0
METABOLISME HIDRAT ARANG ( KARBOHIDRAT )
PENGANTAR
Metabolisme
Karbohidrat dimulai dengan pencernaan Amilum dalam usus halus. Hasil pencernaan
berupa monosakarida diserap oleh usu halus. Glukosa merupakan senyawa utama
yang paling banyak dibicarakan dalam metabolisme Karbohidrat. Rangkaian
reaksi yang membentuk beberapa jalur , seperti glikolisis, glikogen sintesis
dan pemecahannya, HMP Shunt, glukoneogenesis, asam uronat sebenarnya adalah
merupakan catabolisme glukosa. Metabolisme fruktosa dan galaktosa juga
diterangkan. Dalam bab kontrol metabolisme Karbohidrat dite-rangkan bagaimana metabolisme
Karbohidrat terorganisasi dan terkoordinasi. Pengaruh hormon terhadap
metabolisme Karbohidrat juga disinggung baik dalam tiap-tiap jalur dan juga ada
bab tersendiri. Juga dikenalkan secara singkat tentang aspek klinik dari
metabolisme karbohidrat.
Metabolisme
Karbohidrat adalah salah satu Bab dari Ilmu Biokimia, yang merupakan Ilmu
Kedokteran Dasar dan harus dimiliki oleh mahasiswa Farmasi. Dilihat dari sudut
pandang metabolisme Karbohidrat, dapat diterangkan kenapa timbul gejala (sering kencing).
Mekanisme bagaimana terjadinya hiperglikemi, dan tak kalah pentingnya mekanisme
kerja obat untuk menurunkan hiperglikemi; semuanya ini dapat diterangkan dengan
Ilmu Biokimia. Salah satu jalur dalam metabolisme Karbohidrat dapat mengurangi
jumlah reactif oksigen ( H2O2 ) yang penting artinya
untuk integritas sel darah merah dan banyak lagi manfaat yang diperoleh dari
mempelajari mata kuliah ini.Oleh karena itu, mata kuliah ini ditawarkan untuk
membantu anda memperoleh pemahaman yang komprehensif yang akan dapat nantinya
digunakan dalam pekerjaan anda sebagai ahli Apoteker.
Setelah menyelesaikan mata
ajar Ilmu Biokimia , mahasiswa Fakultas Farmasi diharapkan dapat :
1.menerangkan
pencernaan Amilum dalam usus halus dan menyebut dua monosakarida yang diserap
secara aktif oleh mukosa usus halus.
2.menerangkan jalur Glikolisis
3.menerangkan
metabolisme Glikogen
4.menerangkan
jalur Glukoneogenesis
5.menerangkan
jalur “Hexose Mono Phosphate Shunt” ( HMP Shunt ).
6.menerangkan
metabolisme Fruktosa
7.menerangkan
metabolisme Galaktosa
8.menerangkan
kontrol metabolisme karbohidrat
Pokok Bahasan
:
|
No.
|
Tujuan Instruksional
khusus
|
Pokok Bahasan
|
Sub Pokok
Bahasan
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
|
TIK 1
Menerangkan
pencernaan Amilum dalam usus halus dan penyerapan
TIK 2
Menerangkan
jalur Glikolisis
TIK 3
Menerangkan
oksidasi asam piruvat
TIK 4
Menerangkan
metabolisme Glikogen
TIK 5
Menerangkan jalur Glukoneogenesis
TIK 6
Menerangkan
jalur “Hexose Mono Phosphate Shunt” ( HMP Shunt ).
TIK 7
Menerangkan metabolisme Fruktosa
TIK 8
Menerangkan metabolisme
Galaktosa
TIK 9
Menerangkan kontrol metabolisme
Karbohidrat
|
PB 1
Amilum
Amilase
Penyerapan :
aktif dan pasif
Aerob, unaerob
Fungsi
Enzim-enzim kunci
Oksidasi asam piruvat
Glikogenesis
Glikogneolisis
Substrat glukoneogenesis
Enzim-enzim
kunci
Tempat
terjadinya
(otot, selain
otot)
Fungsi
Enzim-eznim
kunci
Fruktosa
Sorbitol
Rangkaian reaksi
Sistemik
(Glukosa darah)
Intra selluler
Hubungan inter jalur
|
SPB 1
Aktivator dan
Inhibitor
Pengaruh hormon
Dalam :
hepar dan otot
Pengaruh hormon
|
1.PENDAHULUAN.
Hidrat arang (karbohidrat) merupakan
makanan pokok kita bangsa Indonesia.Pada umumnya sumber karbohidrat dalam
makanan berasal dari beras, namun ada juga yang berasal dari sagu, ketela pohon
atau jagung.
Di negara yang sudah maju, daging
merupakan menu utama dari makanan mereka. Karbohidrat dalam daging namanya
glikogen.
Karbohidrat merupakan senyawa biomolekul
yang paling banyak jumlahnya di permukaan bumi ini. Polimer karbohidrat yang
tidak larut merupakan pelindung dan membentuk dinding sel bakteri; pada
tumbuhan senyawa ini berfungsi sebagai penopang dan pada binatang berfungsi
sebagai jaringan ikat dan "cel coat".
Fungsi utama dari metabolisme karbohidrat
adalah untuk menghasilkan energi dalam bentuk senyawa yang mengandung ikatan
fosfat bertenaga tinggi.
2.PENCERNAAN
KARBOHIDRAT.
Pencernaan karbohidrat terjadi terutama di
usus kecil. Enzim amilase yang disekresi pankreas, dengan pH optimum 7
memerlukan ion Cl secara mutlak, menghidrolisis amilosa menjadi maltosa dan
glukosa. Apabila amilopektin dan glikogen dihidrolisis; glukosa, maltosa, maltotriosa
dan oligosakarida dengan rantai cabang pendek terbentuk. Amilum (starch) dan
glikogen yang telah mengalami hidrasi (hydrated starch) akan dicerna oleh
amilase pankreas dan menghasilkan maltosa [a-Glk(1 à)Glk],
trisaccharida maltotriosa [a-Glk(1à4)
aGlk(1à4)
Glk], a-limit dextrins dan sedikit glukosa.
Amilase merupakan endopolisakaridase; a-amilse tidak bisa memutus ikatan a-(1à4)
pada glukosa yang terletak pada titik cabang lihat gambar dibawah ini !
Enzim-enzim yang dapat menghidrolisis disakarida
terdapat pada "brush border", dengan nama umum disakaridase. Hasil
utama hidrolisis disakarida adalah glukosa, galaktosa, dan fruktosa.
Monosakarida yang telah diserap masuk ke vena porta setelah melalui hepar
beredar keseluruh tubuh. Selulosa tidak dapat dicerna oleh manusia, akhirnya
akan dikeluarkan dengan feses.
Monosakarida diserap dengan kecepatan yang
berbeda. Urutan menurut kecepatannya adalah sebagai berikut : galaktosa,
glukosa fruktosa, mannosa, xilosa (xylosa) dan arabinosa. Galaktosa dan glukosa
diserap secara aktif.
Gambar a :
Cara kerja enzim amilase

Latihan
:
1.
Terangkan bagaimana enzim amilase bekerja, apa yang dihasilkan
2.Monosakarida
apa saja yang diserap secara aktif.
Catatan :
3.PEMBAGIAN
METABOLISME KARBOHIDRAT.
Untuk mempermudah mempelajari metabo-lisme
karbohidrat, maka dibagi menjadi beberapa jalur metabolisme. Namun hendaknya
diingat bahwa dalam tubuh, jalur-jalur ini merupakan kesatuan, yang mana jalur
yang paling banyak dilalui tergantung pada keadaan (status nutrisi) waktu itu.
Pembagiannya
adalah:
3.1.Glikolisis
("glycolysis")
3.2.Glikogenesis
( "glycogenesis" ).
3.3.Glikogenolisis
( "glycogenolysis" ).
3.4.Oksidasi
asam piruvat.
3.5.Jalur fosfoglukonat oksidatif ( "Hexose
Mono-phosphate Shunt" atau
"Pentose Phosphate Pathway" ).
3.6.Glukoneogenesis
( "gluconeogenesis" ).
3.7.Metabolisme
fruktosa, galaktosa dan heksosamin
4. G L I K O L I S I S.
Glikolisis adalah pemecahan glukosa menjadi
asam piruvat atau asam laktat. Jalur ini terutama terjadi dalam otot bergaris,
yang dimaksudkan untuk menghasilkan energi (ATP). Apabila glikolisis terjadi
dalam suasana anaerobik maka akan berakhir dengan asam laktat, dan menghasilkan
dua ATP ( gambar-1).
4.1.Tahapan
reaksi glikolisis.
Jalur
ini disebut juga jalur Embden-Meyerhof. Semua enzim yang terlibat terdapat
dalam fraksi ekstra mitokhondria (dalam sitosol). Mula-mula glukosa mengalami
esterifikasi dengan fosfat, reaksi ini disebut juga fosforilasi glukosa oleh
ATP menjadi glukosa 6-P.
Heksokinase (glukokinase)
Mg++
D-glukosa
+
ATP ® D-glukosa 6-P + ADP.
Reaksi ini memerlukan ion Mg++.
Dalam sel , sedikit sekali glukosa berada
sebagai glukosa bebas, sebagian besar terdapat dalam bentuk ester glukosa 6-P.
Reaksi ini dikatalisis dua enzim : hexokinase dan glukokinase.
Hexokinase
terdapat dalam ber-macam2 sel,kecuali di sel hepar dan pankreas. Enzim ini
sesuai dengan namanya dapat pula mengkatalisis esterifikasi heksosa lainnya dengan ATP; contoh: fruktosa menjadi
fruktosa 6-P. Dalam sel binatang dan manusia enzim ini merupakan enzim
regulator, karena dapat dihambat oleh hasil reaksinya.
Glukokinase terdapat
dalam hepar dan pankreas. Mempunyai Km
untuk D-glukosa jauh lebih tinggi dari enzim hexokinase. Glukokinase memerlukan
glukosa lebih tinggi untuk menjadi aktif bila dibandingkan dengan heksokinase
(gambar 28)
Selain itu glukokinase tidak dihambat oleh
hasil reaksinya yaitu glukosa 6-P. Glukokinase berperan biasanya pada waktu
kadar glukosa darah tinggi (sesudah makan). Pada penderita Diabetes Mellitus
enzim ini jumlahnya berkurang.
Reaksi
fosforilasi ini boleh dikatakan reaksi satu arah.
Selanjutnya glukosa 6-P diubah menjadi
fruktosa 6-P. Reaksi ini dikatalisis enzim fosfoheksosa isomerase, dimana
terjadi aldosa-ketosa isomerasi. Hanya D-anomer dari glukosa 6-P yang bisa
dipakai sebagai substrat. Reaksi ini merupakan reaksi bolak-balik.
Reaksi selanjutnya adalah pembentukan
fruktosa 1,6-difosfat oleh enzim fosfofruktokinase-1. Reaksi ini boleh
dikatakan reaksi satu arah. Enzim fosfofruktokinase-1 merupakan enzim yang bisa
diinduksi. Enzim ini memegang peran yang
penting dalam mengatur kecepatan glikolisis.
fosfofruktokinase-1
Fruktosa 6-P + ATPà
Fruktosa 1,6-BP + ADP.
Mg++
Aktifitas enzim ini meningkat apabila
konsentrasi ADP, AMP, fosfat inorganik ( Pi ) meningkat. Enzim fosfofruktokinase-1 dihambat oleh ATP,
asam sitrat dan 2,3-DP gliserat (dalam sel darah merah). Apabila pemakaian ATP
meningkat (kadar ATP menurun) maka aktifitasnya meningkat, sebaliknya apabila
kadar ATP tinggi aktifitas enzim tersebut menurun. Enzim ini juga dihambat oleh
meningkatnya kadar asam lemak bebas, sehingga apabila senyawa ini meningkat
dalam darah, yang akhirnya masuk ke dalam sel , maka pemakaian glukosa akan
berkurang.
Fruktosa 1,6-BP akan dipecah menjadi dua
triosa oleh enzim aldolase.
Aldolase
Fruktosa 1,6-BP ® Dihidroksi asetonfosfat + gliseraldehida
3-P
Pada sel binatang sedikitnya ada dua macam
aldolase, aldolase A yang terdapat dalam sebagian besar jaringan , aldolase B
terdapat dalam sel hepar dan ginjal. Semuanya terdiri dari empat subunit
polipeptida yang berbeda komposisi asam amino-nya.
Gliseraldehida
3-fosfat « Dihidroksi asetonfosfat (DHAP).
Kedua triosa tersebut diatas
"interconverted", dapat saling berubah dengan adanya enzim
fosfotriosa isomerase.
Sampai dengan reaksi ini satu glukosa
terpakai dan memerlukan dua ATP.
Selanjutnya glikolisis berjalan dengan
oksidasi gliseraldehid 3-fosfat (gliseraldehida 3-P) menjadi
1,3-bisfosfogliserat. Karena adanya enzim fosfotriosa isomerase, dihidroksi
asetonfosfat juga dioksidasi.Enzim yang bertanggung jawab pada reaksi ini
adalah gliseraldehida 3-P dehidrogenase yang mana aktifitasnya tergantung
adanya NAD+. Enzim ini
terdiri dari empat polipeptida yang identik membentuk tetramer. Empat gugusan
-SH terdapat pada tiap polipeptida, mungkin berasal dari residu sistein
(cysteine). Satu gugusan -SH terdapat
pada "active site". Reaksinya berjalan sebagai berikut ( gambar-3 ):
Mula-mula substrat berikatan dengan
"cysteinyl moiety" pada dehidrogenase membentuk suatu tiohemiasetal,
yang kemudian dioksidasi menjadi tiol-ester. Atom hidrogen yang terlepas
dipindah pada NAD+ yang terikat pada enzim. NADH yang terbentuk,akan
terikat pada enzim juga tapi tidak sekuat NAD+, sehingga NADH ini mudah diganti oleh NAD+
yang lain.
Energi yang terjadi pada oksidasi ini
terwujud dalam ikatan sulfat energi tinggi, yang kemudian dengan fosforolisis
menjadi ikatan fosfat energi tinggi pada posisi satu dari
1,3-bisfosfo-gliserat.Pada fosforolisis diatas, Pi ditambahkan dan enzim bebas
serta gugus -SH bebas terbentuk. Fosfat berenergi tinggi ini ditangkap menjadi
ATP pada reaksi dengan ADP yang dikatalisis enzim fosfogliserat kinase. Reaksi
ini menghasilkan 3-fosfogliserat.
Jadi oksidasi fosfogliseraldehid menjadi
fosfogliserat, dimana terlepas suatu energi, energi ini dipakai oleh reaksi
pengambilan fosfat inorganik dan sintesis ATP; rangkaian reaksi-reaksi ini
merupakan suatu "coupled
reaction".
Karena ada dua molekul triosafosfat yang
dioksidasi, maka akan terbentuk dua molekul ATP. Pada reaksi ini NAD+
tereduksi menjadi NADH. Reaksi tersebut diatas adalah suatu contoh dari
fosforilasi pada tingkat substrat.
Apabila
ada asam arsenat, maka zat ini akan
berkompetisi dengan Pi yang akan menghasilkan arseno-3-fosfogliserat, yang akan
terhidrolisis spontan menghasilkan 3-fosfogliserat tanpa menghasilkan ATP. Ini
suatu contoh arsenat dapat "uncoupled" oksidasi dan fosforilasi.
Selanjutnya 3-fosfogliserat diubah menjadi
2-fosfogliserat oleh enzim fosfogliserat
mutase.
Reaksi berikutnya dikatalisis oleh enzim enolase; pada reaksi ini terjadi
perubahan struktur molekul hingga terbentuk ikatan fosfat bertenaga tinggi pada
posisi 2, yaitu fosfoenolpiruvat.
Enolase dihambat oleh fluorida ( F ). Dalam praktek fluorida ditambahkan ke dalam larutan
pada penentuan glukosa,juga kedalam pasta gigi. Kerja enzim ini tergantung
adanya Mn++ atau Mg++. Reaksinya sebagai berikut:
2-fosfogliserat « Fosfoenolpiruvat + H2O.
Fosfat bertenaga tinggi dari
fosfoenolpiruvat dipindah ke ADP menjadi ATP, yang dikatalisis enzim piruvat kinase.
Reaksinya:
ADP ATP
Fosfoenolpiruvat ßà
Enolpiruvat
Piruvat kinase
Enzim piruvat kinase hepar berbeda
sifatnya dengan enzim piruvat kinase otot. Pada otot konsentrasi ATP yang
tinggi akan menghambat enzim ini. Pada hepar enzim ini dapat dihambat oleh ATP
dan alanin, tapi adanya fruktosa 1,6-difosfat dengan konsentrasi tinggi, akan
dapat menghilangkan hambatan ini. Dalam hepar enzim ini dihambat juga oleh asam
lemak rantai panjang dan asetil-KoA.
Dalam hepar glukagon menghambat glikolisis dan merangsang glukoneogenesis
dengan meningkatkan konsentrasi cAMP. Senyawa ini kemudian mengaktivasi
"cAMP dependent protein kinase". Protein kinase yang aktif ini akan
mengkatalisis fosforilasi enzim piruvat kinase
menjadi piruvat kinase-P. Enzim piruvat kinase-P me-rupakan bentuk tidak
aktif. Dengan demikian glukagon menghambat glikolisis.
Sampai dengan reaksi ini hasil netto dari
perubahan glukosa menjadi dua asam piruvat adalah dua ATP, yaitu pada awal
jalur ini dibutuhkan dua ATP dan kemudian menghasilkan empat ATP.
Pada keadaan anaerobik reoksidasi NADH
melalui rantai respirasi tidak berjalan. Asam piruvat akan dirubah menjadi asam
laktat, yang dikatalisis enzim laktat
dehidrogenase.
Reaksinya:
laktat dehidrogenase
Asam piruvat + NADH ßà L-laktat + NAD+
Dengan demikian reoksidasi NADH melalui
asam laktat memungkinkan glikolisis berlangsung tanpa oksigen, karena NAD+
yang terbentuk cukup untuk kebutuhan enzim gliseraldehid-3-fosfat
dehidrogenase. Jadi jaringan pada keadaan hipoksia ada tendensi untuk membentuk
asam laktat, terutama dalam otot bergaris. Asam laktat yang terbentuk akan
masuk ke peredaran darah dan bisa didapatkan dalam urine.
4.2.SEL
DARAH MERAH
Glikolisis dalam eritrosit sekalipun dalam
keadaan aerobik akan menghasilkan asam laktat, karena enzim-enzim yang
dapat mengoksidasi asam piruvat secara
aerobik tidak ada dalam sel da-rah merah.
Dalam eritrosit golongan mammalia tahapan
yang dikatalisis fosfogliserat kinase di
" by passed " dengan adanya enzim bisfosfogliserat
mutase dan enzim 2,3-bisfosfogliserat
fosfatase (gambar-4). Akibat adanya dua enzim ini ATP tidak terbentuk dan
ini memungkinkan glikolisis berlangsung apabila kebutuhan ATP minimum.
2,3-bisfosfogliserat bergabung dengan hemoglobin sehingga menyebabkan affinitas
hemoglobin terhadap oksigen menurun. Kurve dissosiasi oksigen hemoglobin
bergerak ke kanan. Dengan demikian adanya 2,3-bisfosfogliserat dalam sel darah
merah membantu pelepasan oksigen untuk keperluan jaringan.
Reaksinya :
Enzim 1
1,3-bisfosfogliserat ® 2,3-bisfosfogliserat
Enzim 2
¯
3-fosfogliserat.
Enzim
1 : bisfosfogliserat mutase
Enzim
2: 2,3-bisfosfogliserat fosfatase
Dalam glikolisis ada tiga reaksi boleh
dikatakan secara fisiologis satu arah, yaitu reaksi yang dikatalisis
enzim-enzim :
1. heksokinase ( dan glukokinase )
2. fosfofruktokinase
3. piruvat kinase
Latihan
/ cek list .
1.Apa
fungsi glikolisis
2.Tulisllah
rangkaian reaksi glikolisis
3.Terangkan
:
3.1.cara
kerja enzim-enzim berikut :
heksokinase/glukokinase
fosfofruktokinase 1 (Phospho Fructo
Kinase 1 = PFK-1)
PFK-2
Piruvat kinase
3.2.apa
saja yang mempengaruhi kerjanya ( menghambat atau meningkatkan )
4.Mengapa
anaerobik dan aerobik berbeda 6 ATP?
5.Terangkan
peran Fruktosa 2,6 BP
6.Terangkan
glikolisis dalam sel darah merah.
7.Terangkan
pengaruh hormon glukagon terhadap PFK-2 dan enzim piruvat kinase
Catatan
:
5.OKSIDASI ASAM
PIRUVAT MENJADI ASETIL-KoA
Asam piruvat dapat masuk ke dalam
mitokhondria dengan pertolongan suatu transporter. Asam piruvat mengalami
oksodasi-dekarboksilasi oleh suatu enzim yang tersusun rapi dalam matriks
mitokhondria. Enzim-enzim ini disebut piruvat dehidrogenase kompleks
(
gambar 5 dan 6 ).
Mula-mula asam piruvat mengalami
dekarboksilasi. Reaksi ini dikatalisis enzim piruvat dehidrogenase. Tiamin
pirofosfat bertindak sebagai ko-enzim. Dalam reaksi ini terbentuk CO2 dan a-hidroksietil-tiaminpirofosfat
atau disebut juga "aktif asetaldehid". Senyawa yang disebut
belakangan ini dipindah ke prostetik lipoamide, yang merupakan bagian dari enzim transasetilase. Dalam perpindahan
ini disulfida dari lipoamide tereduksi, asetildehida teroksidasi menjadi asetil
aktif yang terikat sebagai tioester. Gugusan asetil ini kemudian bereaksi
dengan koenzim-A, membentuk asetil-S-KoA, dan menghasilkan lipoamide dalam
bentuk disulfhidril(tereduksi). Koenzim yang tereduksi ini dioksidasi kembali
oleh suatu flavoprotein, dihidrolipoil dehidrogenase. Flavoprotein yang
tereduksi kemudian dioksidasi oleh NAD+. Ringkasnya, reaksinya adalah
sebagai berikut:
CH3COCOOH + HSCoA + NAD+ ® CH3CO-SCoA + NADH + H+
Piruvat dehidrogenase diaktifasi oleh
fruktosa difosfat, dan dihambat oleh hasil reaksinya yaitu NADH dan asetilKoA.
Enzim ini juga dihambat oleh aktivitas oksidasi asam lemak, yang mana akan
meningkatkan rasio Asetil-KoA / KoA, NADH / NAD+ dan ATP / ADP.
Peningkatan rasio diatas akan mengaktivasi piruvat dehidrogenase (PDH) kinase
yang akan mengkatalisis fosforilasi enzim PDH a menjadi PDH b yang tidak aktif.
PDH fosfatase akan menghidrolisis PDH b menjadi PDH a yang aktif. PDH fosfatase
diaktivasi oleh insulin. Arsenit atau ion merkuri membentuk komplek dengan gugusan
-SH dari asam lipoat dan menghambat piruvat dehidrogenase. Kekurangan tiamin
akan menyebabkan asam piruvat tertimbun.
Pertanyaan
/ cek lis
1.Berapa
ATP dihasilkan dalam reaksi asam piruvat menjadi asam laktat ?
2.Terangkan apa saja dan apa akibatnya yang dapat
mempengaruhi kerja enzim piruvat dehidrogenase.
Catatan :
6. G L I K O G E
N.
6.1.G
L I K O G E N E S I S .
Glikogen dalam sel binatang fungsinya mirip dengan
amilum dalam tumbuhan yaitu sebagai cadangan energi.
Pembentukan glikogen
(glikogenesis) terjadi hampir dalam
semua jaringan, tapi yang paling banyak adalah dalam hepar dan dalam
otot. Setelah seseorang diberi diet tinggi karbohidrat (hidrat arang), kemudian
heparnya dianalisis , maka akan didapatkan kurang lebih 6% berat basah terdiri
dari glikogen. Namun 12 sampai 18 jam kemudian, hampir semua glikogen habis
terpakai. Dalam otot kandungan glikogen jarang melebihi satu persen, tapi untuk
menghabiskan glikogen tersebut agak sulit, yaitu misalnya dengan olah raga
berat dan lama.
Sintesis glikogen dimulai dengan perobahan glukosa 6-fosfat menjadi
glukosa 1-fosfat yang dikatalisis enzim fosfoglukomutase (glukosa 1,6-bisfosfat
bertindak sebagai koenzim) (gambar-7 ).
Selanjutnya enzim uridin difosfat glukosa pirofosforilase (UDPG
pirofosforilase) meng-katalisis pembentukan uridin difosfat glukosa
(UDP-glukosa) ( gambar-8 ).
UTP + Glukosa 1-fosfat ® UDP-glukosa + Ppi
Reaksi ini
boleh dikatakan reaksi sea-rah,karena hidrolisis senyawa inorganik pirofosfat
menjadi inorganik fosfat, yang dikatalisis enzim inorganik pirofosfatase menarik reaksi kekanan. Enzim glikogen sintetase (glikogen sintase)
memindahkan glukosil aktif dari UDP-glukosa (UDPG) pada bagian dari ujung
glikogen yang tidak dapat direduksi, membentuk ikatan a-1-4 glukosidik. Pembentukan ikatan
tersebut terjadi ber-ulang2, sehingga cabangnya makin panjang. Apabila panjang
cabang tersebut mencapai antara 6 sampai 11, maka enzim amilo-1,4-1,6
transglukosidase ("branching
enzim") memindahkan sebagian dari residu ikatan a-1,4
(minimum 6 residu), pada rantai didekatnya membentuk ikatan a-1,6.
Jadi terjadi titik percabangan baru. Kemudian kedua cabang tersebut bertambah
panjang. Dan seterusnya kejadian berulang kembali ( gambar-9 ).
Uridin difosfat yang dibebaskan ketika unit glukosil
dari UDPG dipindah kebagian tertentu dari glikogen, disintesis kembali menjadi
UTP dengan memakai ATP. Total kebutuhan ATP untuk menyimpan satu molekul
glukosa menjadi satu molekul glikogen adalah dua molekul, dua ADP dan dua
inorganik fosfat terbentuk.
Berat molekul glikogen mencapai satu
sampai empat juta lebih.
6.2.GLIKOGENOLISIS
Pemecahan glikogen dalam hepar
dan otot berbeda dengan enzim yang terdapat dalam pencernaan. Enzim glikogen
fosforilase akan
melepaskan unit glukosa dari rantai cabang glikogen
yang tidak bisa direduksi. Reaksinya bisa digambarkan sebagai berikut:
(Glukosa)n + H3PO4 ® Glukosa 1-fosfat + (Glukosa)n-1
Enzim ini hanya memecah ikatan a-1-4
glikosidik, dan berhenti pada empat residu dari titik cabang. Enzim amilo (a
1,4)-(a
1,4) glukan transferase, memindah tiga unit glukosa yang terikat pada rantai
cabang (yang tinggal empat) pada rantai yang lain membentuk “rantai” lurus.
Selanjutnya enzim glikogen fosforilase.akan memecah ikatan a-1,4
sampai 4 unit glukosa dari titik cabang, demikian seterusnya.
Debranching enzim (amilo 1,6-glukosidase) memecah ikatan glukosidik
1,6 dan menghasilkan glukosa ( gambar-13 ). Dalam otot glukosa yang dihasilkan
tidak cukup banyak untuk dieksport keluar sel, kemungkinan dipakai oleh sel
otot itu sendiri.
Glukosa 1-fosfat yang terlepas diubah menjadi glukosa 6-fosfat oleh
enzim fosfoglukomutase. Senyawa ini
bisa masuk jalur glikolisis atau jalur lainnya. Di hepar, ginjal dan epitel
usus halus glukosa 6-fosfatase yang
spesifik memecah ikatan ester dan
melepaskan glukosa ke peredaran darah. Enzim ini tidak didapatkan dalam otot.
6.3.GLIKOGENESIS
DAN GLIKOGENOLISIS,
MEKANISME DAN KONTROL
Pada prinsipnya enzim yang mengatur
metabolisme glikogen adalah glikogen fosforilase
dan glikogen sintase, enzim-enzim ini
sendiri dibawah pengaruh suatu kontrol yang komplek yaitu suatu mekanisme yang
melibatkan peristiwa allosterik dan modifikasi ikatan kovalen pada senyawa
fosfat dari enzim.
6.3.1.
Aktifasi dan inaktifasi fosforilase.
Dalam hepar, enzim fosforilase ada dalam keadaan
aktif maupun tidak aktif. Pada fosforilase yang aktif (fosforilase a), gugusan
hidroksil dari serin mengalami fosforilasi (dalam ikatan ester). Fosforilase a
( yang aktif ) bisa menjadi tidak aktif dengan hilangnya fosfat yang terikat
pada senyawa serin tersebut. Reaksi ini dikatalisis enzim fosfatase spesifik dengan nama protein fosfatase-1. Untuk mengaktifkan enzim fosforilase kembali
diperlukan refosforilasi, yang dapat dikatalisis enzim fosforilase kinase dengan adanya ATP. Fosforilase otot, berbeda secara immunologik dan genetik bila
dibandingkan dengan fosforilase hepar. Dalam otot fosforilase a merupakan bentuk fosforilase aktif ( dimer ),
mengalami fosforilasi. Enzim ini aktif dan tidak tergantung ada atau tidak
adanya AMP. Tiap monomer mengandung satu piridoksal fosfat.
Fosforilase b, yang mengalami
defosforilasi hanya aktif apabila ada AMP. Dalam keadaan fisiologis fosforilase
a merupakan bentuk aktif enzim enzim ini.
Aktifasi melalui cAMP
Fosforilase dalam otot dapat
diaktifasi oleh epinefrin secara tidak langsung. Aktifasi ini melalui cAMP. cAMP merupakan
suatu senyawa intra selluler, senyawa ini merupakan suatu senyawa antara
("intermediate compound"). Senyawa ini disebut juga "second messenger".
Banyak hormon yang bekerja dengan perantaraan senyawa ini. cAMP dibentuk
dari ATP oleh enzim adenelil siklase
sebelumnya dikenal dengan nama adenilat siklase (adenylate cyclase), yang
terdapat pada permukaan dalam membran sel. Adenelil siklase dapat diaktifasi
oleh hormon-hormon seperti: epinefrin dan norepinefrin yang bekerja melalui
reseptor adrenergik beta. Reseptor ini terletak pada sel membran (gambar-11).
Pada hepar glukagon bekerja melalui reseptor yang
lain yaitu reseptor glukagon. cAMP
dirusak enzim fosfodiesterase; dengan adanya
enzim ini kadar cAMP
diatur dalam kadar yang
rendah. Insulin dapat meningkatkan
aktifitas enzim fosfodiesterase dalam hepar, dengan demikian menyebabkan kadar cAMP rendah.
Meningkatnya cAMP menyebabkan
meningkatnya aktifitas enzim protein kinase "cAMP-dependent", yang
mempunyai spesifisitas luas.
Protein kinase ini mengkatalisis fosforilasi oleh
ATP, enzim fosforilase kinase b (tidak aktif) menjadi fosforilase kinase a
(aktif), yang selanjutnya juga dengan proses fosforilasi fosforilase kinase a
yang aktif mengkatalisis perubahan fosforilase b menjadi fosforilase a (lihat
gambar 11).
6.3.2.Glikogenolisis
dalam hepar.
Penelitian menunjukkan bahwa
selain pengaruh aktivitas glukagon melalui reseptornya, glikogenolisis dalam hepar juga dirangsang
oleh katekolamin (adrenalin) melalui proses yang melibatkan mobilisasi Ca++
dan tidak tergantung pada cAMP (cAMP-independent mobilization of Ca++)
dari mitokhondria ke sitosol. Selanjutnya terjadi rangsangan fosforilase kinase
yang sensitif terhadap Ca++/Calmodulin.
Glukagon
tidak mempengaruhi fosforilase otot bergaris, akan tetapi jantung dapat dipe-ngaruhinya.
Inaktivasi fosforilase.
Fosforilase a dan fosforilase
kinase a dapat dibuat tidak aktif oleh protein phosphatse-1 dengan jalan
melepaskan gugusan fosfatnya (dephosphorylated). Protein phosphatase-1 sendiri
dapat dihambat oleh suatu protein yang disebut inhibitor-1. Inhibitor-1 hanya
aktif apabila sudah mengalami fosforilasi oleh cAMP-dependent protein kinase
menjadi inhibitor-1-P. Dengan demikian cAMP dapat
mengontrol aktivasi maupun inaktivasi dari phosphorilase (gambar-12).
Latihan
/ cek list
1.Tulislah
rangkaian reaksi glikogenesis (glukosa à glikogen)!
2.Tulislah
angkaian reaksi glikogenolisis (glikogen à glukose + glukosa 1-P)
3.Terangkan
peran enzim-enzim :
3.1.adenilil
siklase
3.2.protein
kinase cAMP dependent
3.3.fosforilase
kinase
3.4.fosforilse
3.5.protein
fosfatase
3.6.inhibitor
1
3.7.glikogen
sintase
3.8.branching
enzyme
3.9.debrancing
enzyme
3.10.glukosa
6 P-ase
4.Terangkan
pengaruh hormon-hormon :
4.1.epinefrin
/ glukagon
4.2.insulin
terhadap glikogenesis dan glikogenolisis.
7.GLUKONEOGENESIS
7.1.Glukoneogenesis adalah suatu pembentukan glukosa
dari senyawa yang bukan karbohidrat. Glukoneogenesis penting sekali untuk
menyediakan glukosa, apabila didalam diet tidak mengandung cukup karbohidrat.
Syaraf, medulla dari ginjal, testes, jaringan embriyo dan eritrosit memerlukan
glukosa sebagai sumber utama penghasil energi. Glukosa diperlukan oleh jaringan
adiposa untuk menjaga senyawa antara siklus asam sitrat. Didalam mammae,
glukosa diperlukan untuk membuat laktosa. Didalam otot, glukosa merupakan
satu-satunya bahan untuk membentuk energi dalam keadaan anaerobik.
Untuk membersihkan darah dari asam laktat yang
selalu dibuat oleh sel darah merah dan otot, dan juga gliserol yang dilepas jaringan
lemak, diperlukan suatu proses atau jalur yang bisa memanfaatkannya.
Pada hewan
memamah biak, asam propionat merupakan bahan utama untuk glukoneogenesis.
Perhatikan
gambar-14 !
Jalur yang dipakai dalam glukoneogenesis adalah modifikasi dan adaptasi
dari jalur Embden-Meyerhof dan siklus asam sitrat.
Enzim tambahan yang diperlukan
dalam proses ini selain dari enzim-enzim dalam kedua jalur diatas adalah :
7.1.1Piruvat karboksilase.
7.1.2.Fosfoenolpiruvat karboksikinase.
7.1.3.Fruktosa 1,6-bisfosfatase (tidak ada
dalam otot jantung dan otot polos).
7.1.4.Glukosa 6-fosfatase.
Dalam keadaan puasa, enzim
piruvat karboksilase dan enzim fosfoenolpiruvat karboksikinase sintesisnya
meningkat. Sintesis enzim ini juga dipengaruhi oleh hormon glukokortikoid.
Dalam keadaan puasa, oksidasi asam lemak dalam hepar meningkat. Ini membawa
akibat yang menguntungkan untuk glukoneogenesis karena akan menghasilkan ATP,
NADH dan oksaloasetat.
Asam lemak dan asetil-KoA akan menghambat
enzim-enzim fosfofruktokinase, piruvat kinase dan piruvat dehidrogenase,
mengaktifkan enzim-enzim piruvat karboksilase dan fruktosa 1,6-bisfosfatase.
7.2.Substrat
untuk glukoneogenesis adalah :
7.2.1.asam laktat yang berasal dari
otot, sel darah merah, medulla dari glandula supra-renalis, retina dan sumsum
tulang.
7.2.2.gliserol, yang berasal dari
jaringan lemak dan asam amino yang berasal dari protein.
7.2.3.asam propionat, yang
dihasilkan dalam proses pencernaan pada hewan memamah biak.
7.2.4.asam
amino glikogenik.
7.3.Perubahan
asam laktat menjadi glukosa
Untuk
mengubah asam laktat menjadi glukosa dapat dilihat pada diagram (gambar
14):
Asam laktat di dalam sitoplasma
diubah menjadi asam piruvat, kemudian asam piruvat masuk ke dalam mitokhondria
dan diubah menjadi oksaloasetat. Karena oksaloasetat tidak dapat melewati
membran mitokhondria, maka diubah dulu menjadi malat. Di sitoplasma malat
diubah kembali menjadi oksaloasetat. Oksaloasetat kemudian diubah menjadi
fosfoenolpiruvat yang selanjutnya berjalan ke arah kebalikan jalur
Embden-Meyerhof dan akhirnya akan menjadi glukosa.
Pada diagram dapat juga kita lihat reaksi-reaksi
yang diperlukan untuk mengubah gliserol dan asam-asam amino glukogenik menjadi
glukosa. Asam amino glukogenik masuk ke dalam jalur glukoneogenesis ditandai
dengan bundaran dan panah pada siklus asam tri karboksilat ( TCA cycle ).
Beberapa reaksi dan enzim-enzim
tambahan untuk mengubah asam laktat menjadi glukosa (selain jalur kebalikan
glikolisis dan TCA cycle) adalah :
Enzim piruvat karboksilase mengkatalisis
reaksi
7.3.1.Piruvat ® Oksaloasetat (gambar 15-16).
Dalam reaksi ini diperlukan
ATP, CO2 (berasal dari H2CO3), biotin ( yang
diperlukan untuk mengikat bikarbonat pada enzim sebelum ditambahkan pada asam
piruvat ) dan ion Mg.
7.3.2.Enzim fosfoenolpiruvat
karboksikinase (ekstra mitokhondrial) mengkatalisis reaksi :
Oksaloasetat ® Fosfoenolpiruvat
Dalam reaksi ini diperlukan "high energy
phosphate" GTP atau ATP, dan akan terbentuk CO2.
7.3.3.Enzim
fruktosa 1,6-bisfosfatase akan mengkatalisis reaksi :
Fruktosa
1,6-bisfosfat ®
Fruktosa 6-fosfat
Enzim ini bisa didapatkan dalam hati, ginjal otot
bergaris, sedangkan jaringan lemak, otot jantung dan otot polos tidak
mengandung enzim fruktosa 1,6-bisfosfatase.
7.3.4.Enzim
glukosa 6-fosfatase mengkatalisis reaksi :
Glukosa
6-fosfat ®
Glukosa
Enzim ini terdapat dalam usus halus, hati, ginjal
dan platelet, akan tetapi tidak bisa dijumpai dalam otot dan jaringan lemak.
7.4.Enzim
gliserokinase mengkatalisis reaksi :
Gliserol
® Gliserol 3-fosfat
Dalam reaksi
ini diperlukan ATP dan menghasilkan ADP. Enzim ini terutama terdapat dalam hati dan ginjal.
Enzim gliserol 3-fosfat
dehidrogenase mengkatalisis reaksi :
Gliserol 3-fosfat ® Dihidroksi aseton fosfat ( DHAP )
7.5.Asam propionat perlu diaktivasi
dahulu menjadi propionil-KoA. Ensim tiokinase mengkatalisis reaksi ini dan
memerlukan ATP , KoA dan ion Mg. Selanjutnya propionil-KoA diubah menjadi
D-metilmalonil-KoA, selanjutnya setelah mengalami rasemisasi akan diubah menjadi
L-metilmalonil-KoA. Senyawa ini kemudian akan diubah menjadi suksinil-KoA yang
akan masuk ke dalam siklus asam sitrat yang akhirnya akan diubah menjadi glukosa
melalui kebalikan jalur Embden-Meyerhof ( gambar-17 ).
Pada burung dara, ayam dan marmut
fosfoenolpiruvat (PEP) kaboksikinase hepar terdapat dalam mitokhondria. PEP
yang terbentuk keluar dari mitokhondria.
PEP
karboksikinase pada tikus terdapat di sitoplasma. Malat keluar.
Pada
manusia, guinea pig dan sapi PEP karboksikinase terdapat di dalam dan di luar
mitokhondria.
Pertanyaan :
1.Tulislah definisi glukoneogenesis !
2.Tulislah
rangkaian reaksi glukoneogenesis dari asam laktat menjadi glukosa di dalam
tubuh
manusia !
3.Terangkan bagaimana enzim kunci rangkaian di atas
dipengaruhi oleh adanya aseil-KoA !
Tulislah
reaksi lengkapnya !
4.Tullislah
rangkaian reaksi pembentukan glukosa dari gliserol !
Catatan
:
8.HEXOSE
MONOPHOSPHATE SHUNT ( HMP Shunt ) = PENTOSE PHOSPHATE PATHWAY (PPP) OKSIDASI
GLUKOSA LANGSUNG = JALUR FOSFOGLUKONAT
8.1.Jalur ini aktif dalam hepar, jaringan adiposa
(lemak), adrenal korteks, glandula tiroid, sel darah merah,testes dan payudara
yang sedang menyusui. Dalam otot aktivitas jalur ini rendah sekali.
8.2.Fungsi utama jalur ini adalah
untuk menghasilkan NADPH, yaitu dengan mereduksi NADP+. NADPH diperlukan
untuk proses anabolik di luar mitokhondria, seperti sintesis asam lemak dan
steroid. Fungsi yang lain adalah menghasilkan ribosa-5-fosfat untuk sintesis
nukleotida dan asam nukleat.
8.3.Jalannya
reaksi sebagai berikut ( gambar 18-19 ):
a-D-glukosa
6-fosfat mengalami oksidasi menjadi 6-fosfoglukonolakton. Enzimnya adalah
glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PD). Reaksi ini memerlukan Mg++
atau Ca++ , memakai NADP+ dan menghasilkan NADPH. Insulin
meningkatkan sintesis enzim ini.
Selanjutnya 6-fosfoglukonolakton diubah menjadi
6-fosfoglukonat. Reaksi ini juga memer-lukan Mg++, Mn++ atau Ca++.
Enzimnya glukono-lakton hidrolase. Satu molekul air (H2O) terpakai, ikatan
cincin terlepas.
6-fosfoglukonat selanjutnya
mengalami dekarboksilasi dan berubah menjadi riboluse-5-fosfat. Sebelum
dekarboksilasi 6-fosfoglukonat dioksidasi menjadi semyawa antara 3-keto
6-fosfoglukonat. Ion Mg++, Mn++ atau Ca++
diperlukan. NADP+ bertindak sebagai hidrogen ekseptor menjadi NADPH.
Enzim yang mengkatalisis reaksi ini adalah 6-fosfoglukonat dehidrogenase.
Aktivitas enzim ini tergantung adanya NADP+. Seperti halnya enzim
G6PD enzim 6-fosfoglukonat dehidrogenase sintesisnya dirangsang oleh insulin.
Selanjutnya
Ribulosa 5-fosfat dapat menjadi dua substrat dari dua enzim yaitu:
1. Ribulosa 5-fosfat epimerase, yang membentuk suatu
epimer pada karbon ketiga, yaitu xylulose 5-fosfat (xylulose 5-phosphate).
2. Ribosa 5-fosfat ketoisomerase, yang
merubah ribulosa 5-fosfat menjadi ribosa 5-fosfat.
Proses selanjutnya akan
melibatkan suatu enzim transketolase, yang dapat memindah dua unit karbon ( C1
dan C2 ) dari
suatu ketosa pada aldehida dari aldosa. Dalam reaksi ini diperlukan
suatu koenzim, tiamin difosfat dan ion Mg++. Dua karbon dari
xylulose 5-fosfat dipindah pada ribosa 5-fosfat, menghasilkan suatu ketosa
dengan tujuh karbon yaitu sedoheptulosa 7-fosfat dan aldosa dengan tiga karbon
gliseraldehida 3-fosfat.
Sedoheptulosa 7-fosfat dan
gliseraldehida 3-fosfat akan bereaksi dengan bantuan enzim transaldolase dan
membentuk fruktosa 6-fosfat dan eritrosa 4-fosfat.Dalam reaksi ini, transaldolase
memindah tiga karbon "active dihydroxy acetone" (C1-C3) dari keto
dengan tujuh karbon pada aldosa dengan tiga karbon.
Reaksi selanjutnya kembali melibatkan enzim transketolase, dimana
xylulose 5-fosfat menjadi donor "active glycoaldehyde" (C1-C2).
Eritrosa 4-fosfat yang terbentuk dari reaksi sebelumnya, akan bertindak sebagai
akseptor (penerima) C1-C2. Reaksi ini memerlukan tiamin dan ion Mg++
sebagai ko-enzim dan menghasilkan fruktosa 6-fosfat dan gliseraldehida
3-fosfat.
Agar
glukosa dapat dioksidasi secara sempurna menjadi CO2, diperlukan
enzim yang dapat mengubah gliseraldehide 3-fosfat menjadi glukosa 6-fosfat.
Untuk ini diperlukan enzim Embden-Meyerhof (glikolisis) yang bekerja kearah
yang berlawanan. Selain itu, juga diperlukan enzim fruktosa 1,6-difosfatase.
Enzim ini mengubah fruktosa 1,6-difosfat menjadi fruktosa 6-fosfat.
Secara keseluruhan proses ini dapat dianggap suatu oksidasi tiga molekul
glukosa 6-fosfat menjadi tiga molekul CO2 dan tiga molekul pentosa
fosfat. Tiga molekul pentosa fosfat diubah menjadi dua molekul glukosa fosfat
dan satu molekul gliseraldehida 3-fosfat. Karena dua molekul gliseraldehide
3-fosfat dapat diubah menjadi satu molekul glukosa 6-fosfat melalui jalur
kebalikan glikolisis, maka HMP Shunt dapat dikatakan suatu oksidasi glukosa
yang komplit (sempurna) ( gambar-20 ).
Enzim 6-fosfoglukonat
dehidrogenase mengontrol HMP Shunt. Enzim ini dapat dihambat oleh NADPH. Reaksi
yang dikatalisis enzim ini tidak akan berjalan apabila NADPH tidak dipakai atau
dengan kata lain konsentrasinya tidak menurun. Perlu diingat bahwa produksi
ribosa 5-fosfat tidak tergantung pada oksidasi glukosa, tapi dapat melewati
kebalikan jalur glikolisis.
NADPH yang terbentuk berguna dalam sintesis asam lemak, steroid dan
sintesis asam amino. Sintesis asam amino melalui glutamat dehidrogenase. Adanya
lipogenesis yang aktif ,maka NADPH diperlukan, hal ini mungkin akan merangsang
oksidasi glukosa lewat HMP Shunt. "Fed state", suatu keadaan dimana
seseorang baru saja makan, mungkin dapat menginduksi sintesis enzim-enzim
glukosa 6-fosfat dehidro-genase dan 6-fosfoglukonat dehidrogenase.
8.4.HMP Shunt dalam eritrosit
berguna sebagai penghasil suatu reduktor (NADPH). NADPH dapat mereduksi
glutation yang telah mengalami oksidasi ( G-S-S-G ) menjadi glutation yang
tereduksi (2 G-SH). Enzim yang mengkatalisis reaksi ini adalah glutation
reduktase. Selanjutnya glutation yang tereduksi dapat membebaskan eritrosit
dari H2O2 dengan suatu reaksi yang dikatalisis oleh enzim
glutation peroksidase.
2 G-SH
+ H2O2 ® G-S-S-G
+ 2 H2O
Reaksi ini penting sebab penimbunan H2O2
memperpendek umur eritrosit. Telah dibuktikan adanya korelasi terbalik antara
aktivitas enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase dengan fragilitas sel darah
merah. Pada beberapa orang yang mengalami mutasi dimana enzim ini berkurang,
maka mereka akan lebih mudah mengalami hemolisis sel darah merah apabila diberi
suatu oksidan seperti primaquin, aspirin, sulfonamid atau apabila diberi makan
"fava bean".
HMP Shunt akan menghasilkan suatu pentosa untuk
sintesis nukleotida dan asam nukleat. Ribosa 5-fosfat akan bereaksi dengan ATP
menjadi 5-fosforibosil-1-pirofosfat (PRPP).
Dalam otot enzim glukosa 6-fosfat dehidro-genase dan 6-fosfoglukonat
dehidrogenase hanya sedikit sekali, namun otot dapat membuat ribosa 5-fosfat,
yaitu dengan kebalikan HMP Shunt.
Latihan
/ cek list
1.Tulislah
rangkaian reaksi pembentukan Ribosa 5 fosfat dari glukosa !
2.Terangkan
cara kerja enzim-enzim :
2.1.”Glukosa
6 Phosphate Dehydrogenase (G6PD)”
2.2.6P
glukonat Dehidrogenase. Apa yang mempengaruhi kerja enzim ini ?
2.3.Transketolase
2.4.Trans
Aldolase
3.Tulislah
rangkaian reaksi pembentukan Ribose 5 P dari glukosa di dalam otot !
Catatan
:
9.METABOLISME FRUKTOSA DAN SORBITOL
9.1.Fruktosa dapat difosforilasi menjadi fruktosa
6-fosfat oleh enzim heksokinase. Enzim ini juga dapat memakai glukosa dan
mannosa sebagai substrat, tapi afinitas untuk fruktosa sangat kecil bila
dibandingkan dengan glukosa.
Fruktokinase yang terdapat dalam
hati, ginjal dan usus halus, dapat mengkatalisis fruktosa dengan ATP menjadi
fruktosa 1-fosfat. Harga Km untuk reaksi ini kecil sekali dan aktivitas enzim
ini tidak dipengaruhi oleh puasa ataupun insulin. Sangat mungkin sekali bahwa
fosforilasi dengan enzim ini merupakan reaksi fosforilasi yang utama dari
fruktosa. Kekurangan enzim fruktokinase dalam hepar akan menyebabkan suatu kelainan yang disebut
"essential fruktosuria" ( gambar-22 ).
Karena aktivitas enzim fruktokinase tidak
dipengaruhi insulin maka pada penderita Diabetes Mellitus, fruktosa
dapat dihilangkan dari darah dengan kecepatan yang sama dibandingkan dengan
orang normal.
Fruktokinase
tidak dapat memakai glukosa sebagai substrat.
Selanjutnya fruktosa 1-fosfat dipecah menjadi
D-gliseral dehid dan dihidroksi aseton fosfat. Reaksi ini dilatalisis enzim
aldolase B, yang terdapat dalam hati. Enzim ini juga bisa memakai fruktosa 1,6-bisfosfat
sebagai substratnya.Apabila enzim
aldolase B tidak ada maka akan menyebabkan suatu penyakit menurun yang disebut
"hereditary fructosa intolerance".
D-gliseraldehid dapat masuk ke
dalam glikolisis melalui suatu reaksi
yang dikatalisis oleh enzim yang terdapat dalam hepar yaitu triokinase. Enzim
ini mengkatalisis fosforilasi D-gliseraldehid menjadi D-gliseraldehid 3-fosfat.
Dihidroksi aseton fosfat dan gliseraldehi 3-fosfat (triosa fosfat) mungkin
mengalami degradasi melalui jalur glikolisis atau diubah menjadi glukosa. Dalam
hepar kedua triosa fosfat tersebut akan banyak yang diubah menjadi glukosa.
Salah satu akibat dari "hereditary
fructose intolerance" dan keadaan lain yang disebabkan karena kekurangan enzim
fruktrosa 1,6-bisfofatase adalah hipoglisemi akibat induksi fruktosa, biarpun
dalam hepar kadar glikogen tinggi. Ini disebabkan karena akumulasi fruktosa
1-fosfat dan fruktosa 1,6-bisfosfat akan menghambat aktivitas enzim fosforilase
dalam hepar melalui mekanisme allosterik.
Apabila
hepar dan usus
dari suatu binatang percobaan dibuang, maka injeksi fruktosa (pemberian
fruktosa secara parenteral) tidak akan bisa diubah menjadi glukosa, dan binatang
tersebut akan mati, kecuali apabila diberi glukosa. Pada manusia telah dilaporkan
bahwa ginjal dapat mengubah fruktosa menjadi glukosa dan asam laktat. Pada
manusia, dalam usus banyak sekali fruktosa diubah menjadi glukosa sebelum
diserap melalui vena porta, hal ini tidak terjadi pada tikus.
Fruktosa akan lebih cepat mengalami glikolisis bila
dibandingkan dengan glukosa, karena fruktosa tidak melewati jalur reaksi yang
dikatalisis enzim fosfofruktokinase.
Enzim ini mengontrol kecepatan reaksi katabolisme glukosa. Ini menyebabkan
fruktosa akan membanjiri hepar dengan akibat meningkatnya sintesis asam lemak,
esterifikasi asam lemak dan sekresi Very Low Density Lipoprotein (VLDL), yang
mungkin bisa meningkatkan kadar triasil gliserol.
Fruktosa bisa didapatkan dalam
"seminal plasma" dan disekresi ke dalam fetal sirkulasi pada ikan
paus . Pada binatang ini sukrosa tertimbun dalam cairan amnion dan
"allantoic fluid".
9.2.METABOLISME SORBITOL
Sorbitol dan fruktosa didapatkan
dalam lensa. Pada penderita Diabetes Mellitus kadar sorbitol dan fruktosa dalam
lensa meningkat, mungkin senyawa tersebut terlibat dalam pembentukan katarak.
Inhibitor aldose reduktase dapat mencegah timbulnya katarak pada diabetes
mellitus.
Glukosa dapat
diubah menjadi fruktosa melalui jalur sorbitol (gambar-22). Dalam hepar jalur
ini tidak ada. Pembentukan fruktosa meningkat dengan meningkatnya kadar
glukosa, seperti dalam Diabetes Mellitus.
Aldosa reduktase mengkatalisis reduksi glukosa
menjadi sorbitol. Dalam reaksi ini NADPH diperlukan sebagai reduktor, yang
berubah menjadi NADP+. Selanjutnya sorbitol dioksidasi menjadi
fruktosa dalam suatu reaksi yang dikatalisis enzim sorbitol dehidrogenase.
Reaksi ini memerlukan NAD+. Sorbitol tidak dapat secara bebas
berdifusi keluar sel, oleh karena itu dapat tertimbun dalam sel. Dalam hepar
adanya sorbitol dehidrogenase menyebabkan sorbitol diubah menjadi fruktosa.
Apabila sorbitol diberikan intravena maka senyawa ini akan diubah menjadi fruktosa,
bukan menjadi glukosa (sorbitol dehidrogenase mengkatalisis reaksi dua arah).
Apabila sorbitol diberikan per-oral sedikit sekali yang diserap, dan akan
mengalami fermentasi oleh bakteri usus besar (kolon) dan menghasilkan asetat
dan H2. Pada keadaan "sorbitol intolerance" kram perut
mungkin disebabkan oleh makanan yang dikatakan pemanis "sugar-free"
yang mengandung sorbitol.
Latihan
/ ceklist :
1.Mengapa
metabolisme fruktosa lebih cepat bila dibandingkan metabolisme glukosa dalam
hepar ?
2.Mengapa
pada penderita diabetes mellitus mudah terjadi katarak ?
3.Apa yang terjadi apabila sseseorang mengkonsumsi
soritol terlalu banyak ? Mengapa ?
Catatan :
10.METABOLISME GALAKTOSA
Galaktosa yang diserap usus, dengan mudah
diubah menjadi glukosa dalam hepar. "Galactose tolerance test" adalah
suatu pemeriksaan untuk mengetahui fungsi hepar, namun sekarang sudah jarang
dipakai.
Jalur yang dipakai untuk mengubah
galaktosa menjadi glukosa adalah sebagai berikut ( gambar-23 ):
Galaktokinase
mengkatalisis reaksi (1) dan dalam reaksi ini diperlukan ATP sebagai donor fosfat.
Galaktosa 1-fosfat yang terbentuk akan bereaksi dengan uridin difosfat glukosa
(UDPG) dan menghasilkan uridin difosfat galaktosa dan glukosa 1-fosfat. Reaksi
ini dikatalisis enzim galaktosa 1-fosfat uridil transferase, galaktosa menggantikan
tempat glukosa.
Suatu epimerase mengubah galaktosa menjadi
glukosa (reaksi 3). Reaksi ini terjadi pada suatu nukleotida yang mengandung
galaktosa, peristiwa oksidasi-reduksi berlangsung dan memerlukan NAD+
sebagai ko-enzim. UDP-glukosa yang dihasilkan, dibebaskan dalam bentuk glukosa
1-fosfat (reaksi 4). Mungkin sebelum dibebaskan digabung dulu dengan molekul
glikogen, baru kemudian dipecah enzim fosforilase.
Reaksi (3) adalah reaksi dua arah. Dari
diagram dapat dilihat bahwa glukosa bisa diubah menjadi galaktosa.
Dalam tubuh galaktosa diperlukan bukan
hanya untuk sintesis laktosa, tetapi juga untuk membuat serebrosida,
proteoglikan dan glikoprotein.
Sintesis laktosa dalam mamma terjadi
dengan jalan kondensasi UDP-galaktosa dengan glukosa dan dikatalisis enzim
laktosa sintetase.
Suatu penyakit yang dapat diturunkan
menyebabkan galaktosemia, mungkin terjadi akibat kekurangan enzim-enzim pada
reaksi (1), (2) dan (3). Akan tetapi yang paling banyak diketahui adalah akibat
kekurangan enzim uridil transferase (reaksi 2). Karena kadar galaktosa
meningkat, dalam lensa mata galaktosa bisa me-
ngalami reduksi menjadi galaktitol. Apabila kadar galaktitol ini
tertimbun dalam lesa mata maka akan mempercepat terjadinya katarak.
Kekurangan
enzim yang mengkatalisis
reaksi (2) membawa akibat yang paling buruk bila
dibandingkan dengan kekurangan enzim-enzim yang lain, karena galaktosa 1-fosfat
tertimbun sedangkan hepar kekurangan fosfat inorganik. Ini bisa menyebabkan
kegagalan fungsi hepar dan retardasi mental. Ekspresi klinik terjadi apabila
aktivitas uridil transferase berkurang lebih dari 50 %, dan ini hanya terjadi
pada homozygote.
Latihan
/ cek lis :
1.Tulislah
rangkaian reaksi pembentukan laktosa dari glukosa !
2.Mengapa
pada bayi yang mengalami intoleransi terhadap galaktosa muntah-muntah ?
3.Senyawa
apa yang menyebabkan katarak pada
gangguan metabolisme galaktosa ?
11.REGULASI
METABOLISME CARBOHYDRATE
11.1.Pengantar.
Agar kebutuhan tiap-tiap sel, tiap-tiap
organ bahkan kebutuhan seluruh tubuh terpenuhi, dalam ber-macam2 kondisi
nutrisi maupun dalam keadaan patologis, maka jalur metabolik harus ada di bawah
kontrol yang terkoordinasi.Istilah yang diberikan dalam regulasi metabolik ini
dinamakan "caloric homeostasis".
Homeostasis kalorik meliputi menjaga
kebutuhan "fuel" ataupun mengadakan "fuel" baru yang bisa
menggantikan "fuel" yang asli.Sebagai contoh, homeostasis kalorik ini
menjaga kebutuhan tubuh (terutama otak) akan glukosa; kadar glukosa dalam darah
dijaga agar "konstan".
11.2.Prinsip
regulasi.
11.2.1.Jalur yang dilewati proses
anabolik (sintesis) berbeda dengan jalur katabolik (degradasi). Kadang-kadang
kedua jalur tersebut memakai beberapa enzim yang sama.
11.2.2.Jalur anabolik dan jalur
katabolik masing-masing di bawah kontrol enzim regulatornya sendiri. Namun
kedua jalur itu ter- koordinasi dalam
suatu sistim, sehingga efek stimulasi yang terjadi pada anabolik pada waktu
yang sama mempunyai efek inhibisi pada jalur katabolik (ingat metabolisme
glikogen).
11.2.3.Energi yang diperlukan dalam
proses anabolik diperoleh dari reaksi pemecahan ATP, dan secara keseluruhan
merupakan reaksi satu arah dan "irriversible". Akibatnya biarpun kadar
substratnya kecil proses anabolik masih bisa terjadi.
11.3.Secara keseluruhan regulasi
suatu jalur metabolik dikontrol oleh satu atau mungkin dua reaksi kunci yang
dikatalisis oleh enzim regulasi.Faktor kimia-fisika penting dalam suatu kontrol
jalur metabolik, misalnya kecepatan reaksi dipengaruhi oleh kadar substrat,
lihat gambar dibawah ini ! (gambar-25).
Kontrol metabolik suatu reaksi
enzimatik.
Inaktif
E1
¯
Ca/calmodulin cAMP
¯
Aktif
E1
A + B ®
C + D
Pos.
allostik Neg.
allosterik
feed
forward feed back
aktifasi inhibisi
Enzim Ribosomal
sintesis
Produksi mRNA
oleh inti sel
Induksi Represi
Gambar-25
Pada gambar di atas tahapan
reaksi dimulai dengan masuknya senyawa A ke dalam sel melalui sel
membran.Disini sudah ada faktor-faktor yang mempengaruhi masuknya senyawa ke
dalam sel. Sebagai contoh : masuknya glukosa ke dalam sel pada semua sel
kecuali sel otak sel hepar dan sel darah merah dipengaruhi oleh insulin.
Insulin meningkatkan Vmax transport glukosa
ke dalam sel.
Reaksi enzimatik yang
non-equilibrium sering dipengaruhi oleh
"allosteric modifier". Pada gambar di atas reaksi B menjadi C
dipengaruhi oleh A sebagai positif allosterik dan
senyawa D sebagai negatif allostrik. Dalam reaksi ini juga digambarkan dalam
bentuk aktif dan inaktif . Untuk aktifasinya diperlukan cAMP ataupun
Ca/calmodulin. Sintesa E2 yang mengkatalisis reaksi B menjadi C pada tingkat
ribosom dipengaruhi oleh kecepatan translasi mRNA. Sedangkan produksi mRNA
dipengaruhi adanya induksi ataupun suatu represi.
11.4.Faktor-faktor
yang mempengaruhi metabo-lisme karbohidrat.
Pada tiap-tiap jalur metabolisme
karbohidrat, telah dibicarakan faktor-faktor yang mempe-ngaruhi kerja enzim.
Secara keseluruhan akan ditinjau
dengan singkat, terutama pengaruh keadaan kelaparan, diabetes melitus dan pada
pemberian makanan yang tinggi karbohidrat.
11.4.1.Pada
keadaan kelaparan.
Pada keadaan kelaparan, enzim-enzim utama dari
glikolisis, HMP shunt dan glikogenesis aktifitasnya menurun, sebaliknya
aktifitas enzim-enzim utama dari glukoneogenesis dan glikogenolisis meningkat.
Diharapkan mahasiswa meninjau kembali jalur-jalur karbohidrat terutama enzim
kunci, enzim-enzim yang dipengaruhi oleh keadaan nutrisi (dalam hal ini kadar
substrat). Perhatikan gambar-26 ! Tulislah kembali jalur demi jalur kemudian
rangkaikan semuanya.
Sebagai petunjuk perhatikan :
-pengaruh glukosa 6-fosfat
-pengaruh fruktosa 1,6-bisfosfat.
-pengaruh macam-macam kofaktor (
ATP, AMP, cAMP dll )
-enzim-enzim kunci pada tiap-tiap
jalur
-hubungan jalur satu dengan lainnya
(senyawa tertentu dari satu jalur mempengaruhi jalur yang lain).
Enzim-enzim utama glikolisis adalah :
Glukokinase, heksokinase,
fosfofruktokinase (1,2) dan piruvat kinase.
Enzim-enzim utama HMP shunt adalah:
Glukosa 6-fosfat dehidrogenase dan 6
fosfoglukonat dehidrogenase.
Enzim utama glikogenesis adalah glikogen
sintetase.
Enzim utama glikogenolisis adalah
glikogen fosforilase.
Enzim-enzim utama glukoneogenesis adalah:
Piruvat karboksilase, fosfoenolpiruvat
karboksikinase, fruktosa 1,6 bisfosfatase dan glukosa 6 fosfatase.
11.4.2.Pada
keadaan Diabetes Melitus.
Aktifitas enzim-enzim tersebut di atas mirip dengan
keadaan kelaparan.
11.4.2.Pada
pemberian makanan tinggi karbohidrat.
Pada keadaan ini terjadi yang sebaliknya, aktifitas enzim-enzim
glikolisis, HMP shunt dan glikogenesis meningkat, sedangkan aktifitas
enzim-enzim utama glukoneogenesis dan glikogenolisis menurun.
Latihan
/ cek lis :
1.Perhatikan
paragraf 13.4.1. lakukanlah apa yang diminta !
2.Pelajari
lagi enzim-enzim kunci dalam tiap-tiap jalur !
Catatan
:
12.GLUKOSA DARAH
12.1.Glukosa darah pada orang
normal biasanya berkisar antara 50 mg - 100 mg per 100 ml, tergantung pada
makanan, waktu pengambilan darah bila dihubungkan dengan waktu makan, aktivitas
dan keadaan emosi (state of exitement).
Beberapa mekanisme dalam tubuh
bekerja untuk mengatur glukosa darah agar berada pada konsentrasi tersebut di
atas. Glukosa dapat dipakai oleh semua sel dalam tubuh. Setelah makan akan
terjadi penimbunan glukosa dalam tubuh, misalnya dalam hepar, otot, jaringan lemak, dan terjadi peningkatan oksidasi. Sedangkan
dalam keadaan puasa ataupun keadaan darurat, akan terjadi pengambilan glukosa
dari cadangan makanan dalam tubuh, hingga glukosa darah berkisar pada
konsentrasi yang dapat ditolerir tubuh.
12.2.Sumber
glukosa darah.
Glukosa darah
berasal dari :
12.2.1..Karbohidrat
dalam makanan.
12.2.2.Hasil
dari proses glukoneogenesis.
12.2.3.Dari
pemecahan glikogen dalam hepar.
ad.12.2.1. Karbohidrat dalam makanan:
Sebagian besar karbohidrat
dalam makanan akan membentuk glukosa, galaktosa dan fruktosa yang diserap dan
masuk ke vena porta. Galaktosa dan fruktosa bisa diubah menjadi glukosa dalam
hati.
ad.12.2.2.
Hasil dari proses glukoneogenesis:
Glukoneogenesis bisa dibagi menjadi
dua yaitu:
-Yang bisa langsung diubah menjadi glukosa, seperti
asam amino dan asam propionat.
-Senyawa (metabolit) yang
merupakan hasil metabolisme parsial glukosa, yang perlu dibawa ke hati atau ke
ginjal di mana akan diubah menjadi glukosa. Sebagai contoh,asam laktat hasil
oksidasi glukosa dalam otot dan sel darah merah akan dibawa ke hati dan ginjal
untuk diubah menjadi glukosa. Glukosa yang terbentuk akan masuk ke dalam
peredaran darah untuk bisa dipakai lagi oleh jaringan. Siklus ini disebut Cori
cycle atau "lactic acid cycle" (gambar-29). Contoh yang lain misalnya
gliserol yang diperlukan untuk sintesis triasilgliserol dalam jaringan lemak tidak
bisa dipakai oleh jaringan ini, akan tetapi akan dibawa ke hepar, dan bisa
diubah menjadi glukosa.
Telah diketahui bahwa asam amino, sebagian besar
alanin, pada waktu kelaparan diangkut
dari otot menuju ke hati. Ini menyebabkan timbulnya suatu postulat akan adanya
suatu siklus glukosa-alanin, di mana terjadi suatu siklus glukosa dari hepar
menuju ke otot dan alanin dari otot menuju ke hepar yang menghasilkan hasil
netto adanya pemindahan alanin dari otot ke hepar dan "free energy"
dari hepar ke otot. "Energy" atau tenaga yang diperlukan untuk
membuat glukosa dari asam piruvat berasal dari oksidasi asam lemak ( gambar-29
).
ad.12.2.3.Dari
pemecahan glikogen dalam hepar:
Telah dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya.
Apabila kadar glukosa
darah rendah, misalnya pada keadaan puasa, maka hepar merupakan sumber utama
glukosa. Ini bisa berasal dari glikogenolisis atau glukoneogenesis. Apabila
kadar glukosa darah meningkat seperti pada waktu makan, akan terjadi
pengambilan glukosa oleh hati, dan akan terjadi glikogenesis.
Enzim-enzim yang
terlibat dalam pengaturan proses tersebut di atas telah dibicarakan dalam
bab-bab yang bersangkutan.
Latihan
/ cek lis :
1.Apa
saja yang dapat mempengaruhi kada glukosa darah ?
2.Tulislah
rangkaian reaksi mulai dari kadar glukosa darah turun hingga terbentuknya
glukosa !
Tip : Kadar glukosa darah turun hormon
glukagon disekresi pankreas, mengaktifkan adenilil
sikalse dan seterusnya.
Catatan
:
13.DAFTAR KEPUSTAKAAN
1.Bondy
P.K. and Rosenberg L.E. : Duncan's
Diseases of Metabolism Genetic Metabolism and Endocrino-logy. Seventh Ed. Asian
Ed. W.B. Saunder Comp. Igaku Shoin Ltd. Tokyo
1974. pp 245 - 250.
2.Devlin T.M. : Texbook of Biochemistry with
Clinical correlation. Third Ed. John Wiley &
Son Pub. Singapore. 1992. pp 351, 1077 -
1081
3.Lehninger
A.L., Nelson D.L and Cox M.M : Principles of Biochemistry. Second Ed. Worth
Publ. Inc. New York. 1993. pp 298, 598-599
4.Murry
R.M., Granner D.K., Mayes P.A. and Rodwell V.W.: Harper's Biochemistry.
Twenty-sixthth Edition. Appleton & Lance. Englewood Cliffs. New Jersey. USA. 2003. pp 122 – 129, 136 – 172.
5.Robert
G.P dkk : Harrison's Principles of Internal
Medicine. Tenth Ed. International Student Edition. McGrawHill Book Copm. Tokyo.
1985 pp 1873
6.Rypier's
Medical Licensure Examination. 13th Ed. J.P. Lippincott Comp. Phil. 1981. pp
245 - 261.
Posting Komentar
GOOD MEDICAL STUDENT NOW
GOOD MEDICAL DOCTOR TOMORROW