0
CERPEN UNTUK LEARNING ART BY KURNIATI FAJAR YANTO
Learning Art Senin, 6 Januari 2014
RASA PERMEN
NANO-NANO
VERSI ANAK
KEDOKTERAN
SAAT BERADA PADA BLOK BIOETIK DAN
BIOMEDIK BAGIAN ANATOMI
CERPEN : KISAH MAHASISWA BARU FAKULTAS KEDOKTERAN
TEMA : PENGALAMAN DI FAKULTAS KEDOKTERAN FK_UMI
KATEGORI : NON FIKSI, UMUM (PENGALAMAN PRIBADI)
SUDUT PANDANG : ORANG PERTAMA (SAYA)
PENULIS : KURNIATI FAJAR
YANTO (NHIA)
STAMBUK : 110 213 0045
RASA
PERMEN NANO-NANO VERSI ANAK KEDOKTERAN
Dokter
mungkin jadi sebagian besar cita-cita waktu kita masih kecil. Yah, seperti
halnya dalam sebuah lagu Susan, Susan, Susan, besok gede mau jadi apa? Aku kepingin
pinter, biar jadi dokter. (Masih ingat lagu ini?) atau sebuah iklan Cila kalau besar mau jadi apa? Jadi Dokter,
supaya bisa ngobatin teman cila yang sakit.
#Masih ingat dong...
Hmm,
sebuah cita-cita yang mulia untuk menjadi seseorang yang bermanfaat buat orang
lain. Ingat masa
kecil, pasti
kebanyakan anak kecil jika
ditanya "kalau sudah besar Mau
jadi apa?"..
pasti jawabannya
"Dokter".. [Jawab dengan penuh kebanggaan J]..
semua orang berbondong-bondong mau jadi dokter, salah satunya saya. Saya bercita-cita menjadi seorang
dokter sejak TK, dan alhamdulillah di tahun 2013 ini cita-cita itu tercapai walau
sempat gagal di tahun 2012.
ketika
pertama kali saya menginjakkan kaki di Fakultas Kedokteran saya merasakan
perasaan haru, was-was dan rasa bahagia bercampur menjadi satu, meskipun tahun
lalu saya gagal melanjutkan study di fakultas ini sehingga saya menghabiskan
waktu selama setahun belajar di fakultas lain dan masih di universitas yang
sama, namun akhirnya berkat kerja keras dan doa orang tua, saya dapat menapaki
langkah baru menjadi seorang mahasiswi Fakultas Kedoktran (FK), itu berarti
saya harus bersungguh-sungguh menggapai cita-cita menjadi Dokter karena tuhan
telah memberikan kepada saya kesempatan emas ini untuk dimanfaatkan
sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya.
Sekarang saya menjalankan kuliah di Fakultas Kedokteran
Universitas Muslim Indonesia di kota Makassar, ini adalah salah satu
Universitas Swasta terbaik di Indonesia, sudah 3 bulan saya menjalani status baru menjadi mahasiswi Fakultas
Kedokteran Universitas Muslim Indonesia, rasanya bagai naik ke puncak gunung tertinggi, mengarungi samudra,
menelusuri hutan lebat, terbang ke langit ketujuh (bagian ini terlalu
berlebihan) saking senangnya. J .Intinya
seperti rasa permen Nano-Nano
(Manis, Asam, Asin ramai rasanya), kenapa? Karena suka, duka, senang, susah, sedih, dan
bahagia bergabung menjadi satu dan dirasakan bersama-sama dengan teman seangkatan
(sejawat) tentunya
disini saya belajar banyak hal. Melalui
pembuatan cerpen ini saya akan menceritakan sedikit mengenai pengalaman saya
saat berinteraksi di dunia kedokteran dan tentunya pengalaman saya yang lain,
Yang akan saya ceritakan sesaat lagi. J
Menjadi seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran, itu
susah-susah-senang. mungkin ini adalah uneg-uneg pribadi saya karena kayaknya tidak semua mahasiswa FK merasakan hal
yang sama seperti apa yang saya rasakan. saat ini saya masih berada pada semester
awal, belum masuk ke rumah sakit, tapi walaupun masih mahasiswa
pre-klinik (belum menjadi co-ass, apalagi lulus dokter), saya
sudah banyak ditanya tentang kesehatan, penyakit, obat, dan cinta (eh, yang
terakhir ini bercanda kok) hehe. banyak orang yang menganggap bahwa
mahasiswa FK (semester
berapapun, walau itu masih mahasiswa baru), sudah harus kompeten tentang semua
penyakit-obat-tatalaksana-komplikasi. saat sedang ada kumpul keluarga, lebaran,
nikahan, reuni angkatan, atau acara lainnya, tidak jarang akan ada sesi tanya-jawab dadakan seputar
kesehatan. bahkan, saat saya baru dinyatakan lulus menjadi mahasiswa FK,
beberapa orang sudah mulai banyak bertanya tentang ini-itu. yang lebih sesuatu,
adalah jika ada sms /twitter/message facebook yang menananyakan tentang berbagai
penyakit.
“Nhia kalau luka bakar karena knalpot
atau kena siraman air panas, obatnya apa? Bisa dioles kecap gak?” ucap Anty
(teman saya semasa SMA) atau
“Nhia, kepalaku pusing nih. kira-kira ada tumor
gak?” Tanya salah satu sepupku
dan yang lebih ekstrim “nhia kayaknya aku
kanker deh soalnya rambutku sering rontok, iyakan?” Tanya salah seorang tetanggaku
kalau
yang menanyakan tentang diagnosis penyakit, biasanya saya akan bilang “periksa
ke dokter aja ya“. saya lakukan ini bukan karena pelit ilmu, tapi karena
dalam menentukan diagnosis pasti, dibutuhkan pemeriksaan lanjutan setidaknya
pemeriksaan fisik. tidak sekedar tulisan. Bisa terjadi
kesalahan, kalau misalnya saya dengan sok pintar mendiagnosis, misalnya kanker nasofaring pada orang yang
mimisan, padahal belum dilakukan pemeriksaan. karena sangat mungkin, mimisan
tersebut dikarenakan sering ngupil. saya bukan “orang pintar” yang sudah
bisa menentukan penyakit hanya dengan sms ketik reg spasi nhia sekali-dua kali (apalagi status
saya masih mahasiswa pre-klinik, MABA pula). salah seorang dosen saya berkata,
“Dokter itu bukan ‘orang pintar’. kalau ‘orang pintar’, ya berarti dukun atau sekalian
minum tolak angin.”
Nah, banyak mahasiswa Fakultas Kedokteran
juga terkenal narsis. Contohnya saat diawal-awal maba, dan saat mulai banyak praktikum, kami sering pamer foto dengan jas lab putih. Hahaha
betul-betul narsis dan saya salah satunya. Ngomong-ngomong soal praktikum, saya
akan menceritakan sedikit pengalaman praktikum saya di lab anatomi, praktikum
anatomi adalah suatu kegiatan dimana kami belajar dengan mayat yang sudah
diawetkan menggunakan formalin yang biasa kami sebut dengan kadaver
“Hai kak daver” ucap salah seorang teman
nonmedisku saat asisten lab memperkenalkannya
“bukan!..” ucapku protes
kadaver ini adalah mayat yang diawetkan untuk
dipelajari, itu bertujuan untuk mengamati semua organ mereka, seram ya? Tentu
saja, apalagi saat saya pertama kali masuk ke dalam lab anatomi dengan aroma
formalin yang kuat, buat yang belum pernah menghirup aroma pekat formalin,
silahkan bayangkan teman anda menyalurkan lada melalui sedotan yang dimasukkan
paksa ke dalam lubang hidung, kemudian menaburkan merica ke mata, tapi ini
adalah salah satu praktikum yang keren sebab kami bisa belajar setiap organ secara
detail mulai dari kulit luar hingga pembuluh darah setipis senar gitar yang
memperdarahi jantung, kesan yang saya dapatkan selama mempelajari
manusia-manusia awet dan potongan-potongannya cukup bervariasi, perasaan ngeri
jelas ada, bagaimanapun juga potongan tangan, kaki, kepala, dan bagian tubuh
manusia lainnya bukan merupakan pemandangan yang umum ditemukan sehari-hari,
mungkin perasaan itu beda jika kalian ternyata seorang pembunuh berantai yang
hobi memutilasi korban, Sering saya khawatir bahwa pendidikan di fakultas
kedokteran berisiko mengubah seorang manusia menjadi pembunuh berdarah dingin,
belum lagi bila kadaver yang ditampilkan masih dalam bentuk utuh dari kepala
hinga ujung kaki seperti manusia biasa yang berbaring, bedanya manusia biasa
yang berbaring tidak memiliki perut yang terbuka dengan usus terburai keluar.
Dan menurut saya itu keren apalagi
setelah melewati praktikum ini membuat saya bisa bercerita dengan bangga kepada
orang tua, teman-teman, ketua RT setempat, mantan pacar sampai mantan pacarnya
teman (ini berlebihan). Saat itu saya sedang bercerita dengan sepupu-sepupu
saya saat pertemuan keluarga bahwa saya telah serunya terjun ke dunia
kedokteran,
dan saya bisa mendengarkan mereka
berkata “ayo cerita lagi” ucap mereka
dengan sangat penasaran
sebuah keseruan tersendiri akan
memuncak ketika mendengar mereka berkata
“ihhh.. ngeri ya”, semua itu membuat
saya lebih kebal dengan hal-hal yang menyeramkan dan menjijikan.
beberapa kali saya menonton film horor
dengan teman atau keluarga saya dan ketika muncul adegan sadis yang mengerikan
dengan darah di sana sini dan organ manusia yang tercerai berai, saya tetap sok
cool dengan wajah datar, setelah itu
pasti ada yang komentar,
kali ini yang komentar adalah tanteku “kamu sudah sering liat mayat ya? Jadi dak
takut lagi liat kayak gitu” ucapnya terlihat bangga padaku
sebagai respon atas pertanyaan itu,
saya hanya tertawa-tawa bodoh, pasalnya saya bisa berani seperti itu juga karena
jaga gengsi, kalau saya nonton film itu sendirian, mungkin saya sudah mematikan
televisi, memakai sumbat telinga, mengunci semua pintu dan bersembunyi di kamar
bertabur selimut dengan lampu menyala terang benderang, tidak lupa saya
mendengar soundtrack pembuka film doraemon agar malam itu menjadi lebih ceria.
praktikum ini juga mengajarkan salah
satu bahasa paling elegan di dunia yaitu bahasa Latin, sebuah fakta yang
mengagumkan bahwa tiap organ tubuh memiliki nama dalam bahasa latin, bahkan
sampai tulang sekecil beras dan pembuluh darah setipis bihun, hal yang tak
kalah mengagumkan adalah dengan bergeser beberapa milimeter saja kita dapat
menemukan struktur dengan nama yang sudah berbeda, ini keren! dengan belajar
bahasa latin membuat saya bisa terlihat keren di depan teman non medis,
bayangkan suatu situasi dimana seorang teman non medis meminta untuk
mengucapkan sesuatu dalam bahasa latin,
“Nhia
pasti kamu tahu banyak dong tentang bahasa latin tubuh, wah keren, coba ucapkan
satu kata aja” pinta salah seorang teman nonmedis terlihat sangat penasaran
Kemudian dengan bercandaan saya
menyebutkan “gluteus maximus” dan
pihak pendengar langsung meleleh karena kagum
“Oh
so sweet keren banget bahasa latinnya, saya saja susah nyebutinnya loh” ucapnya
kagum
di sisi lain teman medis akan segera
tahu bahwa itu adalah prilaku tidak senonoh dengan menyebutkan kata “pantat”
didepan umum, belajar bahasa latin juga dapat menyampaikan informasi yang
memalukan kepada teman medis di tempat umum tanpa khawatir akan malu, contohnya
saat sedang berada di angkot kemudian tiba-tiba saya dan teman medis mencium
aroma kurang sedap
maka saya akan bertanya kepada teman
medis saya, “kamu mencium bau platus?” (platus
: kentut)
dan teman medis akan mengerti maksudku “ia nih, kayaknya saya juga mencium bau
platus jangan-jangan kamu ya yang platus” ucapnya mengejek, nah kalau
seperti ini saya yakin hanya saya, tuhan dan teman medis saya yang tahu kalau
kami sedang membicarakan tentang aroma platus.
atau saat sedang makan di kantin, tiba-tiba
mengatakan “aduh, saya mengalami pruritus
daerah axila nih”, walau demikian saya ragu, apa saya harus benar-benar
menyampaikan “ketek saya gatal” saat sedang makan.
Dengan belajar anatomi saya bisa
memiliki salah satu buku paling keren di dunia yaitu atlas anatomi, bila saya
menggabungkan atlas anatomi SOBOTTA tiga jilid dan SPALTEHOLZ dua jilid, maka saya bisa menjadikan display picture BBM “buku bacaan saya di Fakultas
kedokteran nih” upload foto buku tebalnya. Tidak usah pusing memikirkan kapan membaca buku yang
keren tersebut, saya termasuk salah satu orang yang membeli buku itu tanpa
pernah sempat membacanya sampai habis.
Pernah bermain dengan anak kecil dengan bertanya
“coba tunjuk mana hidung?, mana kuping
kanan? Mana perut?” permainan ini terulang lagi saat saya menjadi mahasiswa
fakultas kedokteran semester awal, dimana ketika menghadapi ujian praktikum
anatomi, saya diminta menyebutkan nama latin dari salah satu organ kadaver yang
ditunjuk sebuah tanda panah dan bendera kecil yang ditancap menggunakan jarum
pada organ kadaver tersebut, misalnya di atas meja terdapat sebuah potongan
bagian tubuh kadaver dengan jarum pentul bendera kecil bertuliskan nomor yang tertancap
pada bagian paha kadaver tersebut dan di meja itu juga terdapat kertas soal
yang bertuliskan pertanyaan “nama otot yang ditunjuk jarum pentul adalah
...”bila menjawab “paha” kemungkinan besar dosen anatomi akan mengirimkan
mahasiswa tersebut kembali ke kelas 5 SD, atau bahkan di kirim ke tempat
pelayanan makanan ayam crispy.
Sering kali terjadi teman-teman sejawat
saya lupa bahasa latin dari organ yang ditunjuk dalam ujian tersebut walau
sebenarnya mereka tahu, namun karena bahasa latin membuat lidah terbelit
sehingga terkadang dilupa, bila menghadapi kejadian seperti itu hanya ada dua
hal yang bisa dilakukan karena saya pernah melakukannya, pertama mencoba
berfikir sekeras mungkin dalam waktu 45 detik sambil berharap teman imajiner
akan membisikkan jawaban. Kedua, mungkin hanya bisa tertawa melihat peserta
ujian di meja sebelah sambil mengamati wajah lucu mereka yang sedang
kebingungan karena soal selanjutnya tampaknya sangat sulit, sebab setelah 45 detik ada tanda berupa bel
yang dibunyikan dan mereka akan pindah ke meja ujian selanjutnya. (silahkan
membayangkan sendiri raut wajah kebingugan).
******
Kuliah di Fakultas Kedokteran selain
diajarkan mengenai ilmu saintik kami juga diajarkan mengenai ilmu sosial dan
seni serta mendapat Latihan Dasar Kader (LDK), Tak hanya diLatih Dasar Kader sampai Seniorita dan
jiwa kebersamaan/kesejawatan,
namun juga mendalami tentang humaniora dan Etika kedokteran, ini membuat
pendidikan dokter itu seru sebab sudah mencakup semua ilmu bahkan ilmu agama pun
sangat dijunjung tinggi.
Seperti
yang diterangkan oleh Prof.Dr.dr.H. Syarifuddin
Wahid Sp.P.A (ayahanda dekan Fakultas Kedokteran UMI dan juga mengajar pada
Blok Bioetik), dokter
merupakan the noble profession (profesi yang mulia), Menjadi seorang dokter, berarti “tekan kontrak” untuk selalu memberikan
pelayanan kepada masyarakat. dan
yang
diterangkan oleh Dr.dr. H. Nasruddin Sp.OG (Ayahanda wakil dekan 3 Fakultas
Kedokteran UMI dan juga mengajar pada blok Bioetik), dokter merupakan the helping profession (profesi penolong) Menjadi seorang dokter, berarti
bersedia selalu berusaha sekuat tenaga untuk menolong pasien. Maka dari itu,
dokter adalah profesi, dan bukan termasuk kategori “mata pencaharian”. Begitupun yang diterangkan oleh Prof.Dr.dr. Samsu (Ketua
Tim Bioetik FK UNHAS dan salah satu dosen yang mengajar pada blok Bioetik di FK
UMI) Doctor: to cure
sometimes, to relieve often, to comfort always {Hippocrates} yang artinya
(terkadang untuk menyembuhkan, sering untuk meredakan, selalu untuk menghibur)
Serta yang diterangkan oleh dr. Hj Shulhana Mokhtar (salah satu the best dosen
FK UMI yang mengajarkan tentang Humaniora bagian blok bioetik ) yang mengatakan
Dokter adalah sebuah profesi yang
unik, gabungan antara sains dan sosial,
perpaduan antara seni dan keilmuan.
Kami tidak hanya diajari tentang penyakit,
pemeriksaan, ataupun pengobatan, tapi juga diasah tentang kemampuan berkomunikasi dan
membina hubungan dengan pasien. Hal ini menjadi penting karena dokter tidak
berhadapan dengan mesin seperti seorang teknisi, namun berhadapan dengan
seorang manusia dengan berbagai kepribadian dan keunikannya. Tapi, dokter juga
tidak asal berkomunikasi, dia tetap dituntut untuk selalu mengasah otak demi
kesembuhan pasiennya (salah satu tugas wajib dokter adalah belajar sepanjang hayat).
“…dan
apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku” (QS. Asy-Syu’araa: 80) yang masih
saya ingat di benakku
“Apakah
dokter bisa menyembuhkan penyakit?” sempat pertanyaan ini melintas dibenakku
Tidak.
Dokter tidak bisa menyembuhkan penyakit karena dokter bukanlah Tuhan, namun dokter adalah seorang manusia
yang sudah menghabiskan tahun-tahunnya untuk belajar berbagai penyakit dan
pengobatan. Dengan demikian, dokter diharapkan mampu menerapkan keilmuannya
untuk berikhtiar menjadi perantara kesembuhan dari Allah untuk pasien. Dokter
juga tidak hanya berperan untuk mengatasi berbagai keluhan yang dirasakan
pasien, lebih dari itu, dokter berperan
untuk “memanusiakan manusia”. Tugas utama dokter tidak hanya sekedar
menyembuhkan atau menghilangkan keluhan, tugas utamanya adalah memberikan
kehangatan dan ketenangan; to cure sometimes, to relieve often, to comfort
always.(hippocrates)
Apalagi saat pertama kali saya memasuki
blok Bioetik ini, sempat terjadi kasus kriminalisasi dokter, jujur saat itu saya sangat gerah dengan pemberitaan
media ataupun oknum masyarakat yang terlalu menyudutkan seorang dokter. Tentu saya
gerah sebab saya sebagai calon dokter juga ikut merasakan hal itu. Rasanya
ingin saya menyampaikan pada mereka bahwa “Ingatlah,
hubungan dokter-pasien adalah insparing verbintenis (perjanjian usaha),
bukan resultaa verbintenis (perjanjian hasil). Dokter
tidak bisa menjanjikan kesembuhan, tapi dokter akan selalu berusaha maksimal”. Dokter akan dicap pembunuh saat tak
bisa menyelamatkan nyawa, padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga. Dokter
dijadikan “sapi perah”,
yang digunakan untuk melancarkan program pemerintah ataupun meningkatkan pamor
oknum politisi semata. Namun disaat dokter meminta haknya, dia akan dicemooh
karena dianggap materialistis dan egois.
Selama
di blok Bioetik ini, saya banyak bertemu pasien saat observasi
lapangan dengan berbagai penyakit infeksi,
mulai dari TBC (tuberkulosis), hepatitis, dan juga HIV/AIDS terutama
berbagai pasien penyakit mata mulai dari penyakit strabismus yang diderita seorang anak bernama Keysa yang masih
berumur 14 bulan, penyakit katarak yang diderita oleh pak M. Arsyad yang telah
berusia 54 tahun dan akan segera dioperasi bagian matanya, dan seorang ibu
berusia paruh baya yang bercerita tentang penyakit mata ganas yang ia derita
serta anaknya yang terinveksi virus HIV.
Pasien
yang mempunyai penyakit infeksi, rentan untuk mengalami isolasi sosial karena
masyarakat bahkan keluarganya, takut tertular
penyakit. Tak ada yang mau berinteraksi dengan mereka, tak ada yang mau
berdekatan dengan mereka, bahkan tak ada yang mau menemani mereka bertukar cerita.
Namun, itulah esensi menjadi seorang (calon) dokter,
bagaimana kita “memanusiakan manusia” dengan tetap memperlakukan pasien sebagai
manusia, apapun penyakitnya. Sehingga, empati merupakan hal yang mutlak untuk
dikuasai oleh dokter, sehingga saya sebagai calon dokter harus mampu merasakan berada dalam posisi pasien. Tentu dokter
adalah profesi yang sangat mulia sebab ia tak dapat digantikan dengan apapun
sekalipun dengan robot.
Suatu
hari nanti saat semua pekerjaan sudah
digantikan dengan robot, mungkin dokter adalah salah satu profesi yang tak bisa
digantikan oleh robot karena Robot
mungkin bisa melakukan berbagai pemeriksaan untuk mencari penyakit, namun robot
tak bisa menggantikan senyuman tulus dokter kepada pasiennya. Robot mungkin
bisa menebak penyakit dari hasil pemeriksaan darah, namun robot tak bisa
menjadi tempat curhat dan menanggapi cerita pasien tentang rumah ataupun
keluarganya. Robot mungkin juga bisa memberikan obat yang sesuai dengan
penyakit, namun robot tak bisa memberikan sentuhan tangan hangat saat seorang
ibu menangis menceritakan anaknya yang terkena AIDS dan dirinya
terkena salah satu penyakit mata yang ganas yaitu retinoblastoma.
“Oh ia ngomong-ngomong soal AIDS, saya juga tetap tak habis pikir dengan program membagikan kondom
gratis untuk mencegah HIV-AIDS. Kondom tak akan melindungi dari HIV secara
sempurna. Bahkan dengan adanya kondom gratis, akan meningkatkan keinginan
masyarakat untuk mencoba zina. HIV-AIDS itu penyakit yang mematikan dan merepotkan.
Dalam sehari, pasien HIV-AIDS setidaknya harus meminum 6 macam obat. Belum lagi
kalau dia juga terkena infeksi lain seperti TBC, jamur otak, meningitis otak,
dan lain sebagainya. Seorang pasien bahkan harus meminum puluhan pil
dalam sehari, selama
sisa hidupnya. Jadi, jangan gadaikan kebahagiaan hidupmu hanya dengan
kesenangan dunia semu” #StopHIVAIDS
#TolakPekanKondomNasional
Sungguh perasaan saya saat melakukan observasi tersebut seperti rasa permen nano-nano (manis, asam,
asin ramai rasanya), saya merasa senang karena alhamdulillah saya telah melakukan observasi dengan baik, merasa
deg-degan saat berbicara dengan dokter, merasa sedih mendengar cerita pasien
yang menceritakan penyakit yang dideritanya, harapan saya semoga semua pasien
klinik spesialis mata Celebes Eye Center Orbita (tempat
saya melakukan observasi) setelah berobat di klinik tersebut semuanya merasa
senang tanpa ada kekecewan dan segera lekas sembuh Amin J, terkhusus buat Keysa, tetap memberikan senyum manismu dek, dan pak
M.Arsyad semoga operasinya berjalan lancar dan segera sembuh Amin J, juga buat ibu paruh baya jangan sedih lagi ya bu, semoga cepat sembuh dan
diberikan ketabahan dalam menjalani ujian Allah, yakinlah bahwa semua yang
diberikan tuhan kepada kita pasti ada hikmahnya, dan yakinlah bu kalau semua
akan indah pada waktunya.Amin J
Susah ya jadi mahasiswa kedokteran?
Memang gak gampang, tapi bukan berarti gak bisa dijalanin. Jalani dengan hati
dan hanya karena Allah. Toh,
saya juga masih bisa nulis cerpen, ini salah satu cerpen saya hehe. Hayo, jangan mau kalah
sama Susan dan Cila ..
Intinya “Jadilah good medical student NOW and good
medical doctor TOMORROW “(DMN)
