0

CERPEN UNTUK LEARNING ART BY KURNIATI FAJAR YANTO

Posted by nhia on 01.32 in ,




Learning Art                                                       Senin, 6 Januari 2014
                                                                  

                         
RASA PERMEN NANO-NANO
VERSI ANAK KEDOKTERAN
SAAT BERADA PADA BLOK  BIOETIK DAN BIOMEDIK BAGIAN ANATOMI


                         

    CERPEN         : KISAH MAHASISWA BARU FAKULTAS KEDOKTERAN
                 TEMA             : PENGALAMAN DI FAKULTAS KEDOKTERAN FK_UMI
             KATEGORI   : NON FIKSI, UMUM (PENGALAMAN PRIBADI)
             SUDUT PANDANG : ORANG PERTAMA (SAYA)
                          PENULIS      : KURNIATI FAJAR YANTO (NHIA)
                         STAMBUK     : 110 213 0045


RASA PERMEN NANO-NANO VERSI ANAK KEDOKTERAN
Dokter mungkin jadi sebagian besar cita-cita waktu kita masih kecil. Yah, seperti halnya dalam sebuah lagu Susan, Susan, Susan, besok gede mau jadi apa? Aku kepingin pinter, biar jadi dokter. (Masih ingat lagu ini?) atau sebuah iklan Cila kalau besar mau jadi apa? Jadi Dokter, supaya bisa ngobatin teman cila yang sakit.
#Masih ingat dong...
Hmm, sebuah cita-cita yang mulia untuk menjadi seseorang yang bermanfaat buat orang lain. Ingat masa kecil, pasti kebanyakan anak kecil jika ditanya "kalau sudah besar Mau jadi apa?"..  pasti jawabannya "Dokter".. [Jawab dengan penuh kebanggaan J].. semua orang berbondong-bondong mau jadi dokter, salah satunya saya. Saya bercita-cita menjadi seorang dokter sejak TK, dan alhamdulillah di tahun 2013 ini cita-cita itu tercapai walau sempat gagal di tahun 2012.
ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Fakultas Kedokteran saya merasakan perasaan haru, was-was dan rasa bahagia bercampur menjadi satu, meskipun tahun lalu saya gagal melanjutkan study di fakultas ini sehingga saya menghabiskan waktu selama setahun belajar di fakultas lain dan masih di universitas yang sama, namun akhirnya berkat kerja keras dan doa orang tua, saya dapat menapaki langkah baru menjadi seorang mahasiswi Fakultas Kedoktran (FK), itu berarti saya harus bersungguh-sungguh menggapai cita-cita menjadi Dokter karena tuhan telah memberikan kepada saya kesempatan emas ini untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya.
Sekarang saya menjalankan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia di kota Makassar, ini adalah salah satu Universitas Swasta terbaik di Indonesia, sudah 3 bulan saya menjalani status baru menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia, rasanya bagai naik ke puncak gunung tertinggi, mengarungi samudra, menelusuri hutan lebat, terbang ke langit ketujuh (bagian ini terlalu berlebihan) saking senangnya. J .Intinya seperti rasa permen Nano-Nano (Manis, Asam, Asin ramai rasanya), kenapa? Karena suka, duka, senang, susah, sedih, dan bahagia bergabung menjadi satu dan dirasakan bersama-sama dengan teman seangkatan (sejawat) tentunya disini saya belajar banyak hal. Melalui pembuatan cerpen ini saya akan menceritakan sedikit mengenai pengalaman saya saat berinteraksi di dunia kedokteran dan tentunya pengalaman saya yang lain, Yang akan saya ceritakan sesaat lagi. J
Menjadi seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran, itu susah-susah-senang. mungkin ini adalah uneg-uneg pribadi saya karena kayaknya tidak semua mahasiswa FK merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan. saat ini saya masih berada pada semester awal, belum masuk ke rumah sakit, tapi walaupun masih mahasiswa pre-klinik (belum menjadi co-ass, apalagi lulus dokter), saya sudah banyak ditanya tentang kesehatan, penyakit, obat, dan cinta (eh, yang terakhir ini bercanda kok) hehe. banyak orang yang menganggap bahwa mahasiswa FK (semester berapapun, walau itu masih mahasiswa baru), sudah harus kompeten tentang semua penyakit-obat-tatalaksana-komplikasi. saat sedang ada kumpul keluarga, lebaran, nikahan, reuni angkatan, atau acara lainnya, tidak jarang akan ada sesi tanya-jawab dadakan seputar kesehatan. bahkan, saat saya baru dinyatakan lulus menjadi mahasiswa FK, beberapa orang sudah mulai banyak bertanya tentang ini-itu. yang lebih sesuatu, adalah jika ada sms /twitter/message facebook yang menananyakan tentang berbagai penyakit.
“Nhia kalau luka bakar karena knalpot atau kena siraman air panas, obatnya apa? Bisa dioles kecap gak?” ucap Anty (teman saya semasa SMA) atau
Nhia, kepalaku pusing nih. kira-kira ada tumor gak?” Tanya salah satu sepupku
 dan yang lebih ekstrim “nhia kayaknya aku kanker deh soalnya rambutku sering rontok, iyakan? Tanya salah seorang tetanggaku
 kalau yang menanyakan tentang diagnosis penyakit, biasanya saya akan bilang “periksa ke dokter aja ya“. saya lakukan ini bukan karena pelit ilmu, tapi karena dalam menentukan diagnosis pasti, dibutuhkan pemeriksaan lanjutan setidaknya pemeriksaan fisik. tidak sekedar tulisan. Bisa terjadi kesalahan, kalau misalnya saya dengan sok pintar mendiagnosis, misalnya kanker nasofaring pada orang yang mimisan, padahal belum dilakukan pemeriksaan. karena sangat mungkin, mimisan tersebut dikarenakan sering ngupil. saya bukan “orang pintar” yang sudah bisa menentukan penyakit hanya dengan sms ketik reg spasi nhia sekali-dua kali (apalagi status saya masih mahasiswa pre-klinik, MABA pula). salah seorang dosen saya berkata, “Dokter itu bukan ‘orang pintar’. kalau ‘orang pintar’, ya berarti dukun atau sekalian minum tolak angin.”
Nah, banyak mahasiswa Fakultas Kedokteran juga terkenal narsis. Contohnya saat diawal-awal maba, dan saat  mulai banyak praktikum, kami sering pamer foto dengan jas lab putih. Hahaha betul-betul narsis dan saya salah satunya. Ngomong-ngomong soal praktikum, saya akan menceritakan sedikit pengalaman praktikum saya di lab anatomi, praktikum anatomi adalah suatu kegiatan dimana kami belajar dengan mayat yang sudah diawetkan menggunakan formalin yang biasa kami sebut dengan kadaver
 “Hai kak daver” ucap salah seorang teman nonmedisku saat asisten lab memperkenalkannya
“bukan!..” ucapku protes
 kadaver ini adalah mayat yang diawetkan untuk dipelajari, itu bertujuan untuk mengamati semua organ mereka, seram ya? Tentu saja, apalagi saat saya pertama kali masuk ke dalam lab anatomi dengan aroma formalin yang kuat, buat yang belum pernah menghirup aroma pekat formalin, silahkan bayangkan teman anda menyalurkan lada melalui sedotan yang dimasukkan paksa ke dalam lubang hidung, kemudian menaburkan merica ke mata, tapi ini adalah salah satu praktikum yang keren sebab kami bisa belajar setiap organ secara detail mulai dari kulit luar hingga pembuluh darah setipis senar gitar yang memperdarahi jantung, kesan yang saya dapatkan selama mempelajari manusia-manusia awet dan potongan-potongannya cukup bervariasi, perasaan ngeri jelas ada, bagaimanapun juga potongan tangan, kaki, kepala, dan bagian tubuh manusia lainnya bukan merupakan pemandangan yang umum ditemukan sehari-hari, mungkin perasaan itu beda jika kalian ternyata seorang pembunuh berantai yang hobi memutilasi korban, Sering saya khawatir bahwa pendidikan di fakultas kedokteran berisiko mengubah seorang manusia menjadi pembunuh berdarah dingin, belum lagi bila kadaver yang ditampilkan masih dalam bentuk utuh dari kepala hinga ujung kaki seperti manusia biasa yang berbaring, bedanya manusia biasa yang berbaring tidak memiliki perut yang terbuka dengan usus terburai keluar.
Dan menurut saya itu keren apalagi setelah melewati praktikum ini membuat saya bisa bercerita dengan bangga kepada orang tua, teman-teman, ketua RT setempat, mantan pacar sampai mantan pacarnya teman (ini berlebihan). Saat itu saya sedang bercerita dengan sepupu-sepupu saya saat pertemuan keluarga bahwa saya telah serunya terjun ke dunia kedokteran,
dan saya bisa mendengarkan mereka berkata “ayo cerita lagi” ucap mereka dengan sangat penasaran
sebuah keseruan tersendiri akan memuncak ketika mendengar mereka  berkata “ihhh.. ngeri ya”, semua itu membuat saya lebih kebal dengan hal-hal yang menyeramkan dan menjijikan.
beberapa kali saya menonton film horor dengan teman atau keluarga saya dan ketika muncul adegan sadis yang mengerikan dengan darah di sana sini dan organ manusia yang tercerai berai, saya tetap sok cool dengan wajah datar, setelah itu pasti ada yang komentar,
kali ini yang komentar adalah tanteku “kamu sudah sering liat mayat ya? Jadi dak takut lagi liat kayak gitu” ucapnya terlihat bangga padaku
sebagai respon atas pertanyaan itu, saya hanya tertawa-tawa bodoh, pasalnya saya bisa berani seperti itu juga karena jaga gengsi, kalau saya nonton film itu sendirian, mungkin saya sudah mematikan televisi, memakai sumbat telinga, mengunci semua pintu dan bersembunyi di kamar bertabur selimut dengan lampu menyala terang benderang, tidak lupa saya mendengar soundtrack pembuka film doraemon agar malam itu menjadi lebih ceria.
praktikum ini juga mengajarkan salah satu bahasa paling elegan di dunia yaitu bahasa Latin, sebuah fakta yang mengagumkan bahwa tiap organ tubuh memiliki nama dalam bahasa latin, bahkan sampai tulang sekecil beras dan pembuluh darah setipis bihun, hal yang tak kalah mengagumkan adalah dengan bergeser beberapa milimeter saja kita dapat menemukan struktur dengan nama yang sudah berbeda, ini keren! dengan belajar bahasa latin membuat saya bisa terlihat keren di depan teman non medis, bayangkan suatu situasi dimana seorang teman non medis meminta untuk mengucapkan sesuatu dalam bahasa latin,
Nhia pasti kamu tahu banyak dong tentang bahasa latin tubuh, wah keren, coba ucapkan satu kata aja” pinta salah seorang teman nonmedis terlihat sangat penasaran
Kemudian dengan bercandaan saya menyebutkan “gluteus maximus” dan pihak pendengar langsung meleleh karena kagum
Oh so sweet keren banget bahasa latinnya, saya saja susah nyebutinnya loh” ucapnya kagum
di sisi lain teman medis akan segera tahu bahwa itu adalah prilaku tidak senonoh dengan menyebutkan kata “pantat” didepan umum, belajar bahasa latin juga dapat menyampaikan informasi yang memalukan kepada teman medis di tempat umum tanpa khawatir akan malu, contohnya saat sedang berada di angkot kemudian tiba-tiba saya dan teman medis mencium aroma kurang sedap
maka saya akan bertanya kepada teman medis saya, “kamu mencium bau platus?” (platus : kentut)
dan teman medis akan mengerti maksudku “ia nih, kayaknya saya juga mencium bau platus jangan-jangan kamu ya yang platus” ucapnya mengejek, nah kalau seperti ini saya yakin hanya saya, tuhan dan teman medis saya yang tahu kalau kami sedang membicarakan tentang aroma platus.
atau saat sedang makan di kantin, tiba-tiba mengatakan “aduh, saya mengalami pruritus daerah axila nih”, walau demikian saya ragu, apa saya harus benar-benar menyampaikan “ketek saya gatal” saat sedang makan.
Dengan belajar anatomi saya bisa memiliki salah satu buku paling keren di dunia yaitu atlas anatomi, bila saya menggabungkan atlas anatomi SOBOTTA tiga jilid dan SPALTEHOLZ dua jilid, maka saya bisa menjadikan  display picture BBM “buku bacaan saya di Fakultas kedokteran nih” upload foto buku tebalnya. Tidak usah pusing memikirkan kapan membaca buku yang keren tersebut, saya termasuk salah satu orang yang membeli buku itu tanpa pernah sempat membacanya sampai habis.
 Pernah bermain dengan anak kecil dengan bertanya “coba tunjuk mana hidung?, mana kuping kanan? Mana perut?” permainan ini terulang lagi saat saya menjadi mahasiswa fakultas kedokteran semester awal, dimana ketika menghadapi ujian praktikum anatomi, saya diminta menyebutkan nama latin dari salah satu organ kadaver yang ditunjuk sebuah tanda panah dan bendera kecil yang ditancap menggunakan jarum pada organ kadaver tersebut, misalnya di atas meja terdapat sebuah potongan bagian tubuh kadaver dengan jarum pentul bendera kecil bertuliskan nomor yang tertancap pada bagian paha kadaver tersebut dan di meja itu juga terdapat kertas soal yang bertuliskan pertanyaan “nama otot yang ditunjuk jarum pentul adalah ...”bila menjawab “paha” kemungkinan besar dosen anatomi akan mengirimkan mahasiswa tersebut kembali ke kelas 5 SD, atau bahkan di kirim ke tempat pelayanan makanan ayam crispy.
Sering kali terjadi teman-teman sejawat saya lupa bahasa latin dari organ yang ditunjuk dalam ujian tersebut walau sebenarnya mereka tahu, namun karena bahasa latin membuat lidah terbelit sehingga terkadang dilupa, bila menghadapi kejadian seperti itu hanya ada dua hal yang bisa dilakukan karena saya pernah melakukannya, pertama mencoba berfikir sekeras mungkin dalam waktu 45 detik sambil berharap teman imajiner akan membisikkan jawaban. Kedua, mungkin hanya bisa tertawa melihat peserta ujian di meja sebelah sambil mengamati wajah lucu mereka yang sedang kebingungan karena soal selanjutnya tampaknya sangat sulit,  sebab setelah 45 detik ada tanda berupa bel yang dibunyikan dan mereka akan pindah ke meja ujian selanjutnya. (silahkan membayangkan sendiri raut wajah kebingugan).
******
Kuliah di Fakultas Kedokteran selain diajarkan mengenai ilmu saintik kami juga diajarkan mengenai ilmu sosial dan seni serta mendapat Latihan Dasar Kader (LDK), Tak hanya diLatih Dasar Kader sampai Seniorita dan jiwa kebersamaan/kesejawatan, namun juga mendalami tentang humaniora  dan Etika kedokteran, ini membuat pendidikan dokter itu seru sebab sudah mencakup semua ilmu bahkan ilmu agama pun sangat dijunjung tinggi.
Seperti yang diterangkan oleh Prof.Dr.dr.H. Syarifuddin Wahid Sp.P.A (ayahanda dekan Fakultas Kedokteran UMI dan juga mengajar pada Blok Bioetik), dokter merupakan the noble profession (profesi yang mulia), Menjadi seorang dokter, berarti “tekan kontrak” untuk selalu memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan yang diterangkan oleh Dr.dr. H. Nasruddin Sp.OG (Ayahanda wakil dekan 3 Fakultas Kedokteran UMI dan juga mengajar pada blok Bioetik), dokter merupakan the helping profession (profesi penolong) Menjadi seorang dokter, berarti bersedia selalu berusaha sekuat tenaga untuk menolong pasien. Maka dari itu, dokter adalah profesi, dan bukan termasuk kategori “mata pencaharian”. Begitupun yang diterangkan oleh Prof.Dr.dr. Samsu (Ketua Tim Bioetik FK UNHAS dan salah satu dosen yang mengajar pada blok Bioetik di FK UMI)  Doctor: to cure sometimes, to relieve often, to comfort always {Hippocrates} yang artinya (terkadang untuk menyembuhkan, sering untuk meredakan, selalu untuk menghibur) Serta yang diterangkan oleh dr. Hj Shulhana Mokhtar (salah satu the best dosen FK UMI yang mengajarkan tentang Humaniora bagian blok bioetik ) yang mengatakan Dokter adalah sebuah profesi yang unik, gabungan antara sains dan sosial, perpaduan antara seni dan keilmuan.
 Kami tidak hanya diajari tentang penyakit, pemeriksaan, ataupun pengobatan, tapi juga diasah tentang kemampuan berkomunikasi dan membina hubungan dengan pasien. Hal ini menjadi penting karena dokter tidak berhadapan dengan mesin seperti seorang teknisi, namun berhadapan dengan seorang manusia dengan berbagai kepribadian dan keunikannya. Tapi, dokter juga tidak asal berkomunikasi, dia tetap dituntut untuk selalu mengasah otak demi kesembuhan pasiennya (salah satu tugas wajib dokter adalah belajar sepanjang hayat).
“…dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku” (QS. Asy-Syu’araa: 80) yang masih saya ingat di benakku
Apakah dokter bisa menyembuhkan penyakit? sempat pertanyaan ini melintas dibenakku
Tidak. Dokter tidak bisa menyembuhkan penyakit karena dokter bukanlah Tuhan, namun dokter adalah seorang manusia yang sudah menghabiskan tahun-tahunnya untuk belajar berbagai penyakit dan pengobatan. Dengan demikian, dokter diharapkan mampu menerapkan keilmuannya untuk berikhtiar menjadi perantara kesembuhan dari Allah untuk pasien. Dokter juga tidak hanya berperan untuk mengatasi berbagai keluhan yang dirasakan pasien, lebih dari itu, dokter berperan untuk “memanusiakan manusia”. Tugas utama dokter tidak hanya sekedar menyembuhkan atau menghilangkan keluhan, tugas utamanya adalah memberikan kehangatan dan ketenangan; to cure sometimes, to relieve often, to comfort always.(hippocrates)
Apalagi saat pertama kali saya memasuki blok Bioetik ini, sempat terjadi kasus kriminalisasi dokter, jujur saat itu saya sangat gerah dengan pemberitaan media ataupun oknum masyarakat yang terlalu menyudutkan seorang dokter. Tentu saya gerah sebab saya sebagai calon dokter juga ikut merasakan hal itu. Rasanya ingin saya menyampaikan pada mereka bahwa Ingatlah, hubungan dokter-pasien adalah insparing verbintenis (perjanjian usaha), bukan resultaa verbintenis (perjanjian hasil). Dokter tidak bisa menjanjikan kesembuhan, tapi dokter akan selalu berusaha maksimal”. Dokter akan dicap pembunuh saat tak bisa menyelamatkan nyawa, padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga. Dokter dijadikan “sapi perah, yang digunakan untuk melancarkan program pemerintah ataupun meningkatkan pamor oknum politisi semata. Namun disaat dokter meminta haknya, dia akan dicemooh karena dianggap materialistis dan egois.
Selama di blok Bioetik ini, saya banyak bertemu pasien saat observasi lapangan dengan berbagai penyakit infeksi, mulai dari TBC (tuberkulosis), hepatitis, dan juga HIV/AIDS terutama berbagai pasien penyakit mata mulai dari penyakit strabismus yang diderita seorang anak bernama Keysa yang masih berumur 14 bulan, penyakit katarak yang diderita oleh pak M. Arsyad yang telah berusia 54 tahun dan akan segera dioperasi bagian matanya, dan seorang ibu berusia paruh baya yang bercerita tentang penyakit mata ganas yang ia derita serta anaknya yang terinveksi virus HIV.
Pasien yang mempunyai penyakit infeksi, rentan untuk mengalami isolasi sosial karena masyarakat bahkan keluarganya, takut tertular penyakit. Tak ada yang mau berinteraksi dengan mereka, tak ada yang mau berdekatan dengan mereka, bahkan tak ada yang mau menemani mereka bertukar cerita. Namun, itulah esensi  menjadi seorang (calon) dokter, bagaimana kita “memanusiakan manusia” dengan tetap memperlakukan pasien sebagai manusia, apapun penyakitnya. Sehingga, empati merupakan hal yang mutlak untuk dikuasai oleh dokter, sehingga saya sebagai calon dokter harus mampu merasakan berada dalam posisi pasien. Tentu dokter adalah profesi yang sangat mulia sebab ia tak dapat digantikan dengan apapun sekalipun dengan robot.
Suatu hari nanti saat semua pekerjaan sudah digantikan dengan robot, mungkin dokter adalah salah satu profesi yang tak bisa digantikan oleh robot karena Robot mungkin bisa melakukan berbagai pemeriksaan untuk mencari penyakit, namun robot tak bisa menggantikan senyuman tulus dokter kepada pasiennya. Robot mungkin bisa menebak penyakit dari hasil pemeriksaan darah, namun robot tak bisa menjadi tempat curhat dan menanggapi cerita pasien tentang rumah ataupun keluarganya. Robot mungkin juga bisa memberikan obat yang sesuai dengan penyakit, namun robot tak bisa memberikan sentuhan tangan hangat saat seorang ibu menangis menceritakan anaknya yang terkena AIDS dan dirinya terkena salah satu penyakit mata yang ganas yaitu retinoblastoma.
“Oh ia ngomong-ngomong soal AIDS, saya juga tetap tak habis pikir dengan program membagikan kondom gratis untuk mencegah HIV-AIDS. Kondom tak akan melindungi dari HIV secara sempurna. Bahkan dengan adanya kondom gratis, akan meningkatkan keinginan masyarakat untuk mencoba zina. HIV-AIDS itu penyakit yang mematikan dan merepotkan. Dalam sehari, pasien HIV-AIDS setidaknya harus meminum 6 macam obat. Belum lagi kalau dia juga terkena infeksi lain seperti TBC, jamur otak, meningitis otak,  dan lain sebagainya. Seorang pasien bahkan harus meminum puluhan pil dalam sehari, selama sisa hidupnya. Jadi, jangan gadaikan kebahagiaan hidupmu hanya dengan kesenangan dunia semu #StopHIVAIDS #TolakPekanKondomNasional
Sungguh perasaan saya saat melakukan observasi tersebut seperti rasa permen nano-nano (manis, asam, asin ramai rasanya), saya merasa senang karena alhamdulillah saya telah melakukan observasi dengan baik, merasa deg-degan saat berbicara dengan dokter, merasa sedih mendengar cerita pasien yang menceritakan penyakit yang dideritanya, harapan saya semoga semua pasien klinik spesialis mata Celebes Eye Center Orbita (tempat saya melakukan observasi) setelah berobat di klinik tersebut semuanya merasa senang tanpa ada kekecewan dan segera lekas sembuh Amin J, terkhusus buat Keysa, tetap memberikan senyum manismu dek, dan pak M.Arsyad semoga operasinya berjalan lancar dan segera sembuh Amin J, juga buat ibu paruh baya jangan sedih lagi ya bu, semoga cepat sembuh dan diberikan ketabahan dalam menjalani ujian Allah, yakinlah bahwa semua yang diberikan tuhan kepada kita pasti ada hikmahnya, dan yakinlah bu kalau semua akan indah pada waktunya.Amin J
Susah ya jadi mahasiswa kedokteran? Memang gak gampang, tapi bukan berarti gak bisa dijalanin. Jalani dengan hati dan hanya karena Allah. Toh, saya juga masih bisa nulis cerpen, ini salah satu cerpen saya hehe. Hayo, jangan mau kalah sama Susan dan Cila ..

Intinya “Jadilah good medical student NOW and good medical doctor TOMORROW “(DMN)











Copyright © 2009 CATATAN KULIAH kurNHIAti (Medical Student) All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.