istimewa ini merupakan komponen utama dari ekso kerangka dari serangga kerang-kerangan.


Gula deoksi dihasilkan dari pergantian gugus –OH dalam gula oleh  -H dengan misalnya reduksi selektif. Barangkali gula deoksi yang paling penting adalah 2-deoksi-ribosa yang merupakan unsur karbohidrat dari DNA.


Oligosakarida

Oligosakarida yang paling umum adalah disakarida, yang tersusun dari dua satuan monosakarida (identik atau berbeda) yang digabungkan oleh ikatan glikosida yang dapat dihidrolisasikan. Sejumlah trisakarida dan oligosakarida tingkat tinggi didapat dalam alam tetapi kita akan membatasi perhatian kita akan membatasi perhatian kita pada disakarida yang umum maltosa, sukrosa, dan laktosa.

Ikatan glikosida yang terbentuk antara satuan monosakarida secara kimia identik dengan suatu asetal (dalam hal aldosa) atau suatu ketal (dalam hal keton).
Asetal terbentuk dari reaksi hemiasetal dan alkohol :




Hemiasetal bereaksi dengan alkohol dengan cara yang sama untuk menghasilkan ketal.  Karena monosakarida dalam bentuk lingkarnya mempunyai baik gugus hidroksil (alkohol) maupun gugus hemiasetal atau hemiketal maka mungkin untuk menerapkan kimia yang baru saja kita bicarakan untuk mengetahui bagaimana dua atau lebih monosakarida dapat digabung menjadi satu.

Disakarida merupakan glikosida yang terbentuk apabila satu monosakarida yang bereaksi sebagai alkohol dan satu lagi bereaksi sebagai hemiasetal (atau hemiketal).  Disakarida yang paling sederhana barangkali adalah maltosa, yang pada hidrolisis menghasilkan larutan D-glukosa murni.  Persamaan (1) menunjukkan bagaimana terbentuknya maltosa dari dua satuan glukosa.
Penandaan (H,OH) berarti bahwa kedudukan anomerik monosakrida ini bebas untuk mengalami mutarotasi.

Ikatan glikasida yang ditunjukkan dalam persamaan (1) disebut ikatan α-1  4 , karena terbentuk dari –OH anomerik dari satu satuan D-glukosa dalam konfigurasi dan gugus –OH nomor 4 dari satuan D-glukosa lain.  Karena dalam maltosa masih tersisa satu karbon anomerik yang tak disubtitusikan, maka ia bebas untuk mengalami mutarotasi, yaitu dapat berada dalam salah satu bentuk keseimbangan α, β, atau rantai terbuka.  Jadi maltosa merupakan gula pereduksi.

Selobiosa merupakan disakarida yang dianggap merupakan suatu pengulang dasar dalam selulosa.


Kalau kita melihat struktur selobiosa maka jelas bahwa disakarida dibentuk dari     –OH anomerik dari satu satuan pada konfigurasi β dan –OH nomor 4 dari satuan lainnya.  Jenis ikatan glikosida ini adalah sambungan β-1 →4 (harus diingat bahwa ikatan bentuk “S” bukanlah merupakan gambaran yang sebenarnya untuk bentuk ikatan β-1→4 hanya suatu kemudahan untuk menjadikannya berbeda dari lawannya α).

Sukrosa (gula tebu) merupakan disakarida yang barangkali paling banyak kita mendapatkan pengalaman secara langsung.  Karena ikatan glikosida terbentuk dari hidroksil anomerik dari kedua satuan monosakarida maka sukrosa bukanlah gula pereduksi.  Jadi ia tidak mengalami mutarotasi.  Sukrosa dapat dihidrolisis baik secara enzimatik maupun secara kimia untuk menghasilkan suatu campuran keseimbangan dari glukosa dan fruktosa yang lebih manis untuk berat yang sama daripada  sukrosa.

Campuran ini disebut juga invert karena hidrolisis disertai dengan pembalikan pemutaran optik dari searah jarum jam (Dekstrorotasi) menjadi lawan jarum jam (levorotasi).  Madu merupakan bentuk yang terdapat dialam yang terdiri dari sebagian besar gula invert.  Laktosa atau gula susu hanya terdapat dalam susu.  Laktosa dengan hidrolisis menghasilkan D-galaktosa dan D-glukosa.



Polisakarida

Bagian terbesar molekul karbohidrat dalam alam terdiri dari bentuk polisakarida berbobot molekul tinggi, yang digunakan baik untuk keperluan struktural maupun untuk perubahan energi kimia.  Karena hubungan kovalen dasar antara satuan-satuan monomer dalam suatu polisakarida adalah ikatan glikosida, maka polisakarida juga disebut glikon .

Ada jarak yang maha luas dari variasi dalam komponen dan sifat-sifat struktural dari polisakarida.  Ada perubahan dalam tahap monosakarida yang membentuk satuan pengulang, dalam penunjang rantai, dan dalam adanya dan luasnya percabangan .

Pada umumnya sebuah contoh polisakarida tertentu yang murni mengandung molekul-molekul dengan tingkat polimerisasi yang beraneka ragam yaitu dalam hal bobot molekulnya.  Berlawanan dengan protein yang urutan asam-asam amino dan dengan demikian bobot molekulnya adalah terperinci secara tepat, maka polisakarida dikatakan polidispers, karena suatu contoh tertentu mengandung molekul polisakarida dari bermacam-macam panjang rantai. 

Homopolisakarida menghasilkan sebuah larutan dari hanya satu jenis monosakrida setelah mengalami hidrolisis sempurna.  Heteropolisakarida menghasilkan larutan yang mengandung dua atau lebih jenis monosakarida.

Heteropolisakarida yang mengandung gula-gula amino disebut sebagai mukopolisakarida. Tabel 2 mencatat beberapa polisakarida untuk menggambarkan daerah yang luas dari jenis-jenis molekul makro ini.


Tabel 2. Contoh jenis polisakarida

Nama
Sumber /Asal
Satuan monosakarida
Hubungan pengulang
Bentuk
Homoplisakarida

Laminaran
Inulin
Selulosa
Amilosa

Amilopektin


Glikogen


Kitin

Heteropolisakarida

Gon Crab




Zat golongan darah



Asam lialuronat
  

Rumput laut (laminarin)
Jalusalem artichoke
Tumbuhan
Tumbuhan (pati)

Tumbuhan (pati)


Hewan


Arthropod, jamur



Pohon akasia








Binatang tingkat tinggi


D-glukosa
D-fruktosa
D-glukosa
D-glukosa

D-glukosa


D-glukosa


N-asetil-D-glukosiamin


D-galaktosa
L-arbinosa
L-ramunosa
Asam D-glukoronat

D-galaktosa
D-glukosamin
L-fukosa

Asam D-glukoronat
N-asetil-D-glukosiamin


α-1→3
α-1→4
β-1→4
α-1→4

α-1→4
α-1→6

α-1→4
α-1→6

β-1→4



tak diketahui




tak diketahui



β-1→3
β-1→4



Linier
Linier
Linier
Linier

Bercabang


bercabang


Linier



bercabang




bercabang




Linier



Homopolisakarida

Banyak homopolisakarida bekerja sebagai cadangan karbohidrat bagi organisme dimana ia terdapat.  Misalnya laminaran cadangan karbohidrat dari rumput laut tergantung pada musimnya.  Kita tentu mengental pati gandum dan pati jagung yang merupakan cadangan karbohidrat bagi kedua tumbuhan ini.

Pati terbagi menjadi dua golongan : amilopektin dan amilosa.  Amilosa molekul makro liniar; amilopektin bercabang.  Bobot molecular pati dapat berkisar sampai jutaan.  Satuan pengulang dasar bagi kedua amilosa dan amilopektin adalah satuan maltosa.



Molekul pati mempunyai dua akhiran yang berbeda: akhiran tak pereduksi dengan gugus –OH  nomor 4 yang bebas dan akhir pereduksi dengan gugus –OH bebas anomerik.  Percabangan dalam amilopektin berlangsung kira-kira sekali setiap 25 satuan glukosa di dalam rantai polisakarida.

Titik percabangan terjadi pada pembentukan ikatan α-1→6 seperti ditunjukkan dalam gambar 12.  Glikogen atau gula otot merupakan cadangan karbohidrat dengan rantai bercabang dan dihasilkan dalam hewan.  Pada dasarnya identik dengan amilopektin kecuali bahwa glikogen lebih banyak bercabang.

Gambar 11. Cara bercabang dalam amilopektin dan dalam glikogen

Hidroliasis secara enzimatik dari pati merupakan proses penting pada pencernaan.  Kita dapat membagi enzim penghidrolisis pati menjadi dua kelas: α-amilase dari air liur dan cairan pankreas, dan  β-amilase dari biji-bijian yang sedang bertunas. Istilah yang betul untuk suatu α-amilase adalah α-1,4-glukanohidrolase.  Nama ini menguraikan kerja enzim seperti digambarkan pada gambar 12.

Kerjanya β-amilase atau terutama α-1,4-glukan maltohidrolase, lebih spesifik dalam hal bahwa enzim membelah satuan-satuan maltosa berturut-turut, dimulai dari ujung yang tak pereduksi.  Jadi hidrolisis dari amilase jika dikatalisasikan oleh β-amilase menghasilkan larutan maltosa.

Gambar 12.  Cara kerja α-amilse atas amilase.

Kerja β-amilase atas suatu amilopektin dipengaruhi oleh adanya sambungan α.1→6 pada titik-titik cabang, yang tidak dapat dihidrolisasikan oleh enzim.  Jadi hidrolisis berhenti apabila enzim mencapai suatu titik cabang  dilukiskan dalam gambar 13.  Sisa polisakarida dalam larutan demikian setelah hidrolisis tidak sempurna dari amilopektin oleh β-amilase disebut dekstrin.

Dekstrin merupakan polisakarida berbobot molekular rendah sampai sedang yang bercabang, dan biasanya digunakan sebagai dasar pada pasta kertas yang digunakan oleh anak sekolah.


Gambar 13.  Cara kerja β-amilase atas amilopektin.




Iodium dalam larutan air dengan kanji menjadi terserap oleh molekul-molekul kanji yang dalam keadaan sangat terhidrotasikan menghasilkan warna biru tua.  Warnanya tergantung pada ukuran rata-rata molekulnya.  Kita dapat mengikuti hidrolisis pati dengan mengamati perubahan warnanya dengan adanya iodium.

 

Selulosa dan kitin merupakan dua polisakarida struktur yang patut mendapatkan perhatian karena berlimpah ruahnya dialam.  Selulosa dan pati menghasilkan larutan yang sama dari D-glukosa setelah hidrolisis sempurna.  Akan tetapi didalam mulut, roti putih menghasilkan rasa manis karena hidrolisis pati oleh amilase air liur, sedang ikatan dalam mulut yang merupakan selulose murni, tidak mengeluarkan rasa manis.

Perbedaan struktural antara selulosa dan amilosa mungkin kelihatannya kurang penting, akan tetapi cukup untuk memberikan selulosa yang tak terhidrolisasikan dan dengan demikian tidak tercernakan oleh α-amilase dalam cairan pencernaan manusia.  Bila amilosa adalah berikatan α .1 → 4, maka selulosa adalah berikatan β - → 4.  Selulosa merupakan homopolisakarida liniar yang berbobot molekular tinggi dengan satuan pengulang selobiosa.
Kitin serupa selulosa kecuali kenyataan bahwa ia mukopolisakarida terdiri dari       satuan-satuan N-asetil-D-glukosamin yang berikatan
β-1 → 4. 
Satuan pengulang dari kitin

Kitin pada umumnya sangat tahan terhadap hidrolisis, walaupun enzim kitinase dapat melakukannya dengan mudah. Kitin membentuk zat dasar yang tahan lama dari kulit spora lumut dan ekso kerangka dari serangga dan kerang-kerangan.


Heteropolisakarida

Beraneka ragam plisakarida yang luas mengandung dua atau lebih satuan monosakrida.  Banyak getah nabati mengandung tidak kurang dari empat satuan monosakarida yang berbeda.  Beberapa getah nabati seperti agar-agar dan Karagunan merupakan bahan pengisi penting dalam teknologi makanan.

Asam hialuronat merupakan heteroplisakarida yang merupakan unsur penting dari jaringan penghubung dari hewan.  Struktur satuan pengulang dari asam hialuronat ialah :

                           Satuan pengulang asam hialuronat

Pada  pH fisiologik molekul asam hialuronat menjadi sama sekali terhidratasikan akibat adanya banyak gugus fungsi karbohidrat anionik.  Ini menghasilkan suatu gel, atau cairan kental tergantung pada ukuran molekul.  Asam hialuronat di dalam jaringan biasanya bertahan dengan bahan protein.  Bekerja sebagai unsur penting dari zat dasar atau matriks yang mengikat sel-sel menjadi satu di dalam jaringan berhubungan /penyambung dan juga terdapat didalam cairan lendir pelumas dari sendi-sendi dan didalam cairan yang bekerja seperti lensa dari mata.  Kebanyakan racun ular dan lebah mengandung suatu “faktor pemencar” yang terdiri dari suatu enzim, yaitu hialuronidase yang melakukan hidrolisis asam hialuronat dan demikian memudahkan tersebarnya zat-zat berbisa dalam racun keseluruh jaringan.






Heteropolisakarida Kompleks
                             
Polisakarida sangat erat bertalian dalam biokimia permukaan sel.  Di dalam sel hewan tingkat lebih tinggi, heteropolisakarida, glikoprotein, dan liposakarida (polisakarida yang secara kovalen terikat pada lipida) berhubungan dengan sifat-sifat imunologi dari sel.  Heteropolisakarida kompleks  berhubungan dengan sifat-sifat antigenik beberapa bakteri, kulit luar yang “langsung” atau kapsul dalam bakteri lain; dan struktur kovalen dasar dari dinding sel bakteri.


Dinding Sel Bakteri

Dinding sel bakteri merupakan kulit pelindung yang berstruktur sangat tinggi yang mengelilingi membran bakteri dan mempunyai tingkat kekuatan mekanik cukup besar.  Kekuatan ini sangat penting bagi organisme yang hidup bebas seperti bakteri, yang harus mampu untuk ada dalam lingkungan hipo-osmotik  dimana sel yang tak terlindungi akan menyerap air dan pecah akibat lisa hipotonik.  Bakteri terbagi menjadi dua kelompok utama: gram-positif dan gram-negatif, tergantung dari sikap sel selama prosedur pengecetan menurut gram.  Perbedaan antara dinding sel dari kedua kelompok bakteri, bertanggung jawab terhadap sikap pengecetan yang berlainan.

Tabel 3.  Merupakan ringkasan sifat dinding sel dari bakteri gram-positif dan gram negatif.

Tabel 3.  Sifat dinding sel pada bakteri gram positif dan gram    
                negatif.


Bakteri
Unsur pembentuk dinding sel
Sifat-sifat dinding sel
Gram positif

Gram-negatif
Karbohidrat dan protein murni

Karbohidrat, protein, lipida, lipoprotein, lipopolisakarida
Kaku, keras

Fleksibel, lunak
                                             
Walaupun bakteri gram-positif dan gram negatif berbeda dalam kekompleksan kulit keseluruhan sel, kerangka kovalen dari dinding sel pada dasarnya sama pada kedua jenis organisme.

Kerangka kovalen ini terdiri dari molekul tunggal berbentuk kantong yang mengelilingi membran sel dan disebut peptidoglikan, atau murein (Latin: murus=”dinding”).  Apabila hal-hal sampai sekecil-kecilnya berbeda dari satu macam ke macam lain, namun struktur dasar adalah sama.

Jadi satuan pengulang dinding sel bakteri peptide glikan yang ditunjukkan dalam gambar 15 adalah yang mengelilinginya.  Sifat dari tetrapeptida berubah-ubah dari satu jenis kejenis lain.  Yang penting adalah bahwa tetrapeptida sedikitnya meliputi satu fungsi karboksil bebas dan paling sedikit satu fungsi amino bebas, yang memungkinkan terjadinya pengikatan secara bersilangan dari rantai-rantai heteropolisakarida-peptida yang sejajar dengan jembatan-jembatan oligopeptida yang pendek-pendek untuk membentuk keseluruhan dinding sel peptidoglikan.






Gambar 14.  Satuan pengulang yang khas dari dinding sel bakteri
                     Peptidoglikan.




Gambar 15.  Bagian dari peptidoglikan dari S aureus yang mempertunjukkan ikatan bersilang dari rantai-rantai heteropolisakarida yang berdekatan dengan pembentukan jembatan-jembatan pentaglisin peptida.

Keterangan :
G  = N-asetil-D-Glukosamin
M = Asam N-asetil muramat











Penyusunan unsur-unsur peptidoglikan di dalam dinding sel. Staphilococus aureus ditunjukkan oleh gambar 15 dan menggambarkan bagaimana struktur dindung sel secara bersilangan dihasilkan. Hasil keseluruhan merupakan jaringan peptidoglikan yang mengelilingi sel.

Biosintesis dinding sel terjadi diluar membran sel. Beberapa antibiotika menghalang-halangi proses ini. Misalnya penisilin menghalangi enzim yang mengadakan katalisis terhadap ikatan yang bersilangan antara jembatan pentapeptida dengan sisa D-alamin dari tulang punggung heteropolisakarida-tetrapeptida.

Selain jaringan peptidoglikan dinding sel bakteri mengandung sejumlah zat-tambahan yang mengandung karbohidrat seperti asam teikoat dari organisme Gram-positif dan lipopolisakarida bakteri Gram-negatif. Fungsi-fungsi dari kebanyakan zat-zat tambahan ini masih tetap tidak jelas.


Glikoprotein

Telah kita lihat bahwa ada sejumlah kelas protein yang berkonjugasi. Glikoprotein merupakan salah satu kelas demikian yang mempunyai bagian karbohidrat terikat secara kovalen pada rantai polipeptida.  Telah kita lihat dalam bab ini bahwa polisakarida sendiri bukanlah molekul makro yang pemberi keterangan dalam hal ini tidak adanya urutan yang khas genetik dari satuan-satuan monomer seperti pada protein. Akan tetapi glikoprotein memang memungkinkan tercakupnya satuan-satuan karbohidrat kedalam suatu molekul makro yang informatif.

Karena banyak glikoprotein pada hewan tingkat tinggi terdapat pada permukaan sel, maka peran informatif glikoprotein merupakan dasar untuk akibat-akibat seperti pangakuan sel terhadap sel, dan penentuan jenis darah untuk pembandingan donor darah dan penerimanya. Tabel 4. mengikhtisarkan beberapa glikoprotein dan fungsinya.














Tabel 4. Beberapa Glikoprotein dan sumber serta fungsinya.

Glikoprotein
Sumber
Sumber Fungsi
Protein antibeku



Mucin


Kolagen

Fibrinogen


Hormon perangsang kelenjar

Ikan antartika



Sekresi lendir lidah dan lendir perut

Tulang, jaringan penghubung

Darah


Kelenjar lendir
Mencegah pembekuan plasma darah


Pelumas kental


Struktural

Pembentukan gumpalan darah

Mengendalikan produksi estrogen pada permukaan masa reproduksi



Zat Kelompok Darah

Zat kelompok darah adalah glikoprotein yang berbeda diantara   perseorangan, sesuai jenis darahnya. Orang dikelompokkan menjadi empat jenis darah utama : A,B,AB, dan O. Serum darah perseorangan dengan darah jenis O mengandung antibodi yang menyebabkan pengumpulan dan pengendapan sel darah merah dari donor jenis A,B,dan AB. Pemberian darah dari perorangan jenis tersebut saling bertentangan dengan cara sama. Patut dicatat bahwa serum A,B, dan AB tidak mengandung antibodi bagi jenis eritrosit O. Hal ini menyebabkan mengapa perorangan berjenis darah O kadang disebut “donor universal”.

Dasar molekul untuk jenis darah adalah protein critrosit permukaan yaitu glijogen. Sebagian dari protein ini menonjol dari membran eritrosit dan mengandung banyak satuan oligosakarida yang terikat secara kovalen pada gugus-gugus hidroksil serin dan trionin dari rantai polipeptida. Bagian dari satuan oligosakarida yang mengadakan interaksi sesungguhnya disebut antigen kelompok darah.

Ini terdiri dari 3 atau 4 satuan sakarida seperti ditunjukkan dalam gambar 17. Adalah menarik bahwa substitusi dari hanya satu gugus N-asetil untuk satu gugus hidroksil dari satu satuan monosakarida dapat berarti perbedaan antara darah jenis A dan jenis B. Dalam hal jenis perorangan AB, eritrosit mengandung baik antigen gugus darah A maupun B.



                                             Antigen gugus darah jenis A

Gambar 16.  Struktur kovalen dari antigen gugus darah A,B dan O. Struktur yang diperlihatkan adalah untuk dari dua jenis rantai yang oligosakarida. Satu mepunyai ikatan β-1→4 antara galaktosa dan satuan N-asetil glukosamin seperti ditunjukkan, sedang yang lainnya mempunyai ikatan β-1→3.

Polisakarida, polimer gula, memiliki peran penyimpanan dan struktural.

Polisakarida adalah makromolekul , polimer dengan beberapa ratus sampai beberapa ribu monosakarida yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Beberapa diantara polisakarida berfungsi sebagai materi simpanan atau cadangan yang nantinya ketika diperlukan akan dihidrolisis untuk menjadikan gula bagi sel.

Polisakarida lain berfungsi sebagai materi pembangun (penyusun) untuk struktur yang melindungi sel atau keseluruhan organisme. Arsitektur dan fungsi suatu polisakarida ditentukan oleh monomer gulanya dan oleh posisi ikatan glikosidiknya.







Polisakarida Simpanan

Pati, suatu polisakarida simpanan pada tumbuhan, adalah suatu polimer yang secara kesluruhan adalah terdiri atas monomer glukosa. Sebagian besar monomer ini dihubungkan dengan ikatan 1,-4, seperti unit glukosa dalam maltosa. Sudut ikatan ini membuat polimer tersebut berbentuk heliks.

Bentuk pati yang paling sederhana adalah amilosa, yang rantainya tidak bercabang. Amilopektin, suatu bentuk pati yang lebih kompleks, adalah polimner bercabang dengan ikatan 1-6 pada titik percabangan.

Tumbuhan menumpuk pati sebagai granil atau butiran didalam struktur seluler yang disebut plastid, termasuk kloroplas. Dengan cara mensintesis pati, tumbuhan dapat menimbun kelebihan glukosa.

Karena glujkosa merupakan bahan bakar seluler yang utama, pati merupakan energi cadangan. Gula yang tersimpan kemudian dapat ditarik dari bank karbohidrat ini melalui hidrolisis, yang memutuskan ikatan diantara monomer glukosa.

Sebagian besar hewan, termasuk manusia, juga memiliki enzim yang dapat menghidrolisis pati tumbuhan membuat glukosa bisa digunakan sebagai nutrien bagi sel. Umbi kentang dan biji-bijian, butir gandum, jagung, beras, dan padi-padian lainnya merupakan sumber utama pati dalam menu makanan manusia.

Hewan menyimpan polisakarida yang disebut glikogen, suatu polimer glukosa yang mirip dengan amilopektin namun percabangannya lebih banyak. Manusia dan vertebrata lainnya menyimpan glikogen terutama dalam sel hati dan otot.

Hidrolisis glikogen pada sel ini akan melepaskan glukosa ketika permintaan akan gula meningkat. Namun demikian, bahan bakar cadangan ini tidak dapat diandalkan sebagai sumber energi hewan untuk jangka waktu yang lama.

Pada manusia misalnya, glikogen simpanan akan terkuras habis dalam waktu satu hari kecuali kalau dipulihkan kembali dengan mengkonsumsi makanan.


Polisakarida Struktural

Organisme membangun materi kuat dari polisakarida struktural. Misalnya, polisakarida yang disebut selulosa adalah komponen utama dinding keras yang menyelubungi sel-sel tumbuhan. Dalam skala global, tumbuhan menghasilkan hampir 1011 (100 miliar) ton selulosa per tahun. Selulosa adalah senyawa organik yang paling melimpah dibumi ini. Seperti pati, selulosa adalah polimer glukosa, akan tetapi ikatan glikosidik pada kedua polimer ini sangat berbeda.

Perbedaan itu didasarkan pada kenyataan bahwa sebenarnya terdapat dua struktur cincin glukosa yang sedikit berbeda. Ketika glukosa membentuk cincin, gugus hidroksil yang terikat dengan karbon nomor 1 akan terkunci dalam salah satu diatara dua posisi pilihan yang terletak dibawah atau diatas sumber cincin itu.
Kedua bentuk cincin glukosa ini secara berturut-turut disebut alfa (α) dan beta (β). Pada pati, monomer glukosa semuanya berada dalam konfigurasi, pengurangannya. Sebaliknya, monomer glukosa dari selulosa semuanya berada dalam konfigurasi, membuat setiap monomer glukosa saling terbalik dengan monomer glukosa lainnya.

Ikatan glikosidik yang berbeda pada pati dan selulosa menyebabkan kedua molekul itu mempunyai bentuk tiga dimensi yang berbeda. Molekul pati yang berbentuk heliks, molekul selulosa berbentuk lurus, dan tidak pernah bercabang, dan gugus hidroksilnya bebas membentuk ikatan hidrogen dengan gugus hidroksil molekul selulosa lainnya yang terletak sejajar (paralel) dengannya.

Pada dinding sel tumbuhan banyak molekul selulosa sejajar yang diikatkan bersama dengan cara ini, dikelompokkan menjadi unit yang disebut mikrofibril. Struktur yang berbentuk kawat-kawat ini adalah materi pembangun yang kuat bagi tumbuhan seperti manusia yang menggunakan kayu, yang kaya akan selulosa untuk bahan bangunan.

Enzim yang mencerna pati dengan cara menghidrolisis ikatan α-nya tidak menghidrolisiakan β-selulosa. Organisme yang memiliki enzim yang dapat mencerna selulosa. Manusia tidak dapat mencerna selulosa, serat selulosa dalam makanan kita, lewat melalui saluran pencernaan dan dikeluarkan bersama-sama dengan feses.

Disepanjang saluran pencernaan, serat selulosa itu mengikis dinding saluran pencernaan dan merangsang lapisan saluran pencernaan mengeluarkan lendir, yang membantu makanan melawati saluran pencernaan dengan lancar.
Dengan demikian meskipun selulosa bukan merupakan nutrien bagi manusia, tetapi merupakan bagian penting dalam menu makanan yang sehat. Sebagian besar buah-buahan segar, sayur-sayuran dan biji-bijian sangat kaya akan selulosa atau serat.

Beberapa bakteri dan mikroba lain dapat mencerna selulosa, merombaknya menjadi monomer glukosa. Sapi memiliki bakteri pencerna selulosa yang tinggal dalam rumen, pertama dalam lambung sapi.

Bakteri itu akan menghidrolisis selulosa dari rumput-rumputan dan jerami, dan kemudian mengubah glukosa menjadi nutrien yang lain dan dapat dimakan oleh sapi. Dengan cara yang serupa, rayap yang tidak mampu mencerna selulosa sendiri, memiliki mikroba yang tinggal dalam ususnya yang dapat memakan kayu.

Beberapa fungsi atau kapang dapat juga mencerna selulosa sehingga berperan sebagai pembusuk yang sangat penting dalam pendaurulangan unsur kimiawi dalam ekosistem bumi.

Polisakarida struktural penting lainnya adalah kitin, karbohidrat yang digunakan oleh artropoda (serangga, laba-laba, krustase, dan hewan lain yang sejenis) untuk membangun eksoskeletonnya (kerangka luarnya). Eksoskeleton merupakan lapisan keras yang membungkus bagian lunak hewan tersebut.

Kitin murni mirip seperti kulit, namun akan mengeras ketika dilapisi dengan kalsium karbonat, salah satu jenis garam. Kitin juga ditemukan dalam banyak fungsi yang menggunakan polisakarida-rin dan bukannya selulosa, sebagai materi penyusun dinding selnya. Monomer kitin adalah molekul glukosa dengan cabang yang mengandung nitrogen.








MODUL I

1.    Untuk setiap istilah berikut berilah batasan singkat atau penjelasannya :

- Aldosa                                - Glikan                                    - Murein
- Gula amino                       - Glikoprotein              - Mutarotasi
- Anomer                              - Ikatan glikosida                   - Pentosa
- Gula deoksi                       - Heksosa                                - Paranosa
- Puranosa                           - Ketosa

2.    Gambarkan struktur dari hasil atau hasil reaksi berikut :
a.    D-glukosa + 2Ag+ + 2OH-
b.    Hasil dari (a) + pereaksi dehidrat →
c.    Selulosa  

                           
d.    Amilosa
                     
e. α-D-galaktosa


3.    Monosakarida D-glukosa dan D-fruktosa bereaksi untuk membentuk sebuah disakarida. Gambaran struktur semua disakarida yang mungkin dihasilkan dengan menggunakan ikatan α- dan β-1→4 dan 1→6.

4.    Gugus hidroksil gula bereaksi dengan metil iodida dengan adanya Ag2O untuk membentuk jenis metil eter dengan proses yang disebut metilasi

5.    Hal ini merupakan sebuah alat bagi para ahli kimia karbohidrat dalam penentuan struktur. Misalnya sebuah ologosakarida murni yang mengandung enam satuan glukosa dapat dimetilasi hingga lengkap atau sempurna dengan CH3I dan Ag2O dan kemudian dihidrolisis secara sempurna untuk menghasilkan hanya 2,3,6-tri-0-metilglukosa.
                                                     


Oligosakarida murni yang semula tidak dapat dioksidasi oleh ion perak atau ion kupri. Gambarkan struktur oligosakaridanya dengan mengumpamakan adanya ikatan-glikosida.

6.    Dengan menggunakan struktur tunjukkan mengapa sukrosa bukanlah sebuah gula yang pereduktor.

7.    Telah digunakan cara penulisan bentuk “S” untuk menggambarkan ikatan glikosida β-1→4 seperti pada selulosa. Ini tentunya bukan merupakan penampilan untuk ikatan yang sebenarnya. Dengan menggunakan rumus proyeksi Haworth, gambarkan struktur yang sebenarnya dari fragmen pentasakarida dari selulosa.

8.    Gambarkan struktur semua zat hasil yang diperoleh dari hidrolisis sempurna dari :
a.    Asam hialuronat
b.    Satuan peptidoglikon (yang digambarkan dalam satuan pengulang yang khas dari dinding sel bakteri peptidoglikon).

9.    Gunakan gambar 17 untuk :
a.    Menggambarkan struktur antigen gugus darah untuk jenis gugus darah B dan O
b.    Dengan menggunakan karbon nomor 1. dari α-D-glukosa sebagai titik penggabungan, tunjukkan bagaimana rantai oligisakarida dapat diikat secara kovalen pada sebuah serin dan pada sisa treonin dari suatu polipeptida.

10. Yang mana diantara istilah berikut ini yang mencakup semua yang lainnya dalam daftar istilah tersebut :
a.    monosakarida                       d. karbohidrat
b.    disakarida                              e. polisakarida
c.    pati

11.  Rumus molekul untuk glukosa adalah C6H12O6. Apa rumus molekul untuk suatu polimer yang dibuat dengan cara mengikatkan sepuluh molekul glukosa melalui reaksi kondensasi? Jelaskan jawaban Anda ?
a.    C60H120O60
b.    C6H12O6
c.    C60H102O51
d.    C60H100O50
e.    C60H111O51

12. Kedua bentuk cincin glukosa (α dan β) :
a.    Terbuat dari isomer struktural glukosa yang berbeda
b.    Muncul dari molekul glukosa linier (bukan cincin) yang berlainan
c.    Muncul ketika karbon yang berbeda dari struktur linier menyatu membentuk cincin
d.    Muncul karena gugus hidroksil pada titik penutupan cincin itu terjebak dalam salah satu dari dua kemungkinan posisi
e.    Meliputi aldosa dan ketosa.





























1 Comments


soal modul 1 nya gada kunci jawabannya ya?

Posting Komentar

GOOD MEDICAL STUDENT NOW
GOOD MEDICAL DOCTOR TOMORROW

Copyright © 2009 CATATAN KULIAH kurNHIAti (Medical Student) All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.